Advertisement
BI Upayakan Terjaganya Stabilitas Sistem Keuangan
Bank Indonesia (BI) kembali meluncurkan Buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) edisi 41 dan Seminar Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). - Istimewa.
Advertisement
JOGJA—Bank Indonesia (BI) kembali meluncurkan Buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) Edisi 41 dan Seminar Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Kegiatan tersebut diselenggarakan di Hotel Alila, Solo Senin, (23/10/23).
Peserta yang hadir antara lain perwakilan dari Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Pemerintah Daerah, ISEI, Perbankan/Lembaga Keuangan dan Akademisi. "Stabilitas Sistem Keuangan [SSK] harus diupayakan tetap terjaga dengan sinergi dan kolaborasi antara Bank Indonesia dengan seluruh pemangku kepentingan," jelas Deputi Gubernur BI, Juda Agung.
Advertisement
BACA JUGA : BI Rate 6%, Ada Kemungkinan Suku Bunga KPR Naik
Menurut Juda, dalam menjaga SSK terdapat tantangan yaitu meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Ketidakpastian tersebut muncul dampak dari kondisi politik di Timur Tengah (konflik Palestina dan Israel) dan belum berakhirnya konflik Rusia dengan Ukrania. Kondisi tersebut mendorong naiknya harga energi dan harga pangan dunia, termasuk di Indonesia.
Ketidakpastian itu juga mendorong Bank Sentral AS menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut berdampak pada volatilitas arus modal asing yang gilirannya mendorong melemahnya nilai tukar (kurs) Rupiah (Rp) terhadap Dollar AS. Salah satu upaya Bank Indonesia agar nilai tukar stabil maka suku bunga acuan (BI7DRR) pada bulan Oktober dinaikkan sebesar 0,25 bps menjadi 6,00%.
“Stabilitas kurs diperlukan untuk mendukung SSK”, tegas Yuda Agung.
Tantangan ke depan adalah kebijakan yang berfokus pada stabilitas makroekonomi dan stabilitas keuangan dengan tetap memperhatikan momentum pertumbuhan ekonomi. “Stabilitas makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan saling interdepedensi”, jelas Solikin M. Juhro Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI.
Menurut Solikin, kedua variabel saling bergantung, artinya stabilitas makroekonomi membutuhkan stabilitas keuangan dan sebaliknya stabilitas keuangan membutuhkan stabilitas makroekonomi. Dalam forum seminar tersebut, Solikin menyatakan dukungan KLM untuk: (1) hilirisasi non-minerba atau pangan (pertanian, perikanan dan peternakan). (2) Kredit untuk ultra mikro. (3) Pembiayaan inklusif dan hijau.
Arah bauran kebijakan BI dilaksanakan dengan sinergi memperkuat ketahanan dan kebangkitan ekonomi. “Dengan ketidakpastian global yang tinggi, kebijakan moneter tetap diarahkan pada stabilitas [pro-stability," ujarnya.
BACA JUGA : Pertama di Indonesia, GoPay dan Bank Jago Gabungkan Keunggulan E-Money dan Perbankan
Selanjutnya kebijakan makroprudensial, dilaksanakan melalui digitalisasi sistem pembayaran, pendalaman pasar uang, serta pengembangan UMKM dan ekonomi keuangan syariah untuk pertumbuhan ekonomi (pro-growth).
Kegiatan peluncuran buku dan seminar tersebut, juga dihadiri oleh perwakilan anggota Forkom APIK BI (Forum Komunikasi Akademisi Penulis Kebijakan BI), yaitu Nugroho SBM (Guru Besar FEB UNDIP), Doddy Setyawan (Guru Besar FEB UNS), Wahyu Widodo (FEB UNDIP), Imron Rosyadi (FEB UMS), Rudy Badrudin (STIE YKPN), Suparmono (STIM YKPN) dan Y. Sri Susilo (FBE UAJY).
“Perwakilan anggota Forkom APIK BI hadir atas undangan dari Departemen Komunikasi BI”, kataY. Sri Susilo dalam rilisnya kepada media.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Teror Clurit Dini Hari di Bantul, Motor Pelaku Ditinggal di Jetis
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- Trump Teken Tarif Baru untuk Negara Terkait Iran
- Bank BPD DIY-BPJS Ketenagakerjaan Luncurkan Kanal Iuran Terintegrasi
- Honda Perkenalkan All New Vario 125 Series di Jogja, Segini Harganya
- Pendapatan Negara di DIY 2025 Tembus Rp9,56 Triliun, Ini Datanya
- Bulog Salurkan Bantuan Beras untuk 33,2 Juta KPM Mulai Ramadan 2026
- Harga Emas Pegadaian Menguat Pagi Ini, UBS Sentuh Rp2,97 Juta per Gram
- WEF Prediksi 10 Pekerjaan Ini Paling Berisiko Lenyap Sebelum 2030
Advertisement
Advertisement



