Berapa Defisit APBN Tahun Ini?

Berapa Defisit APBN Tahun Ini?Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan paparan saat konferensi pers realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) triwulan pertama 2018, di Jakarta, Senin (16/4/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
17 Mei 2018 16:50 WIB Annisa Margrit Ekbis Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemerintah mengklaim realisasi APBN pada 2018 makin baik, sehingga berdampak pada besaran defisit keuangan negara.

Kementerian Keuangan memperkirakan defisit APBN 2018 bisa terjaga di kisaran 2% atau bahkan lebih rendah lagi, didukung oleh realisasi APBN yang diklaim makin baik.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan ada perbaikan dari sisi penerimaan pajak, bea cukai, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Selain itu, belanja Kementerian/Lembaga (K/L) disebut lebih baik dan transfer ke daerah telah diperkuat tata kelolanya.

"Berdasarkan exercise yang kami lakukan, kami yakin defisit bisa terjadi di kisaran 2%. Di UU APBN adalah 2,19%. Kami sekarang bicara di kisaran 2% atau bahkan mungkin bisa lebih rendah, kami harapkan," papar Sri Mulyani dalam konferensi pers update APBN 2018 di Kementerian Keuangan (Kemenkeu), yang juga disiarkan secara langsung melalui akun Facebook resmi Kemenkeu, Kamis (17/5/2018).

Per April 2018, defisit anggaran tercatat sebesar Rp55,1 trilun atau turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp72,2 triliun. Sementara itu, defisit keseimbangan primer sekitar Rp24,2 triliun atau lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, penyerapan anggaran belanja negara sudah mencapai Rp582,9 triliun atau 26,3% dari total anggaran belanja sebesar Rp2.220 triliun.

Dia melanjutkan pembiayaan juga menunjukkan indikasi penyusutan defisit. Perencanaan pembiayaan diharapkan tetap terjaga meskipun kondisi ekonomi global sedang menunjukkan volatilitas tinggi.

Realisasi pembiayaan anggaran menyentuh 57,9% atau Rp188,7 triliun dari target. Angka ini mencakup pembiayaan utang senilai Rp187,2 triliun atau 46,9% terhadap APBN.

Realisasi tersebut lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp193,6 triliun atau tumbuh negatif 3,3%.

Di sisi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) juga mengalami penurunan dibandingkan Januari-April 2017. Per April 2018, sudah diterbitkan SBN senilai Rp189,7 triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp202,8 triliun.

Sri Mulyani menegaskan pihaknya terus memonitor perkembangan ekonomi, termasuk nilai tukar, suku bunga, serta harga komoditas termasuk migas dan komoditas penting lainnya.

"Fokus pemerintah sekarang dengan APBN makin sehat adalah bagaimana menopang investasi dan ekspor agar ekonomi kita bisa tumbuh lebih tinggi, tapi keseimbangan terjadi. Oleh karena itu, kami telah dan sedang menyelesaikan insentif fiskal untuk mendorong investasi serta ekspor sambil mendorong daya beli masyarakat agar konsumsi terjaga," jelasnya.

Sumber : Bisnis Indonesia

Ad Tokopedia