Daya Beli Melemah, Ini Strategi UMKM DIY Bertahan dan Tumbuh
Daya beli melemah, UMKM DIY dituntut beradaptasi. Jumlah usaha mencapai 347.744 unit, sementara KUR tersalur Rp3,31 triliun hingga Juli 2026.
Pertumbuhan ekonomi - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menyebut dampak El Nino diperkirakan masih akan berpengaruh pada perekonomian DIY di Triwulan I 2024. Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati mengatakan dari sektor pertanian harus bisa membaca dan memanfaatkan musim dengan sebaik-baiknya.
"Mungkin di Triwulan I 2024 juga masih ada ekornya El Nino, artinya belum benar-benar normal," ucapnya, Rabu (7/2/2024).
Beberapa hal yang perlu diperhitungkan di sektor pertanian seperti memilih komoditas-komoditas yang tepat dengan kondisi curah hujan saat ini. "Ini menjadi salah satu yang patut diperhitungkan untuk usaha tani di DIY," katanya.
Menurutnya, selain tanaman pangan, peternakan dan hortikultura seperti cabai, bawang, dan buah-buahan juga menjadi penyumbang sektor pertanian.
Ekonomi DIY pada triwulan IV 2023 secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar tumbuh 4,86%. Bank Indonesia (BI) Perwakilan DIY menyampaikan beberapa faktor pendorong ekonomi DIY di triwulan IV di antaranya penghapusan PPKM sejak 2022, sehingga mendorong ekonomi DIY sepanjang 2023, termasuk pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Kepala Perwakilan BI DIY, Ibrahim mengatakan faktor lain pendorong ekonomi DIY adalah persiapan pelaksanaan kampanye di akhir tahun dan berlanjutnya proyek strategis nasional (PSN). Seperti pelabuhan di Gunungkidul, proyek tol Jogja-Solo, dan jembatan Srandakan II.
"Meski demikian, kinerja positif ekonomi tertahan oleh pengaruh dinamika cuaca yang menyebabkan mundurnya masa panen komoditas hortikultura dan ketidakpastian kondisi perekonomian yang menahan permintaan ekspor, serta mempengaruhi kinerja industri pengolahan," jelasnya.
Sementara pertumbuhan ekonomi DIY secara keseluruhan 2023 tumbuh 5,07% yoy. Ibrahim menyebut capaian ini menjadi yang tertinggi se-Jawa dan lebih tinggi dari nasional. Faktor pendorong perekonomian sepanjang 2023 di antaranya permintaan domestik yang masih kuat disertai dengan kenaikan pendapatan UMP 2023.
Kenaikan APBD perubahan yang berdampak pada belanja pemerintah, serta masih berlanjutnya pembangunan PSN. Meski demikian, kinerja positif pada periode laporan tertahan oleh pengaruh dinamika ketidakpastian geopolitik di tengah konflik yang berlangsung.
"Faktor lain, Fenomena El-Nino yang terjadi juga mempengaruhi produksi pertanian. Berdasarkan perkembangan tersebut, maka pertumbuhan ekonomi DIY 2023 relatif melambat dari tahun 2022 yang tumbuh 5,15% yoy," katanya.
EKonomi DIY 2024 diperkirakan masih akan tumbuh positif kisaran 4,8-5,6% yoy. Beberapa tantangan kondisi ekonomi global maupun domestik perlu diantisipasi agar dapat mencapai ekonomi DIY yang berkualitas dan berkesinambungan.
"Sinergi dan kolaborasi antara pemerintah daerah (Pemda), BI, dan instansi terkait lainnya akan terus diperkuat guna meningkatkan perekonomian DIY."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Daya beli melemah, UMKM DIY dituntut beradaptasi. Jumlah usaha mencapai 347.744 unit, sementara KUR tersalur Rp3,31 triliun hingga Juli 2026.
Pemkab Bantul mulai menyosialisasikan wajib belajar prasekolah setahun bagi anak usia 5–6 tahun sebagai bagian dari program wajib belajar 13 tahun.
Komisi A DPRD Jogja mendorong adanya kendala pemerintahan digital dan memperkuat audit eksternal untuk meningkatkan layanan publik.
Kapolres Sukoharjo AKBP Andhika Dharma Sena dan tiga personel dinonaktifkan serta diperiksa Propam Polri terkait penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran.
Kajian Celios memperkirakan kerugian kesehatan akibat karhutla 2026 mencapai Rp224,65 triliun, dengan potensi 41,89 juta orang terdampak ISPA.
Pemprov Jawa Tengah mengumpulkan 31.032,44 liter minyak jelantah dari 60.680 ASN dan pegawai BUMD hingga meraih penghargaan MURI.