Advertisement

Mobil Listrik China Kuasai Pasar Indonesia, Penjualan Naik 135 Persen

Rizqi Rajendra
Minggu, 29 Maret 2026 - 01:37 WIB
Sunartono
Mobil Listrik China Kuasai Pasar Indonesia, Penjualan Naik 135 Persen BYD Dolphin. - Harian Jogja - Antara

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Pasar kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) di Indonesia menunjukkan taji pada awal tahun 2026. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales mobil listrik nasional pada Februari 2026 meroket hingga 135,8 persen secara tahunan (year-on-year).

Volume distribusi tercatat mencapai 12.272 unit, melonjak drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya berada di angka 5.203 unit. Pertumbuhan pesat ini didorong oleh semakin banyaknya pilihan model dengan harga yang kian kompetitif, bahkan mulai beririsan dengan segmen mobil murah atau LCGC.

Advertisement

Dominasi pabrikan asal China masih belum tergoyahkan di pasar domestik. BYD mengukuhkan posisinya di puncak klasemen melalui model Atto 1 yang mencatatkan penjualan fantastis sebanyak 3.700 unit.

Sejak diperkenalkan pada ajang GIIAS 2025, Atto 1 menjadi primadona baru berkat banderol harganya yang sangat terjangkau, yakni mulai dari Rp199 juta. Strategi harga agresif ini terbukti efektif menarik minat konsumen yang sebelumnya masih ragu untuk beralih dari kendaraan konvensional ke tenaga listrik.

Persaingan di papan atas semakin sengit dengan hadirnya Jaecoo J5 EV dari Grup Chery yang menempati posisi kedua dengan torehan 2.926 unit. Wuling juga tetap menjaga eksistensinya melalui model Darion EV yang terjual 1.019 unit, disusul oleh pendatang baru Geely EX2 yang membukukan 776 unit.

Munculnya berbagai merek baru dengan rentang harga Rp200 jutaan hingga Rp300 jutaan membuat ekosistem kendaraan listrik di Indonesia tumbuh lebih inklusif bagi berbagai lapisan ekonomi masyarakat.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah secara tidak langsung menjadi katalisator percepatan transisi energi di Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik membuat biaya operasional kendaraan konvensional membengkak.

"Kendaraan listrik disebut dapat lebih hemat sekitar 60 persen hingga 70 persen dibandingkan kendaraan konvensional. Artinya, secara struktural BEV akan muncul sebagai pemenang jangka panjang dalam lanskap industri," ungkap Yannes, Sabtu (28/3/2026).

Untuk menjaga keberlanjutan tren positif ini, pembangunan fasilitas produksi lokal menjadi langkah krusial yang tengah ditempuh sejumlah pabrikan. BYD saat ini sedang mempersiapkan pabrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas 150.000 unit per tahun.

Tak ketinggalan, VinFast asal Vietnam juga telah merealisasikan investasi besar senilai US$300 juta untuk membangun pabrik di atas lahan 171 hektare di lokasi yang sama.

Sinergi antara investasi manufaktur dan penguatan infrastruktur pengisian daya diharapkan mampu menekan ketergantungan impor BBM dan memperkokoh posisi Indonesia sebagai hub kendaraan listrik di Asia Tenggara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Sinergi Lintas Sektor Gedongtengen Bersihkan Jalan Letjen Suprapto

Sinergi Lintas Sektor Gedongtengen Bersihkan Jalan Letjen Suprapto

Jogja
| Minggu, 29 Maret 2026, 04:17 WIB

Advertisement

Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing

Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing

Wisata
| Sabtu, 28 Maret 2026, 18:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement