Pelaku Industri Mebel Diminta Serius Garap Pasar Lokal

Pelaku Industri Mebel Diminta Serius Garap Pasar LokalIlustrasi mebel - Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu
15 Desember 2018 08:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Masuknya retail dan marketplace luar negeri yang menawarkan produk-produk furnitur seolah membangkitkan peluang pasar domestik yang selama ini terlalu diremehkan para pelaku industri di sektor kerajinan kayu dan mebel. Di tengah kondisi perang dagang dan ekspor yang tak kondusif, Asmindo DIY akan mulai fokus menggarap peluang pasar lokal.

Hal itu disampaikan Ketua Bidang Organisasi DPP Asmindo Endro Wardoyo. Endro mengatakan dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang pasar lokal tumbuh sangat pesat. “Tolok ukurnya yakni dapat dilihat dari tingginya permintaan barang-barang furnitur yang ditawarkan oleh marketplace hingga retail-retail modern di sejumlah pusat belanja di Jogja,” ujar Endro kepada Harian Jogja, Jumat (14/12).

Endro mengungkapkan pertumbuhan pasar dari pelaku-pelaku retail tersebut bisa mencapai 40%. Artinya, penguasaan pasar lokal di bisnis ini sebagian besar telah diambil pelaku-pelaku retail.

Diakui Endro, selama ini pasar luar negeri masih dinilai sebagai pasar besar dan lebih menguntungkan bagi pelaku industri mebel dan kerajinan di DIY. Para pelaku industri belum terbiasa untuk menangkap peluang di pasar domestik, bahkan cenderung meremehkan pasar ini.

“Siapa yang menyangka, meja harga Rp7 juta saja ternyata laku keras pada saat pameran yang kami gelar belum lama ini. Maka sebenarnya pasar domestik ini adalah peluang besar yang harus mulai serius untuk digarap,” ungkap Endro.

Salah satu upaya untuk mendorong agar produk lokal kerajinan dan mebel DIY ini bisa kembali mengambil alih pasar domestik, harus dilakukan sinergisitas dengan stakeholder terkait. Endro mengungkapkan kolaborasi dengan pelaku pengembang properti menjadi langkah strategis yang bisa dilakukan.

Terlebih kini, industri real estat, perumahan dan perhotelan tumbuh pesat di DIY. Endro menilai itu adalah peluang yang dapat dibidik untuk bisa lebih memasarkan produk kerajinan mebel Jogja ke pasar lokal.

“Kami berencana berkolaborasi dengan Real Estat Indonesia, selaku asosiasi pengembang. Nantinya kami harap kami bisa menjadi penyuplai furnitur untuk properti yang mereka kembangkan asosiasi ini,” jelas Endro.

Peluang lain yang dapat dibidik untuk memasarkan produk kerajinan dan mebel yakni perhotelan dan restoran. Ketua Komda Asmindo DIY Irsyam Sigit Wibowo mengatakan selain dengan upaya menggandeng asosiasi hotel dan restoran, maka upaya untuk memasarkan produk furnitur DIY akan lebih terbuka di pasar lokal.

“Sekarang ini juga banyak restoran-restoran yang mencari produk kerajinan kayu maupun mebel kayu. Kebanyakan mereka juga mencari produk yang mengandung unsur seni tinggi, jadi itu peluang juga bagi kami,” ungkap Irsyam.