PERTUMBUHAN EKONOMI : April, Harga Bensin & Bawang Merah Dongkrak Inflasi

PERTUMBUHAN EKONOMI : April, Harga Bensin & Bawang Merah Dongkrak Inflasi
05 Mei 2015 23:20 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Pertumbuhan ekonomi di Jogja pada bulan lalu dipengaruhi kenaikan harga bensin dan bawang merah.

Harianjogja.com, BANTUL—Badan Pusat Statistik (BPS) DIY merilis pada April 2015 Jogja mengalami inflasi sebesar 0,38%.

Kepala BPS DIY Bambang Kristianto mengungkapkan, inflasi tersebut dipicu kenaikan harga-harga yang menyebabkan berubahnya angka indeks harga konsumen (IHK). Dari pantauan BPS DIY, di Jogja terjadi kenaikan IHK dari 116,69 pada Maret 2015 menjadi 117,13 pada April 2015.

Menurutnya, pada April 2105 ada enam kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan angka indeks. Ada pun keenam kelompok tersebut yakni kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 1,09%; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,70%; kelompok sandang naik 0,28%, kelompok kesehatan naik 1,23%, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,12%; serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan naik 1,47%.

“Sebaliknya, kelompok bahan makanan turun 1,88 persen,” ujar dia di Gedung BPS DIY, Bantul, Senin (4/5/2015).

Ia mengungkapkan, komoditas yang paling memengaruhi terjadinya inflasi di antaranya bensin, bawang merah, bahan bakar rumah tangga, tarif kereta api dan gula. Bensin naik 5,38% dengan memberikan andil 0,20%, bawang merah naik 13,14% dengan memberikan andil sebesar 0,05%. Bahan bakar rumah tangga dan tarif kereta api naik masing-masing 1,28% dan 16,67% dengan masing-masing memberikan andil sebesar 0,04%.

Sementara, komoditas yang menghambat inflasi adalah beras, jeruk, cabai merah, pisang, dan daging ayam ras. Beras turun 10,03% dengan memberikan andil sebesar -0,40%, jeruk turun 7,35% dengan memberikan andil sebesar -0,04%, cabai merah, pisang, dan daging ayam ras masing-masing turun 9,57%, 2,86%, dan 1,29% dengan masing-masing memberikan andil -0,01%.

“Laju inflasi tahun kalender 2015 [April 2015 terhadap Desember 2014] sebesar 0,25 persen, sedangkan laju inflasi year on year [April 2015 terhadap April 2014] sebesar 5,45 persen,” imbuh dia.

Jika dibandingkan kota lain, dari 82 kota yang dihitung angka inflasinya, 72 kota mengalami inflasi dan sepuluh kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 1,31% diikuti Kota Bima sebesar 1,09%, Kota Lubuk Linggau dam Medan masing-masing 0,99% dan 0,96%. Inflasi terendah terjadi di Kota Cilacap, sebesar 0,02% diikuti Kota Sumenep sebesar 0,05%.

Sebaliknya, deflasi terbesar terjadi di Kota Manokwari sebesar 0,69% diikuti Kota Watampone sebesar 0,39%. Deflasi terkecil terjadi di Kota Sukabumi dan Kota Kendari masing-masing sebesar 0,03% diikuti Kota Bulukumba sebesar 0,06%.