Advertisement
Perajin Tingkatkan Pasokan Suvenir hingga 50%
Ilustrasi UMKM - Bisnis Indonesia/Rachman
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Berkah libur Lebaran tak hanya dirasakan oleh para pedagang buah tangan berupa kuliner khas Jogja, para perajin suvenir pun kecipratan rezeki. Untuk memenuhi permintaan yang bertambah saat Lebaran kali ini, para perajin suvenir di Kampung Keparakan Kidul, Mergangsan bahkan meningkatkan produksi hingga 50%.
Ketua Sentra Kerajinan Keparakan Kidul Sujadi menuturkan para perajin mulai meningkatkan produksinya jauh-jauh hari sebelum libur Lebaran dimulai. Menyesuaikan dengan para pedagang kerajinan yang mereka pasok. Sujadi memberikan gambaran jika biasanya satu pedagang meminta stok 200 buah suvenir berupa sepatu, sandal, tas berbahan kulit, vynil, ataupun batik untuk Lebaran kali ini meningkat hingga 300 buah. Stok tersebut mereka timbun untuk kemudian dikeluarkan sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan harian.
Advertisement
Permintaan penambahan pasokan tersebut, menurut Sujadi merata di seluruh pedagang yang ia pasok. Baik di toko oleh-oleh ataupun souvenir, Pasar Beringharjo, pedagang kaki lima di sepanjang kawasan Malioboro, ataupun tempat-tempat wisata. Bahkan Sujadi mengaku untuk memenuhi permintaan, pihaknya harus menambah subproduksi. Artinya, ia menggandeng para perajin lainnya di Kampung Keparakan Kidul untuk memenuhi pesanan para pedagang. Nantinya akan ada hitung-hitungan tersendiri bagi para perajin yang bekerja sama dengannya, yaitu mendapatkan harga pokok produksi (HPP) untuk suvenir yang mereka produksi.
“Kalau bisa memenuhi target sendiri ya tidak dilempar ke perajin lain tetapi kan sering minta tambahan stok itu bareng-bareng makanya sampai kurang-kurang dan harus ngesub [subproduksi]. Nanti sub produksi itu dapat HPP, kami dapat labanya,” katanya kepada Harian Jogja, Rabu (20/6).
BACA JUGA
Meskipun permintaan meningkat, Sujadi menyebut hal itu tak lantas membuat perajin menaikkan harga. Menurutnya saat pesanan ramai seperti sekarang ini, mereka mendapatkan laba lebih dari jumlah produksi. Pasalnya tidak ada kelangkaan bahan baku ataupun hal mendesak lain yang menyebabkan perajin harus meningkatkan harga barang. “Kalau keuntungan per pasang tetap. Kami menambah keuntungan hanya dari jumlah,” katanya.
Hal senada disampaikan perajin lainnya, Agus. Menurutnya saat musim libur Lebaran kali ini, biasanya pengecer lah yang mendapat keuntungan berkali-kali lipat dari hasil penjualan. Mereka bahkan bisa menaikkan harga hingga 200% dibandingkan hari-hari biasa. Berbeda halnya dengan perajin yang tetap bertahan dengan harga asli produsen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- LPS: Bank Syariah Kini Lebih Kompetitif dari Bank Konvensional
- Ancaman Siber Naik Tajam, OJK Minta Nasabah Jadi Benteng Pertama
- Eh, Ada Diskon 30 Persen Tiket Kereta Api untuk Lebaran, Ini Daftarnya
- BPOM Sita 41 Obat Herbal Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat
- Buyback Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Turun Serempak
Advertisement
Separator Ring Road Utara Dibongkar untuk Ramp Tol Jogja-Solo
Advertisement
Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah
Advertisement
Berita Populer
- LPS: Bank Syariah Kini Lebih Kompetitif dari Bank Konvensional
- Harga Emas Pegadaian 26 Februari 2026, UBS Rp3,099 Juta per Gram
- Harga Pangan Hari Ini Turun, Daging Sapi Rp137.867 per Kg
- Menaker Ingatkan Sanksi bagi Perusahaan yang Telat Bayar THR
- Arab Saudi Larang Impor Unggas Indonesia
- Bulog Pastikan Harga Beras dan Minyakita di DIY Stabil Jelang Lebaran
Advertisement
Advertisement







