Advertisement

Ekspor DIY Terkoreksi, Industri Pengolahan Masih Dominan

Anisatul Umah
Jum'at, 09 Januari 2026 - 15:07 WIB
Jumali
Ekspor DIY Terkoreksi, Industri Pengolahan Masih Dominan Foto ilustrasi impor dan eksport. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA — Penurunan ekspor DIY pada November 2025 terutama dipicu kontraksi industri pengolahan, meski sektor ini masih menjadi tulang punggung ekspor daerah.

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat nilai ekspor Daerah Istimewa Yogyakarta pada November 2025 mencapai 46,02 juta dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 11,41% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Advertisement

Penurunan ini utamanya dipicu oleh kontraksi pada sektor industri pengolahan yang turun 8,54% secara tahunan. Meski demikian, secara kumulatif sepanjang Januari–November 2025, total ekspor DIY masih tumbuh positif sebesar 3,86%.

Plt Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati, menjelaskan bahwa struktur ekspor DIY tetap didominasi oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi mencapai 98,65%.

Berdasarkan komoditas, pakaian bukan rajutan beserta aksesorisnya menjadi primadona dengan pangsa 29,86%, disusul pakaian rajutan (20,21%). "Menariknya, komoditas barang dari kulit mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan 9,30% secara tahunan," ujar Herum, Jumat (9/1/2026).

Selama periode Januari–November 2025, tiga negara menjadi tujuan utama ekspor DIY dengan pangsa pasar gabungan mencapai 62,14%:

- Amerika Serikat (AS): Nilai ekspor mencapai 221,87 juta dolar AS, didominasi pakaian dan barang kulit.

- Jerman: Mencapai 56 juta dolar AS, dengan komoditas utama pakaian serta produk gula/kembang gula.

- Jepang: Tercatat sebesar 36,80 juta dolar AS, mencakup produk pakaian hingga perabotan dan alat penerangan.

Di sisi lain, nilai impor DIY pada November 2025 tercatat sebesar 14,89 juta dolar AS, turun 26,18% (yoy). Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya permintaan bahan baku dan penolong seperti kain rajutan serta komponen kereta api.

Tiongkok, Hong Kong, dan Amerika Serikat masih menjadi pemasok utama impor DIY dengan pangsa gabungan 74,57%. "Neraca perdagangan DIY periode Januari–November 2025 tetap surplus, bahkan menguat 16,20 juta dolar AS dibanding periode yang sama tahun lalu," tegas Herum.

Strategi Disperindag DIY Hadapi Penurunan Permintaan Global

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati, menyebut penurunan ekspor pada November dipengaruhi oleh lesunya permintaan global pada sektor pakaian jadi. Terjadi pergeseran tren konsumsi dari segmen mewah ke pakaian yang lebih murah (fast fashion) serta sport fashion.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Disperindag DIY menyiapkan sejumlah langkah strategis:

- Akses Pasar Baru: Melakukan business matching dan kolaborasi dengan Kementerian Perdagangan.

- Diversifikasi Produk: Mendorong ekspor non-pakaian seperti furnitur, kerajinan, dan home decor.

- Penguatan Ekosistem: Memberikan pelatihan, fasilitasi sertifikasi, dan pendampingan untuk menjaga rantai pasok (supply chain).

"Kami memproyeksikan total nilai ekspor kumulatif 2025 dapat meningkat sekitar 5% dibandingkan tahun 2024. Produk kreatif seperti furnitur dan kerajinan memiliki nilai tambah tinggi di pasar global," pungkas Yuna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Cuaca DIY Sabtu 10 Januari 2026 Diprediksi Hujan Ringan

Cuaca DIY Sabtu 10 Januari 2026 Diprediksi Hujan Ringan

Jogja
| Sabtu, 10 Januari 2026, 05:57 WIB

Advertisement

Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest

Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest

Wisata
| Jum'at, 09 Januari 2026, 18:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement