Advertisement
Pengamat UGM: Batasi BBM Subsidi untuk Redam Dampak Krisis Minyak
Foto ilustrasi krisis BBM. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Penutupan Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menyentuh US$110 per barel. Kondisi ini dinilai berpotensi menyeret Indonesia ke dalam situasi darurat energi global.
Advertisement
Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai hampir seluruh negara akan terdampak krisis energi, termasuk Indonesia. Menurutnya, lonjakan harga minyak yang dipicu gangguan distribusi di Selat Hormuz menjadi ancaman serius bagi stabilitas energi global.
BACA JUGA
Ia mengungkapkan, pemerintah sebenarnya telah menggulirkan sejumlah wacana kebijakan seperti work from home (WFH), konversi kendaraan listrik, hingga transisi energi. Namun, langkah tersebut dinilai kurang relevan untuk menjawab krisis jangka pendek.
“Kebijakan itu lebih bersifat jangka panjang, sementara kondisi sekarang membutuhkan solusi cepat,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Pembatasan BBM Subsidi Jadi Solusi Jangka Pendek
Fahmy menawarkan opsi kebijakan yang lebih realistis dalam jangka pendek, yakni pembatasan BBM subsidi agar tepat sasaran. Menurutnya, kebijakan ini berpotensi menghemat anggaran negara hingga Rp120 triliun per tahun.
Ia menilai, kebijakan pembatasan BBM subsidi sebenarnya sudah lama diwacanakan sejak era Presiden Joko Widodo, namun belum pernah terealisasi secara optimal.
Salah satu kendala utama, lanjutnya, adalah mekanisme pengawasan yang belum efektif. Program seperti MyPertamina dinilai belum berjalan maksimal, sementara penggunaan barcode masih mudah disalahgunakan oleh kendaraan pribadi.
“Banyak mobil pribadi yang tetap bisa mendapatkan akses BBM subsidi,” jelasnya.
Untuk itu, ia mengusulkan mekanisme sederhana berbasis klasifikasi kendaraan, di mana BBM subsidi hanya diperuntukkan bagi sepeda motor, angkutan umum penumpang dan kendaraan distribusi bahan pokok. Sementara kendaraan pribadi didorong beralih ke BBM non-subsidi.
“Kalau ini berjalan, pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM subsidi dalam waktu dekat,” tegasnya.
Sorotan Diplomasi Indonesia
Di sisi lain, Guru Besar Hubungan Internasional UGM, Dafri Agussalim, menyoroti dampak geopolitik terhadap Indonesia. Ia menilai, posisi Indonesia dalam konflik global saat ini kurang menguntungkan, terutama setelah bergabung dalam Board of Peace (BoP) yang dipersepsikan condong ke Amerika Serikat.
“Indonesia dilihat Iran berada di kubu AS. Ini berdampak pada akses kapal Indonesia yang belum bisa melewati Selat Hormuz,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikasi lemahnya diplomasi Indonesia dalam menjaga posisi netral di tengah konflik. Dafri menilai, peluang diplomasi masih terbuka melalui pendekatan non-pemerintah, dengan melibatkan tokoh yang memiliki kepercayaan tinggi di mata Iran. Salah satu figur yang dinilai potensial adalah Jusuf Kalla. Pendekatan personal dinilai lebih efektif untuk membangun kembali kepercayaan dan membuka jalur komunikasi.
“Kepercayaan terhadap figur seperti JK bisa lebih besar dibanding pejabat formal,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
Advertisement
Aksi di Kepatihan Jogja, Buruh Sorot THR Tertahan dan Gaji Mandek
Advertisement
Masuk Jepang Wajib JESTA 2026, Ini Biaya dan Cara Daftarnya
Advertisement
Berita Populer
- Investor Baru Jogja Tembus Ribuan dalam Sebulan
- Koperasi Desa Bakal Sediakan Kredit, Bunga Dipatok 6 Persen per Tahun
- Per 1 April 2026 Isi BBM Bersubsidi Dibatasi dan Wajib Catat Nopol
- Pengamat UGM: Batasi BBM Subsidi untuk Redam Dampak Krisis Minyak
- Arus Balik Belum Surut, 51.389 Penumpang Padati Stasiun di Jogja
- Stok Melimpah, Pasokan BBM dan LPG di DIY dan Jateng Aman
Advertisement
Advertisement





