Bagaimana Peluang Sri Mulyani Jadi Presiden Bank Dunia

Bagaimana Peluang Sri Mulyani Jadi Presiden Bank DuniaMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan penjelasan kepada awak media disela-sela sosialisasi Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2018 tentang Kepemilikan Asing Pada Perusahaan Perasuransian di Jakarta, Selasa (22/5). - Bisnis Indonesia/Dedi Gunawan
14 Januari 2019 09:10 WIB Newswire Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Mundurnya Jim Yong Kim sebagai Presiden Bank Dunia membuat lembaga itu harus segera mencari penggantinya. Ada sejumlah nama yang disebut-sebut cocok, salah satunya Menteri Keuangan RI Sri Mulyani.

Untuk bisa menjadi pemimpin Bank Dunia, ada berbagai prosedur yang harus dilalui, mulai dari seleksi, wawancara, hingga pemilihan oleh Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia.

"Dengan semua prestasinya, saya kira SMI [Sri Mulyani Indrawati] memenuhi persyaratan," ujar Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah seperti dilansir Tempo, Minggu (13/1/2019).

Apalagi, Sri Mulyani bukan nama baru di Bank Dunia karena dia pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif Bank Dunia pada 2010-2016. Faktor ini diyakini menjadi keunggulan karena para direktur eksekutif dari kelompok negara berkembang akan memberikan dukungan kepadanya.

Dia juga sudah beberapa kali menjadi menteri keuangan terbaik dunia dari sejumlah institusi, termasuk Menteri Keuangan Terbaik Dunia 2019 dari The Banker.

Presiden Bank Dunia dipilih oleh Dewan Direktur Eksekutif yang anggotanya berjumlah 24 orang dan menjadi perwakilan para pemegang saham.

Lima pemegang saham terbesar lembaga tersebut adalah Prancis, Jerman, Jepang, Inggris, dan AS. Masing-masing pemegang saham terbesar akan menunjuk satu direktur eksekutif.

Adapun pemegang saham lainnya, yakni seluruh negara anggota di luar lima pemegang saham terbesar akan diwakili 19 direktur eksekutif.

"Jadi, satu direktur eksekutif akan mewakili beberapa negara dan dipilih setiap dua tahun," lanjut Piter.

Presiden Bank Dunia juga sekaligus menjadi Ketua Dewan Direktur Eksekutif dan presiden dari lima organisasi yang saling terkait membentuk Grup Bank Dunia. Namun, meski memiliki sejumlah keunggulan, dia menilai jalur Sri Mulyani untuk mencapai posisi itu tidak akan mulus karena ada kepentingan dan campur tangan negara besar, khususnya AS.

Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono memandang peluang Sri Mulyani cukup baik mengingat prestasinya terbilang banyak selama menjadi Menteri Keuangan RI. Namun dia merasa sangsi posisi bos Bank Dunia dapat diduduki oleh non warga AS.

"Bos Bank Dunia biasanya 'jatah' untuk AS, seperti bos IMF juga 'jatah' untuk Eropa, khususnya Prancis," tutur Tony.
Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF), sebuah lembaga think tank yang berbasis di London, Inggris, sebelumnya menilai Sri Mulyani layak menggantikan Jim Yong Kim. "Inilah waktu untuk sebuah perubahan," ujar US Chairman OMFIF Mark Sobel.

Menurut dia, sudah saatnya orang luar AS memimpin Bank Dunia. Mark menyebutnya sebagai perubahan karena sejak didirikan setelah Perang Dunia II pada 1945, Bank Dunia selalu dipimpin warga AS. Kim juga berkewarganegaraan ganda yaitu Korea Selatan dan AS.

Kepergian Kim dinilai menjadi kesempatan yang tepat untuk mengubah situasi ini. Jika seandainya negara-negara berkembang ingin mengubah tradisi ini, maka Mark menilai mereka harus segera menemukan kandidat pengganti Kim.

Selain Sri Mulyani, nama-nama lain yang disebutnya layak adalah mantan Menteri Keuangan Nigeria Ngozi Okonjo-Iweala. Sri dan Ngozi sama-sama merupakan bekas Direktur Pelaksana Bank Dunia, satu posisi di bawah Presiden.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia