Advertisement

Lonjakan Harga Emas Dorong Minat Investasi Warga DIY Awal 2026

Anisatul Umah
Selasa, 27 Januari 2026 - 05:17 WIB
Sunartono
Lonjakan Harga Emas Dorong Minat Investasi Warga DIY Awal 2026 Produk emas Antam. / Antara

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Harga emas terus mencatatkan tren kenaikan seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan politik global, mulai dari sinyal penurunan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed), pelemahan dolar AS, hingga aksi borong investor dan bank sentral dunia di tengah keterbatasan pasokan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya minat masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menjadikan emas sebagai instrumen investasi.

Kepala Departemen Bisnis Support PT Pegadaian Kanwil XI Semarang, Tyas Ari Hidayat, mengungkapkan minat pembelian emas melalui Pegadaian di wilayah DIY dan sekitarnya menunjukkan tren kenaikan signifikan sejak awal 2026. Berdasarkan data periode 1–25 Januari 2026, Pegadaian wilayah DIY telah menyalurkan 12.358 gram emas dengan rata-rata penyaluran harian mencapai 494,32 gram.

Advertisement

Tyas menjelaskan, angka tersebut mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap emas fisik maupun digital, meskipun harga emas berada di level tinggi. “Masyarakat cenderung tetap membeli untuk tujuan investasi jangka panjang,” ujarnya, Senin (26/1/2026).

Ia menyampaikan, PT Pegadaian Galeri Dua Empat (Galeri 24) sebagai anak usaha PT Pegadaian yang menyediakan layanan jual beli emas batangan ritel sejak 2018, secara aktif memastikan ketersediaan stok emas batangan bersertifikat di seluruh outlet, termasuk di wilayah DIY. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan di tengah volatilitas global.

Untuk produk Cicil Emas, Pegadaian memastikan distribusi dan ketersediaan berjalan lancar. Namun, stok pembelian tunai (cash) di outlet Galeri 24 bervariasi tergantung kondisi masing-masing outlet.

“Terkait ketersediaan stok emas di Pegadaian DI Yogyakarta, kami memastikan produk emas brand Galeri 24 saat ini masih tersedia dan dapat dipenuhi sesuai permintaan nasabah,” jelasnya.

Sementara itu, untuk emas brand Antam, Tyas menyebut Pegadaian belum dapat memastikan ketersediaannya karena pengelolaan berada di luar wilayah dan kewenangan kerja Pegadaian DIY.

Ia menilai, masyarakat yang mulai berinvestasi emas saat ini telah memahami bahwa harga emas cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kesadaran tersebut mendorong masyarakat untuk tidak kehilangan momentum membeli emas sebagai investasi masa depan.

Lebih lanjut, Tyas mengatakan ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik menjadi pendorong utama masyarakat beralih ke emas. Emas dipilih karena berfungsi menjaga nilai uang dari inflasi, memiliki likuiditas tinggi, serta relatif terjangkau secara finansial.

“Keterjangkauan secara finansial telah disadari masyarakat, bahwa investasi emas tidak harus dimulai dari nominal besar, tetapi bisa disesuaikan dengan kemampuan,” tuturnya.

Menurut Tyas, komoditas emas masih memiliki potensi menguat dalam satu hingga dua tahun ke depan. Ketidakpastian ekonomi global, gejolak geopolitik, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, kebijakan suku bunga AS, serta permintaan domestik menjadi faktor penentu arah harga emas di Indonesia.

Oleh karena itu, Pegadaian terus mengajak masyarakat memandang emas sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang, bukan sekadar sarana spekulasi. Upaya ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong inklusi dan literasi keuangan.

Pegadaian mendukungnya dengan menyediakan beragam produk, mulai dari emas fisik dan digital melalui Tabungan Emas, Cicil Emas, Deposito Emas, hingga berbagai skema pembiayaan yang dapat diakses masyarakat lintas usia. “Sehingga potensi emas ke depan masih cukup menjanjikan selama dikelola dengan strategi yang tepat,” katanya.

Sementara itu, pantauan Harianjogja.com menunjukkan stok emas Antam di Butik Emas LM ANTAM Yogyakarta, Jalan Laksda Adisucipto No. 26, Demangan, Kec. Gondokusuman, Kota Jogja, telah kosong sejak Sabtu (24/1/2026).

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menyebut terdapat sejumlah faktor yang mendorong kenaikan harga emas saat ini. Salah satunya adalah ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga The Fed dan pelemahan dolar AS, yang meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven.

Faktor lain, menurut Wisnu, adalah kondisi global yang tidak stabil, mulai dari ketegangan militer hingga sanksi ekonomi, yang memicu permintaan emas sebagai instrumen lindung nilai geopolitik. Selain itu, terjadi peningkatan permintaan dari bank sentral dan Exchange Traded Fund (ETF).

“Bank-bank sentral di negara berkembang aktif menambah cadangan emas, ditambah investor institusi yang semakin agresif membeli melalui ETF,” ujarnya.

Wisnu menambahkan, inflasi dan ketidakpastian pasar saham turut memperkuat posisi emas sebagai pelindung nilai jangka panjang. Ia memperkirakan tren kenaikan harga emas masih berlanjut selama kondisi ekonomi dan politik global belum stabil. Namun, kenaikan suku bunga AS secara signifikan atau penguatan dolar yang tajam berpotensi menekan harga emas.

Ia memaparkan setidaknya empat alasan masyarakat memilih berinvestasi emas, yakni nilainya relatif bertahan dalam jangka panjang, mudah diperjualbelikan, berfungsi sebagai safe haven sekaligus diversifikasi portofolio, serta tidak memiliki risiko pihak ketiga. “Emas fisik bebas risiko gagal bayar pihak ketiga, berbeda dengan obligasi atau aset digital,” tuturnya.

Menurutnya, secara historis harga emas cenderung stabil dan meningkat dalam jangka panjang karena terlindung dari inflasi, deflasi, dan krisis ekonomi. Namun, dalam jangka pendek, fluktuasi tetap terjadi sebagai respons terhadap kebijakan suku bunga dan pergerakan mata uang global seperti dolar AS, euro, dan pound sterling.

Gejolak politik dan ekonomi global, lanjut Wisnu, mendorong masyarakat memperkuat portofolio melalui aset yang lebih stabil seperti emas. Fenomena ini mencerminkan meningkatnya indikator ketidakpastian global. “Banyak masyarakat membeli emas sebagai respons terhadap kebijakan moneter. Investor mencari aset yang aman dari volatilitas,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo. Ia menilai lonjakan harga emas lebih banyak dipicu faktor geopolitik global yang memanas. Dalam kondisi tersebut, investor global cenderung mengalihkan dana ke dolar AS atau emas.

Namun, adanya sinyal penurunan suku bunga The Fed mendorong sebagian investor memindahkan sebagian atau seluruh kepemilikan dolarnya ke emas. Ia menyebut tren Fear of Missing Out (FOMO) turut mendorong lonjakan permintaan emas.

“Beberapa bank sentral juga memborong emas. Permintaan naik, sementara pasokan tidak bisa langsung bertambah. Ini yang membuat harga emas melonjak,” ujarnya.

Sri Susilo menambahkan, penurunan suku bunga The Fed biasanya diikuti pelemahan dolar AS, sehingga investor melakukan pemindahan aset ke emas sebagai langkah antisipatif. Karakter investor pun berbeda, ada yang masuk di awal, tengah, maupun akhir fase peralihan.

Ia menjelaskan, sebagaimana siklus ekonomi lainnya, harga emas tetap mengalami fase naik dan turun. Namun, jika kondisi ekonomi global masih seperti 2025, ditambah konflik di berbagai kawasan serta kebijakan Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak terduga, investor akan semakin bersikap defensif.

“Mulai dari isu menculik Presiden Venezuela hingga rencana mencaplok Greenland, ada kemungkinan investor meninggalkan dolar dan menarik dana ke emas,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Kolaborasi Didorong, Pariwisata DIY Diarahkan Lebih Merata dan Inklusi

Kolaborasi Didorong, Pariwisata DIY Diarahkan Lebih Merata dan Inklusi

Jogja
| Senin, 26 Januari 2026, 23:17 WIB

Advertisement

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Wisata
| Sabtu, 24 Januari 2026, 15:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement