IHSG Diproyeksi Sideways, Investor Menanti Keputusan The Fed

Newswire
Newswire Selasa, 27 Oktober 2026 11:07 WIB
IHSG Diproyeksi Sideways, Investor Menanti Keputusan The Fed

Foto ilustrasi perdagangan saham. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak mendatar atau sideways pada perdagangan Selasa. Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see sambil menantikan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG melemah 15,13 poin atau 0,28% ke level 5.357,97. Indeks LQ45 yang mengukur pergerakan 45 saham unggulan juga turun 2,16 poin atau 0,10% ke posisi 540,68.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang terbatas sepanjang perdagangan. “Diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5.280-5.450,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Investor Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed

Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada keputusan kebijakan moneter The Fed dan laporan keuangan perusahaan yang dijadwalkan terbit sepanjang pekan ini.

The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 26-27 Oktober 2026. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS tersebut mempertahankan suku bunga acuan, sehingga biaya pinjaman belum mengalami kenaikan.

Meski demikian, investor juga mencermati petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya. Ratna menilai sinyal perubahan suku bunga dari The Fed berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.

“Namun, para investor juga menantikan kejelasan mengenai arah suku bunga ke depannya. Oleh karena itu, jika The Fed memberikan sinyal akan adanya perubahan suku bunga, maka berpotensi akan menjadi katalis negatif,” ujar Ratna.

Kebijakan Pasar Modal dan Pelemahan Rupiah Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, otoritas pasar modal Indonesia mengumumkan sejumlah kebijakan pada Selasa (27/10/2026). Salah satunya adalah perpanjangan kebijakan pembelian kembali saham atau buyback tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) hingga Juni 2027.

Otoritas pasar modal juga memperluas keanggotaan Komite High Shareholding Concentration (HSC) menjadi sembilan orang. Komite tersebut melibatkan pihak eksternal dan independen, termasuk pelaku industri pasar modal, akademisi, hingga investor asing.

Selain itu, BEI akan segera mengumumkan dan melakukan investigasi apabila terdeteksi dugaan manipulasi harga saham. Bursa juga akan mengurangi penetapan Unusual Market Activity (UMA) dan suspensi saham, dengan mengedepankan tindakan terhadap rekening efek yang terindikasi melakukan manipulasi harga.

Di sisi lain, pelemahan rupiah menjadi salah satu risiko bagi pasar keuangan domestik. Menurut Ratna, depresiasi rupiah dapat meningkatkan tekanan inflasi impor, memperbesar beban utang valuta asing perusahaan, serta membatasi ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi ketidakpastian global menjelang pertemuan FOMC, harga minyak yang masih tinggi, serta kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing.

“Jika rupiah masih cenderung melemah, BI berpotensi akan menaikkan BI Rate pada RDG November mendatang,” ujar Ratna.

Bursa Global dan Asia Bergerak Bervariasi

Di pasar Eropa, sejumlah indeks saham ditutup menguat pada Senin (26/10/2026). Euro Stoxx 50 naik 0,74%, FTSE 100 Inggris menguat 0,72%, DAX Jerman bertambah 0,91%, sedangkan CAC 40 Prancis naik 0,83%.

Penguatan juga terjadi di bursa saham Amerika Serikat. Indeks S&P 500 meningkat 0,70%, Nasdaq Composite menguat 0,82%, dan Dow Jones Industrial Average naik 0,28%.

Sementara itu, pergerakan bursa Asia pada perdagangan pagi berlangsung bervariasi. Nikkei Jepang menguat 1,80% ke posisi 62.306,00, sedangkan Shanghai turun 0,19% ke 3.690,96.

Hang Seng Hong Kong melemah 0,11% ke level 23.191,95. Sebaliknya, Kospi Korea Selatan menguat 3,65% ke 5.669,17, sementara Straits Times Singapura turun 0,31% ke 5.399,95.

Pergerakan pasar global, arah kebijakan The Fed, serta perkembangan nilai tukar rupiah menjadi sejumlah faktor yang dicermati investor dalam menentukan langkah pada perdagangan saham domestik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online