Harga Masih di Atas HET, Distribusi Minyakita Terus Diperkuat
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.
Foto ilustrasi impor dan eksport. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Kinerja ekspor Indonesia diproyeksikan mulai membaik pada Juli 2026 seiring meredanya ketidakpastian dan volatilitas pasar global. Namun, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengingatkan tingginya biaya produksi masih menjadi tantangan bagi keberlanjutan pemulihan ekspor nasional.
Optimisme tersebut muncul setelah defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 menyusut dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi itu dinilai menjadi sinyal awal perbaikan perdagangan, meski tekanan dari biaya produksi, permintaan global, serta impor minyak dan gas (migas) masih perlu diwaspadai.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebelumnya optimistis neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Juli 2026. Sebelumnya, neraca perdagangan mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut pada Mei dan Juni 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai US$1,61 miliar pada Mei 2026. Angka tersebut kemudian menyusut menjadi US$450 juta atau US$0,45 miliar pada Juni 2026.
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menilai optimisme pemerintah terhadap perbaikan kinerja perdagangan pada Juli 2026 memiliki dasar yang cukup kuat. Menurutnya, tekanan terhadap ekspor dalam beberapa bulan terakhir terutama berasal dari kenaikan biaya produksi dan melemahnya permintaan pasar ekspor akibat dampak krisis energi global.
“Dua faktor yang menciptakan tekanan besar terhadap kinerja ekspor nasional adalah cost-push inflation di sisi produksi dan kontraksi demand pasar ekspor karena imbas dari shock krisis energi global. Kedua faktor ini masih terus berlangsung,” kata Shinta kepada Bisnis, dikutip Minggu (9/8/2026).
Ketidakpastian Global Mulai Mereda
Shinta mengatakan ketidakpastian dan volatilitas pasar global dalam satu bulan terakhir relatif lebih terkendali. Kondisi tersebut dinilai mulai meningkatkan kepercayaan produsen dalam negeri maupun pembeli di luar negeri untuk meningkatkan aktivitas produktivitas secara bertahap.
Situasi itu diharapkan dapat memberikan dorongan terhadap kinerja ekspor Indonesia pada Juli 2026. Meski demikian, Shinta mengingatkan kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan neraca perdagangan kembali surplus.
Salah satu faktor yang masih menjadi perhatian adalah tingginya beban impor migas. Selain itu, kondisi ekonomi global juga belum sepenuhnya kondusif karena tekanan inflasi dari sisi biaya produksi masih berlangsung dan permintaan pasar ekspor masih beradaptasi dengan dampak krisis energi global.
“Kami cukup confidence bahwa kinerja ekspor di Juli setidaknya bisa lebih tinggi dibandingkan Juni 2026 atau empat bulan sebelumnya yang diwarnai shock dan volatilitas akibat krisis geopolitik dan krisis energi,” ujarnya.
Menurut Shinta, membaiknya kondisi pasar global perlu diikuti dengan kemampuan industri nasional dalam menjaga kapasitas produksi. Pasalnya, tingginya biaya produksi masih membatasi ruang pelaku usaha untuk melakukan ekspansi.
Manufaktur Jadi Penopang Ekspor
Dalam jangka pendek, Shinta memperkirakan sektor manufaktur menjadi salah satu penopang utama kinerja ekspor Indonesia. Industri pengolahan nikel dan industri elektronik dinilai memiliki prospek yang cukup kuat.
Kedua sektor tersebut masih memperoleh dorongan dari perkembangan industri digital serta peningkatan adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di berbagai sektor ekonomi.
Selain manufaktur, sejumlah komoditas seperti crude palm oil (CPO), biofuel, dan batu bara juga berpeluang mengalami peningkatan ekspor. Permintaan terhadap komoditas tersebut diperkirakan tetap terdorong oleh kebutuhan sejumlah negara untuk mengatasi tekanan krisis energi sekaligus melakukan substitusi minyak dan gas.
Peluang perbaikan juga terbuka pada sektor fast-moving consumer goods (FMCG). Shinta melihat tekanan inflasi di sejumlah negara tujuan ekspor mulai melandai sehingga daya beli masyarakat di negara tersebut berpotensi meningkat.
“Tidak tertutup kemungkinan perbaikan kinerja juga terjadi di sektor-sektor lain seperti ekspor FMCG karena tekanan inflasi di berbagai pasar tujuan ekspor melandai sehingga daya beli pasar ekspor terhadap ekspor produk-produk FMCG asal Indonesia menjadi lebih besar dan bisa turut mendongkrak kinerja ekspor nasional,” imbuhnya.
Biaya Produksi Masih Jadi Ancaman
Meskipun prospek ekspor mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, Apindo menilai pemulihan tersebut masih rapuh. Pelaku usaha dinilai belum dapat sepenuhnya meningkatkan kapasitas produksi karena tekanan biaya yang masih tinggi.
Shinta menegaskan peluang peningkatan ekspor dapat kembali berbalik apabila tekanan biaya produksi dan ketidakpastian global kembali meningkat. Karena itu, pemerintah dan dunia usaha diminta tidak terlena dengan adanya perbaikan sementara.
Cost-push inflation masih menjadi salah satu persoalan utama karena berkaitan dengan meningkatnya biaya produksi serta harga bahan baku impor. Kondisi tersebut membuat ruang pelaku usaha dan eksportir untuk melakukan ekspansi menjadi semakin terbatas.
“Cost push inflation ini juga menciptakan keterbatasan di sisi pelaku usaha dan eksportir terkait sejauh mana kami bisa melakukan ekspansi produksi karena beban ekspansi yang semakin tinggi atau tidak affordable,” jelas Shinta.
Di sisi lain, pemulihan permintaan global juga masih berjalan lambat. Pasar ekspor masih menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi yang berpotensi memengaruhi inflasi, lead time, biaya perdagangan, hingga daya beli konsumen.
Melihat kondisi tersebut, Apindo meminta pemerintah memperkuat dukungan kepada pelaku usaha untuk mempertahankan momentum perbaikan ekspor. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mengendalikan tekanan cost-push inflation.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penjagaan stabilitas nilai tukar serta peningkatan efisiensi biaya energi, logistik, kepatuhan regulasi, dan suku bunga. Menurut Shinta, langkah tersebut dibutuhkan untuk menekan tekanan inflasi dari sisi produsen.
Intervensi pemerintah, lanjutnya, perlu dilakukan secara konsisten dan terkoordinasi agar biaya produksi tidak semakin membebani pelaku usaha.
Pasar Nontradisional Perlu Diperluas
Selain menekan biaya produksi, Apindo mendorong pemerintah memperluas pasar ekspor Indonesia dengan meningkatkan sosialisasi dan fasilitasi perdagangan ke negara-negara mitra nontradisional.
Shinta menilai pasar India, China, dan negara-negara ASEAN memiliki permintaan yang relatif lebih tahan dibandingkan sejumlah pasar tradisional seperti Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Jepang.
Diversifikasi pasar dinilai penting agar ekspor Indonesia tidak terlalu bergantung pada kondisi ekonomi negara-negara tujuan utama yang saat ini masih menghadapi ketidakpastian.
“Potensi pasar-pasar nontradisional ini, khususnya negara-negara rekan FTA/CEPA Indonesia, harus terus dipromosikan dan dimanfaatkan untuk menstabilkan dan mengoptimalkan kinerja ekspor nasional,” pungkasnya.
Dengan demikian, peluang perbaikan ekspor Indonesia pada Juli 2026 masih terbuka. Namun, keberlanjutan pemulihan akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan dunia usaha dalam mengendalikan biaya produksi, menjaga daya saing industri, serta memperluas pasar ekspor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.
Seskab Teddy mendorong anak putus sekolah kembali belajar melalui Sekolah Rakyat. Program ini disebut telah memberi akses pendidikan bagi 43.000 anak.
BGN mewajibkan ompreng MBG mencantumkan batas waktu konsumsi mulai pekan depan untuk memperkuat keamanan pangan dan mencegah keracunan.
Kekeringan kembali melanda Padukuhan Tirto, Kulonprogo. Warga berharap dropping air dan pembangunan sumur bor menjadi solusi jangka panjang.
Polisi menangkap pengedar sabu di Sukoharjo. Sebanyak 23 paket sabu seberat 9,37 gram dan sejumlah barang bukti disita.
Apindo memproyeksikan ekspor Indonesia membaik pada Juli 2026, tetapi biaya produksi dan permintaan global masih menjadi tantangan.