Dies Natalis UNSA ke-28, Astrid Soroti Makna Estafet Antargenerasi
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi./IST
Harianjogja.com, JOGJA- Pengamat Ekonomi DIY Sri Susilo YS menyepakati hasil proyeksi BI maupun Pemda DIY yang memprediksi pertumbuhan ekonomi DIY pada 2023 sebesar 5-5,5% yoy. Dari sisi permintaan agregat pertumbuhan tersebut akan didorong oleh konsumsi masyarakat.
"Dalam kondisi apapun, masyarakat akan melakukan kegiatan konsumsi, berberak dan beraktivitas, maka akan berdampak atau memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi," katanya, Selasa (27/12/2022).
BACA JUGA : BI Optimistis Ekonomi DIY Tumbuh di 2023
Hal lainnya yang mendorong pertumbuhan ekonomi di DIY, lanjut Sri, adalah pergerakan investasi meskipun tidak terlalu besar juga mengambil peran. Alokasi dan penyaluran dana pemerintah dan Dana Keistimewaan (Danais) 2023 di DIY juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di DIY. "Begitu juga dengan kegiatan ekspor DIY meskipun diprediksi ekspor dari DIY tahun depan akan sedikit menurun akibat dampak lesunya ekonomi global," katanya.
Menurut Sri, kegiatan pariwisata akan tetap menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di DIY. Alasannya, kegiatan sektor pariwisata ini membawa multi efek bagi turunannya. Mulai dari perhotelan, kuliner hingga UMKM akan menggerakkan perekonomian DIY. "Itulah mengapa sampai saat ini kegiatan pariwisata di DIY sampai saat ini bisa menggerakkan perekonomian di DIY," katanya.
Ia juga tidak menampik peran dari sektor pendidikan terutama kalangan kampus ikut memberikan efek bagi bergeraknya perekonomian DIY. "Kampus dengan menggelar belajar offline ikut menggerakkan perekonomian masyarakat sehingga kegiatan kampus juga berperan," katanya.
Untuk itu, Sri berharap agar Pemda DIY dan steakholder lainnya tetap menjamin usaha-usaha yang berjalan di DIY bisa berjalan dengan baik. "Jadi kebijakan izin usaha dan investasi harus lebih baik untuk menggerakkan ekonomi," katanya.
BACA JUGA : Pemulihan Ekonomi DIY Dibayangi Naiknya Angka Inflasi
Pemda dan Bank Indonesia DIY bersama TPID sudah berjalan baik untuk menekan laju inflasi namun tahun depan koordinasi dan sinerginya diminta untuk ditingkatkan kembali. Menurutnya, faktor inflasi di DIY lebih disebabkan masalah pasokan/penawaran sehingga Pemda DIY diminta untuk menjamin pasokan kebutuhan warga.
"Memang inflasi yang disebabkan bahan baku dari luar negeri seperti kedelai itu di luar kontrol. Inflasi di daerah harus dikendalikan lebih cermat dengan memenuhi kebutuhannya," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Polisi memperluas pemeriksaan kasus dugaan pungli food truck di Alkid Jogja. Hingga 30 September 2026, 14 orang telah dimintai keterangan.
Kemarau di Sleman diprediksi lebih panjang hingga Desember. DP3 meminta petani mengatur pola tanam dan mengantisipasi keterbatasan air.
Jalur pendakian Torean dan Senaru Gunung Rinjani masih ditutup sementara setelah kebakaran berdampak pada 1.098,75 hektare kawasan.
Dugaan politik uang Pilur Panggungharjo belum dapat disimpulkan. Bawaslu Bantul meminta penanganan mengacu regulasi Pilur.
LPS mempertahankan bunga penjaminan hingga Januari 2027. Simpanan rupiah bank umum tetap 3,75%, BPR 6,25%, dan valas 2%.