Advertisement
Ekspor DIY Tumbuh Saat Dunia Lesu AS Jadi Pasar Utama
Foto ilustrasi impor dan eksport. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Kinerja ekspor Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tetap tumbuh di tengah tekanan global, dengan Amerika Serikat menjadi tujuan utama yang menyerap hampir separuh nilai ekspor pada awal 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat nilai ekspor Februari 2026 mencapai 51,47 juta dolar AS, naik 8,57% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 47,41 juta dolar AS.
Advertisement
Plt. Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menyebut pertumbuhan ini didorong ekspansi sektor industri pengolahan yang naik 7,97% secara tahunan dan menjadi kontributor utama ekspor.
Komoditas unggulan dari sektor ini adalah pakaian bukan rajutan dan aksesorinya yang tumbuh 11,14% dengan pangsa 35,22%. Sementara itu, pakaian rajutan dan aksesorinya justru turun 15,57% dengan kontribusi 14,54%.
BACA JUGA
“Sektor pertanian naik, kalau kita lihat cukup tinggi karena kita mengalami kenaikan di ekspor buah-buahan, kopi, teh, dan rempah-rempah,” ujarnya.
Secara kumulatif Januari–Februari 2026, nilai ekspor DIY mencapai 98,41 juta dolar AS atau tumbuh 8,36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 90,82 juta dolar AS. Hampir seluruh ekspor ditopang sektor industri pengolahan dengan kontribusi 99,01%.
Sepanjang periode tersebut, pakaian bukan rajutan dan aksesorinya menjadi komoditas terbesar dengan pangsa 36,27%. Produk ini telah lama menjadi andalan industri garmen DIY dalam menembus pasar internasional.
Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat menempati posisi teratas dengan pangsa 48,24% atau senilai 47,47 juta dolar AS. Komoditas yang dikirim meliputi pakaian bukan rajutan, pakaian rajutan, serta produk kulit.
Di posisi berikutnya, Jerman menyerap ekspor senilai 10,16 juta dolar AS atau 10,33%, disusul Jepang sebesar 5,61 juta dolar AS atau 5,70%. Tiga negara ini secara total menguasai 64,27% pangsa ekspor DIY.
Sementara itu, nilai impor DIY pada Februari 2026 tercatat 15,63 juta dolar AS, naik 5,58% dibandingkan Februari 2025 sebesar 14,81 juta dolar AS. Kenaikan ini dipicu oleh impor bahan baku atau penolong yang meningkat 9,95% dengan kontribusi 88,5% terhadap total impor.
Komoditas impor utama antara lain kain rajutan yang melonjak 70,16% dan kain tekstil berlapis yang naik 35,85%. Sebaliknya, impor filamen buatan turun 33,21%.
Meski impor bulanan meningkat, secara kumulatif Januari–Februari 2026 justru turun 13,95% dibandingkan tahun lalu, terutama akibat penurunan impor bahan baku penolong.
Dengan kondisi tersebut, neraca perdagangan DIY masih mencatat surplus. Pada Januari–Februari 2026, surplus mencapai 69,69 juta dolar AS, naik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 57,44 juta dolar AS.
“Kita bersyukur untuk DIY ini mengalami surplus,” kata Endang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, menilai pertumbuhan ekspor ini menunjukkan daya saing produk lokal masih kuat di pasar global.
“Alhamdulillah ekspor DIY masih tumbuh 8,57% dibandingkan tahun sebelumnya, mengingat kondisi geopolitik global yang luar biasa menekan dan menghambat kegiatan ekspor,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Ia menambahkan, peningkatan ekspor tertinggi berasal dari produk kreatif seperti kerajinan anyaman, kertas, kayu, hingga batu. Produk garmen juga turut mendorong kenaikan nilai ekspor secara keseluruhan.
Menurutnya, dominasi pasar AS dipengaruhi tingginya permintaan serta harga yang lebih kompetitif dibanding negara lain. Meski demikian, upaya diversifikasi pasar terus dilakukan.
Disperindag DIY menggandeng Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, dan OPD terkait untuk membuka akses pasar nontradisional melalui business matching, business pitching, dan pameran.
Selain itu, pemerintah daerah juga membuka Klinik Layanan Ekspor, baik secara daring maupun luring, untuk membantu pelaku usaha mengatasi hambatan ekspor.
“Harapannya dengan kedekatan pemerintah dan pelaku usaha ekspor ini, akan lebih mudah mengkomunikasikan kegiatan ekspor DIY, sehingga ekspor bisa tumbuh positif,” lanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Harga Emas Antam 8 April Melonjak Tajam, Nyaris Sentuh Tiga Juta
- Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ini Rencana Bank Indonesia
- Harga Emas Antam Melonjak, Tembus Rp2,85 Juta per Gram
- Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
- Forbes April 2026: Kekayaan Elon Musk Tembus Rp13.746 Triliun
Advertisement
Advertisement
Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis
Advertisement
Berita Populer
- Libur Paskah, Kunjungan Mal di DIY Naik hingga 30 Persen
- Segini Besaran Penerimaan Negara dari Pajak MBG
- Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ini Rencana Bank Indonesia
- Harga Cabai Rawit Tembus Tinggi Ayam dan Beras Ikut Bergerak
- UU Koperasi Baru Dikebut, Target Disahkan Tahun Ini
- Harga Emas Antam 8 April Melonjak Tajam, Nyaris Sentuh Tiga Juta
- Ekspor DIY Tumbuh Saat Dunia Lesu AS Jadi Pasar Utama
Advertisement
Advertisement







