Saham Alphabet Anjlok 12,6 Persen, Terburuk Sejak IPO 2004

Jumali
Jumali Jum'at, 30 Oktober 2026 11:17 WIB
Saham Alphabet Anjlok 12,6 Persen, Terburuk Sejak IPO 2004

Foto ilustrasi. Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Harianjogja.com, JOGJA—Saham Alphabet, perusahaan induk Google, merosot 12,6 persen pada perdagangan Kamis (29/10/2026) di Amerika Serikat (AS). Penurunan tajam tersebut terjadi setelah laporan keuangan kuartal III-2026 menunjukkan laba dan pendapatan perusahaan berada di bawah ekspektasi pasar.

Koreksi itu menjadi penurunan harian terbesar saham Alphabet sejak perusahaan melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada 2004.

Investor merespons negatif kinerja keuangan tersebut meskipun bisnis Google Cloud mencatat pertumbuhan pendapatan lebih dari dua kali lipat secara tahunan. Kinerja bisnis iklan yang tidak mencapai proyeksi dan besarnya investasi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi perhatian pasar.

Laba dan Pendapatan Alphabet di Bawah Proyeksi

Pada kuartal III-2026, Alphabet membukukan laba per saham atau earnings per share (EPS) sebesar US$2,12, setara sekitar Rp38.400.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan analis yang mencapai US$3,01 atau sekitar Rp54.600 per saham.

Pendapatan perusahaan tercatat sebesar US$127,58 miliar atau sekitar Rp2.312 triliun. Nilai itu juga sedikit di bawah proyeksi Wall Street sebesar US$127,93 miliar atau sekitar Rp2.319 triliun.

Sementara itu, pendapatan setelah dikurangi biaya akuisisi trafik atau traffic acquisition costs (TAC) mencapai US$111,21 miliar, setara sekitar Rp2.016 triliun. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar US$111,29 miliar.

Pendapatan Iklan Google Tak Capai Target

Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah kinerja bisnis periklanan Google. Segmen ini mencatat pendapatan US$82,01 miliar atau sekitar Rp1.486 triliun.

Capaian tersebut berada di bawah perkiraan analis sebesar US$83,5 miliar atau sekitar Rp1.513 triliun.

Bisnis mesin pencari Google juga menghadapi tantangan seiring perubahan kebiasaan pengguna dalam mencari informasi. Kehadiran layanan kecerdasan buatan membuat persaingan tidak lagi hanya datang dari mesin pencari tradisional.

Google kini harus bersaing dengan layanan AI seperti ChatGPT serta berbagai agen AI yang dikembangkan perusahaan teknologi lain.

Investor mencermati kemungkinan layanan berbasis agen AI mengambil sebagian aktivitas yang selama ini dilakukan pengguna melalui Google Search. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi bisnis pencarian dan periklanan yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama perusahaan.

Google Cloud Tumbuh 103 Persen

Di tengah tekanan pada bisnis iklan, Google Cloud justru mencatat pertumbuhan yang kuat. Pendapatan segmen komputasi awan tersebut mencapai US$30,71 miliar atau sekitar Rp557 triliun.

Capaian itu melampaui perkiraan analis sebesar US$29,1 miliar atau sekitar Rp527 triliun. Secara tahunan, pendapatan Google Cloud tumbuh sekitar 103 persen.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan tingginya permintaan terhadap layanan komputasi awan dan infrastruktur AI Google.

Analis Yorkville Ives, Dan Ives, sebagaimana dikutip KompasTekno dari Yahoo Finance, menilai pertumbuhan Google Cloud menjadi sinyal positif di tengah kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja modal perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI.

Menurut Ives, peningkatan pendapatan bisnis cloud yang disertai perbaikan margin menunjukkan permintaan terhadap infrastruktur tersebut masih kuat.

Google juga mengandalkan pengembangan chip AI buatannya sendiri, yakni Tensor Processing Unit (TPU), sebagai salah satu sumber pertumbuhan bisnis.

Pada Selasa, Oracle mengumumkan akan menjadi perusahaan pertama yang membeli prosesor AI Google untuk digunakan di pusat datanya sendiri.

Belanja Infrastruktur AI Tekan Arus Kas

Meski bisnis cloud berkembang pesat, besarnya investasi Google untuk mengejar persaingan AI turut membebani arus kas perusahaan.

Arus kas bebas atau free cash flow Alphabet tercatat negatif US$9,06 miliar atau sekitar minus Rp164 triliun pada kuartal III-2026.

Angka tersebut lebih buruk dibandingkan kuartal II-2026 yang mencatat arus kas bebas negatif US$5,85 miliar atau sekitar minus Rp106 triliun.

Kondisi ini menjadi perhatian Wall Street karena perusahaan teknologi besar tengah mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk membangun pusat data, membeli chip AI, dan mengembangkan model kecerdasan buatan.

Investor mulai mempertanyakan seberapa cepat investasi tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.

Gemini Diklaim Tembus 1 Miliar Pengguna

Laporan keuangan Alphabet dirilis beberapa jam setelah Google memperkenalkan model AI terbarunya, Gemini 4 Carbon. Model tersebut diklaim memiliki kemampuan lebih tinggi dibandingkan Gemini 4 Argon yang diluncurkan sekitar dua pekan sebelumnya.

Google juga menyatakan model terbarunya mampu mengungguli sejumlah pesaing, termasuk GPT-6 Astra dari OpenAI dan Claude Opus 5.5 dari Anthropic.

CEO Google Sundar Pichai mengatakan aplikasi Gemini kini telah memiliki lebih dari 1 miliar pengguna. Menurutnya, Gemini menjadi aplikasi dengan pertumbuhan pengguna tercepat sepanjang sejarah Google.

Namun, pertumbuhan pengguna Gemini dan bisnis Google Cloud belum cukup meredakan kekhawatiran investor. Pasar masih mencermati kinerja laba yang meleset dari proyeksi, tekanan pada bisnis utama, serta besarnya biaya yang harus dikeluarkan Alphabet untuk mengembangkan infrastruktur AI.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online