Advertisement

BI Optimistis Ketahanan dan Kebangkitan Ekonomi Terus Berlanjut

Media Digital
Kamis, 30 November 2023 - 20:47 WIB
Mediani Dyah Natalia
BI Optimistis Ketahanan dan Kebangkitan Ekonomi Terus Berlanjut Foto bersama dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2023 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Rabu (29/11/2023). (Harian Jogja - Anisatul Umah)

Advertisement

JOGJA—Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2023 kembali digelar di Kantor Pusat BI dan serentak di berbagai Kantor Perwakilan BI, termasuk BI DIY pada Rabu (29/11/203) malam. Pertemuan ini dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Menteri Kabinet Indonesia Maju, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga para bankir.

Presiden Joko Widodo menyampaikan saat ini dunia sedang tidak baik-baik saja. Banyak isu domestik di berbagai negara yang berdampak pada global, seperti inflasi di Amerika Serikat (AS) yang diikuti suku bunga yang tinggi, kemudian di China terjadi perlambatan ekonomi dan krisis properti.

Advertisement

Tensi geopolitik global juga meningkat tanpa bisa diprediksi, seperti perang Ukraina, dan Gaza. Kondisi ini berdampak pada terganggunya rantai pasok global, gangguan harga pangan, lonjakan harga energi, dan lainnya. "Saya ingin sampaikan ucapan terima kasih atas sinergi yang terbangun selama ini. BI, Kemenkeu, OJK, LPS, pemda, dan swasta, sehingga proses pemulihan ekonomi kita dapat berjalan dengan baik, dan stabilitas ekonomi kita juga pada posisi yang tetap stabil," kata Presiden.

Jokowi juga menyoroti kondisi perubahan iklim yang dampaknya semakin dirasakan. Produksi pangan menurun dan ada 22 negara yang membatasi ekspor pangan. "Dulu saat kita impor beras, semua negara menawarkan stok. Sekarang 22 negara menghentikan ekspor dan membatasi ekspor pangan. Tapi alhamdulillah dan patut disyukuri, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tetap tumbuh dan stabil yakni di kisaran lima persen," kata Presiden.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengungkapkan dunia memang sedang bergejolak, adanya perang dagang AS-China, perang Rusia-Ukraina, dan kini Israel-Palestina. Fragmentasi geopolitik berdampak pada fragmentasi geoekonomi, akibatnya prospek ekonomi global meredup pada 2024 sebelum bersinar di 2025.

Gejolak global berdampak negatif ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi ini perlu disikapi dengan respons kebijakan yang tepat, demi menjaga ketahanan dan kebangkitan ekonomi nasional yang sudah susah payah dibangun."Alhamdulillah kita bersyukur ekonomi nasional berdaya, tahan dari pandemi Covid-19, dari gejolak global, kuncinya sinergi. Karena masalah berat dan kompleks tidak mungkin dihadapi sendiri. Perlu kerja sama dan koordinasi. The power of we. Bersatu kita kuat dan terus bangkit," katanya.

Melalui sinergi yang apik diharapkan ekonomi Indonesia 2024-2025 akan menunjukkan ketahanan dan kebangkitan pertumbuhan cukup tinggi. Di kisaran 4,7%-5,5% pada 2024, dan meningkat lagi menjadi 4,8%-5,6% pada 2025. "Konsumsi dan investasi akan meningkat didukung kenaikan gaji aparatur sipil negara [ASN], Pemilu, infrastruktur di Ibu Kota Nusantara (IKN) selain ekspor dari hilirisasi," ucapnya.

Kemudian, inflasi ditargetkan akan tetap terkendali di 2,5% plus minus 1% pada 2024 dan 2025. Melalui berbagai upaya seperti konsistensi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, serta kuatnya pengendalian inflasi pangan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). DIY Hadapi Tiga Tantangan Ekonomi Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Heru Saptaji mengatakan di tengah optimisme mencapai ketahanan dan pertumbuhan ekonomi, setidaknya masih ada tiga tantangan utama yang akan dihadapi DIY dan perlu diwaspadai. Pertama, masih adanya ketidakpastian ekonomi global yang berpotensi berdampak pada wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke DIY.

Kedua, potensi tekanan inflasi domestik yang tinggi, khususnya dari sisi suplai dari komoditas pasokan energi dan pangan. Berpotensi semakin kuat akibat ketegangan politik dan geoekonomi. Ketiga, kinerja investasi memiliki peran penting dalam perekonomian DIY, sehingga diperlukan peranan semua pihak untuk mendukung pembiayaan usaha dan investasi, serta dorongan bagi investasi yang berkelanjutan.

"Berdasarkan hasil kinerja ekonomi DIY, sepanjang 2023 ini kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi DIY pada akhir tahun akan tetap resilience pada range 4,6 persen hingga 5,4 persen [year-on-year/yoy]. Pertumbuhan ekonomi ini juga diperkirakan akan berlanjut pada 2024 yang akan memasuki range 4,8 persen hingga 5,6 persen yoy," ucapnya.

Ada tiga rekomendasi untuk memperkuat ketahanan dan pertumbuhan ekonomi DIY, di antaranya perlu penguatan lapangan usaha utama untuk menjaga resiliensi ekonomi DIY. Pariwisata sebagai urat nadi perekonomian DIY perlu dioptimalkan seiring dengan pembangunan jalan tol untuk menciptakan quality tourism.

Kemudian memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam merumuskan langkah antisipatif pengendalian inflasi. Dan selanjutnya penguatan iklim investasi untuk mendorong peningkatan multiplier effect pada perekonomian daerah. "Ke depan kami berharap penguatan iklim investasi dapat didorong melalui rumusan regulasi daerah dan pemetaan potensi daerah," katanya. (***)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

BMKG: Hujan Lebat Diprediksi Terjadi di Seluruh Kota Termasuk Jogja

Jogja
| Sabtu, 24 Februari 2024, 08:07 WIB

Advertisement

alt

Pelancong Masuk ke Thailand Diwajibkan Bawa Uang Tunai Minimal Rp6,7 Juta

Wisata
| Jum'at, 23 Februari 2024, 17:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement