Harga Kakao Dunia Tembus US$6.057,87, Ini Dampaknya ke Indonesia

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Minggu, 04 Oktober 2026 14:27 WIB
Harga Kakao Dunia Tembus US$6.057,87, Ini Dampaknya ke Indonesia

Tanaman Kakao - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Harga kakao dunia kembali menguat pada 2026 setelah sempat anjlok pada awal tahun. Kenaikan harga tersebut turut mendorong naiknya harga referensi dan ekspor kakao Indonesia, tetapi petani masih menghadapi persoalan produktivitas dan industri pengolahan harus mengandalkan impor bahan baku.

Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Referensi (HR) biji kakao periode 1–30 September 2026 sebesar US$5.635,76 per metrik ton. Angka tersebut naik 3,89% dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada periode yang sama, Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao ditetapkan sebesar US$5.271 per metrik ton, atau naik 4,07%. Tarif bea keluar dan pungutan ekspor masing-masing berada di level 7,5%.

Kenaikan harga berlanjut pada Oktober 2026. Kemendag menetapkan HPE biji kakao sebesar US$5.686 per metrik ton, meningkat US$416 atau 7,88% dari September.

Sementara itu, HR biji kakao pada Oktober ditetapkan sebesar US$6.057,87 per metrik ton. Nilai tersebut naik US$422,12 atau 7,49% dibandingkan periode sebelumnya.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan kenaikan tersebut antara lain dipicu kekhawatiran terhadap penurunan produksi kakao di kawasan Afrika Barat akibat dampak El Nino.

Harga Kakao Dunia Volatil

Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) Soetanto Abdullah mengatakan pergerakan harga kakao dalam dua tahun terakhir menunjukkan volatilitas tinggi.

Harga kakao dunia sempat menembus lebih dari US$11.000 per ton pada awal 2024. Namun, harga kemudian merosot hingga sekitar US$3.000 per ton pada awal 2026.

Setelah itu, harga kembali menguat seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan kakao untuk musim 2026/2027.

"Fluktuasi harga ini dipicu oleh anomali cuaca di Afrika Barat pasca-El Niño, serangan wabah swollen shoot dan tanaman tua di Ghana, hingga aksi spekulatif di pasar komoditas futures," jelas Soetanto kepada Bisnis, Selasa (29/9/2026).

Kondisi pasokan di negara produsen utama, khususnya Pantai Gading dan Ghana, masih menjadi perhatian hingga awal 2027. Kenaikan harga juga mulai memengaruhi daya beli konsumen produk cokelat di sejumlah pasar.

Harga Tinggi Belum Otomatis Dongkrak Pendapatan Petani

Kenaikan harga kakao di pasar internasional belum serta-merta diterima petani. Soetanto mengatakan masih terdapat perbedaan antara harga acuan internasional dengan harga yang diterima pekebun di lapangan.

Di Lampung, harga jual kakao di tingkat petani pada September 2026 masih berada di kisaran Rp70.000–Rp80.000 per kilogram. Pada periode yang sama, HPE kakao mencapai US$5.271 per ton atau sekitar Rp80.000 per kilogram.

Persoalan serupa terjadi di negara produsen lain. Petani di Pantai Gading masih menerima harga sekitar 1.200 CFA franc per kilogram pada September 2026.

Sementara itu, harga yang diterima petani Ghana tertekan inflasi meskipun COCOBOD menaikkan harga produsen sebesar 2,4%.

Dengan kondisi tersebut, kenaikan harga global belum otomatis meningkatkan pendapatan seluruh petani. Pekebun dengan produktivitas tinggi memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan penerimaan.

Sebaliknya, petani dengan produktivitas rendah masih menghadapi beban biaya pemeliharaan kebun. Dekaindo pun mendorong peningkatan produktivitas melalui pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama, hingga perbaikan penanganan pascapanen.

Industri Kakao Indonesia Masih Bergantung Impor

Di sektor hilir, persoalan yang dihadapi berbeda. Kapasitas pengolahan kakao Indonesia cukup besar, tetapi produksi biji kakao dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri.

Ketua Umum Dewan Pengurus Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Jeffrey Haribowo mengatakan produktivitas kebun kakao nasional telah menurun dalam satu dekade terakhir.

Produksi nasional memang mulai pulih, dari sekitar 160.000 ton pada 2024 menjadi 200.000 ton pada musim terakhir. Namun, jumlah tersebut masih jauh di bawah kebutuhan industri pengolahan.

Indonesia memiliki 11 industri pengolahan kakao skala besar dengan total kapasitas terpasang sekitar 700.000 ton per tahun. Tingkat utilisasi pabrik saat ini sekitar 51% atau sekitar 390.000 ton.

Dari kebutuhan tersebut, pasokan biji kakao lokal hanya sekitar 210.000 ton. Industri kemudian mengimpor sekitar 192.000 ton biji kakao pada 2025, terutama dari Afrika Barat dan Amerika Latin.

Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat industri ikut terdampak ketika harga kakao dunia naik. Kenaikan harga biji kakao impor dapat meningkatkan biaya produksi sekaligus menekan margin pengolahan.

"Jika hulu tidak baik, hilir tidak bisa optimal. Integrasi Askindo dengan CSP pada 14 Agustus 2026 ditujukan untuk memperkuat koordinasi hulu-hilir agar kesenjangan produksi nasional dan kebutuhan industri bisa mengecil," tegas Jeffrey.

90% Produk Olahan Kakao Diekspor

Meski menghadapi persoalan bahan baku, industri pengolahan kakao Indonesia telah berkembang menjadi salah satu basis ekspor.

Sekitar 90% produk olahan primer seperti cocoa butter, cocoa powder, dan cocoa liquor ditujukan untuk pasar ekspor.

Ekspor cocoa butter mencapai sekitar 125.000 ton pada 2025. Sebaliknya, ekspor biji kakao mentah turun hingga sekitar 8.000 ton per tahun.

Pemerintah menyebut telah menyiapkan program peremajaan dan perluasan kebun kakao seluas 247.260 hektare untuk periode 2025–2027.

Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus menjaga pasokan bahan baku bagi industri pengolahan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan strategi tersebut dijalankan untuk memastikan nilai tambah komoditas kakao tetap diperoleh di dalam negeri.

Harga Kakao Diperkirakan Tetap Tinggi hingga 2027

Dekaindo memperkirakan harga kakao dunia masih berada pada level tinggi hingga 2027. Proyeksi harga berada di kisaran US$5.000–US$6.000 per ton.

Sementara itu, kurva futures ICE menunjukkan harga di atas US$6.200 per ton sepanjang 2027. Pergerakan harga tersebut masih akan bergantung pada kondisi pasokan global.

Produksi kakao di negara-negara utama Afrika Barat menjadi salah satu faktor yang akan menentukan pergerakan harga kakao dunia ke depan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online