Advertisement
IMF Sebut untuk Jangka Waktu Menengah, Ekonomi Asia Pasifik Alami Tantangan Berat
IMF. - Binis Indonesia
Advertisement
Harianjogja.com, SINGAPURA—International Monetary Fund (IMF) memandang kondisi ekonomi global masih akan menantang bagi negara-negara di kawasan Asia dan Pasifik. Setidaknya dalam jangka waktu menengah.
Dalam laporan bertajuk Regional Economic Outlook: Asia and Pacific, IMF melihat bank sentral di seluruh dunia makin memperketat kebijakan moneter mereka, meskipun penurunan harga komoditas global setelah mencapai puncaknya pada 2022 seharusnya mendukung terjadinya deflasi. Meskipun pembukaan kembali ekonomi di Asia seusai meredanya pandemi cenderung lebih lambat dibandingkan dengan kawasan lain, Asia masih diuntungkan oleh lonjakan permintaan domestik. Namun, permintaan eksternal memang telah melambat secara signifikan. IMF menilai hal ini disebabkan pergeseran permintaan global dari barang ke jasa dan penurunan siklus teknologi yang lebih kuat dari yang diharapkan.
Advertisement
Baca Juga: Begini Hasil Uji IMF Terkait Ketahanan Bank di Indonesia
Pada kuartal pertama tahun ini, pertumbuhan di kawasan Asia dan Pasifik secara umum melebihi ekspektasi, sedangkan kuartal kedua menghadapi kejutan dari berbagai sisi. Pertumbuhan yang kuat dalam konsumsi swasta mendukung pertumbuhan ekonomi, karena rumah tangga di Asia cenderung menghabiskan sebagian dari tabungan berlebih mereka yang terkumpul selama pandemi.
Dorongan dari pembukaan kembali ekonomi China pada paruh pertama tahun ini juga melebihi ekspektasi. Selain itu, permintaan swasta yang kuat menghasilkan pertumbuhan positif yang mengejutkan di India. Pertumbuhan di Jepang juga melampaui ekspektasi, didorong oleh permintaan dalam negeri yang kuat serta lonjakan ekspor mobil akibat normalisasi rantai pasokan. Untuk negara-negara pengekspor barang di kawasan ini, seperti negara-negara Asean, Korea, Provinsi Taiwan, dan China, cenderung mengalami tekanan karena ekonomi global kini beralih orientasinya menuju ke jasa.
Baca Juga: Entaskan Kemiskinan, IMF Harapkan Bantuan Indonesia, Kok Bisa?
Data terbaru IMF menunjukkan momentum pertumbuhan yang melambat di seluruh kawasan Asia dan Pasifik. Di China, pemulihan ekonomi semakin melemah, dengan manufacturing purchasing managers’ indexes (MPI) memasuki area kontraksi mulai April hingga Agustus dan kondisi di sektor properti semakin melemah. Meskipun beberapa negara di kawasan ini telah mendapat manfaat dari peningkatan kedatangan turis China, aktivitas pariwisata keluar masyarakat China sejatinya belum sepenuhnya pulih. Investasi tetap melemah, yang kemungkinan mencerminkan pelemahan permintaan eksternal dan siklus teknologi. Saat ini mulai ada tanda-tanda jelas penurunan ekonomi dalam investasi, dengan perbedaan yang mencolok dibanding tren sebelum pandemi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Pertamina Jaga Distribusi Energi Jawa Tengah-DIY Selama Nataru
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp51.650 per Kilogram
- Generasi Muda Diingatkan Pentingnya Insting Wirausaha
- Pariwisata DIY Siaga Cuaca Ekstrem Jelang Natal dan Tahun Baru
- IPO Perusahaan DIY Mundur, BEI Ungkap Kendalanya
- Bank Indonesia: Ekonomi DIY 2026 Diproyeksi Tumbuh hingga 5,7 Persen
- BEI Yogyakarta Apresiasi 7 Galeri Investasi Terbaik 2025
- Jerman Diprediksi Tumbuh Tipis, IMF Ingatkan Butuh Reformasi Besar
Advertisement
Advertisement




