Kenaikan Biaya Kargo Picu Kenaikan Tarif Pengiriman Barang

Kenaikan Biaya Kargo Picu Kenaikan Tarif Pengiriman BarangSeorang pelanggan mengakses jasa pelayanan di Kantor Pos Cabang Bantul, Selasa (26/6/2018). Selama puasa Ramadan dan Lebaran 2018 traffic jasa pengiriman uang di Kantor Pos Cabang Bantul naik signifikan. - Harian Jogja/David Kurniawan
18 Januari 2019 05:17 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kenaikan tarif SMU (Surat Muatan Udara) atau biaya kargo berdampak pada tarif pengiriman barang yang berdampak pada konsumen. Para penyedia jasa pengiriman barang pun terpaksa melakukan penyesuaian tarif.

Kepala Kantor Pos Jogja Fediyan Syahputra mengungkapkan, setelah empat tahun tidak melakukan penyesuaian tarif dengan kenaikan SMU ini, pada kenaikan kali ini dilakukan penyesuaian tarif. Karena, kenaikan tarif SMU sangat tinggi mencapai 70%. "Tapi, penyesuaian tarif kami masih di bawah kenaikan tarif SMU yatu 10 persen hingga 30 persen. Pos tetap memikirkan daya beli masyarakat," ujar dia ketika dihubungi Harian Jogja, Rabu (16/1).

Fediyan menyebutkan, layanan Pos yang mengalami penyesuaian tarif misalnya Pos Kilat Khusus dan Pos Express. Namun, yang paling terpengaruh adalah layanan Kilat Khusus dan Express yang menggunakan jasa pesawat terbang. "Enggak semua naik. Misalnya yang antarregional Semarang dengan Jogja, ada yang tidak mengalami penyesuaian ada yang kena tapi sedikit. Yang terpengaruh terutama yang menggunakan transportasi udara teruma ke daerah timur karena banyak transit," katanya.

Ia mengatakan, persentase paket yang dikirim Pos dari Jogja, 70% menggunakan transportasi udara. Oleh karena itu, kenaikan tarif SMU cukup berpengaruh. "Memang banyak dan SMU naik. Jadi ini tidak bisa dihindarkan," ujar dia.

Ia mengungkapkan, PT Pos selalu mencari alternatif misalnya dengan menggunakan jasa kereta api. Itu pun hanya bisa dilakukan untuk pengiriman di pulau Jawa. "Itu pun harus memastikan barang terkirim sesuai dengan waktu yang dijanjikan."

Salah satu pelaku usaha jual beli online di Jogja, Vaulla Remaco mengaku sudah merasakan dampak penyesuaian tarif tersebut. Pemilik usaha batik Verose Batik ini mengaku pada awalnya tidak mengetahui penyebab kenaikan tarif itu.

"Saya bulan lalu mengirimkan paket ke Kolaka [Sulawesi Tengah] kena tarif Rp60.000, tapi bulan ini kok Rp90.000. Saya sampai tidak percaya. Saya kira saya salah baca. Saya tidak tahu apa sebabnya bisa naik," jelas dia.

Hal itu diakui memengaruhi keuntungannya. Apalagi konsumennya pun protes dengan tingginya biaya kirim, mereka pun meminta diskon. "Akhirnya saya subsidi. Jadi ya saya tekor," ujarnya.

Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) DIY Imam Soebakti mengakui, kenaikan SMU sangat memengaruhi perusahaan penyedia jasa pengiriman. Pasalnya kenaikan SMU mencapai 51% hingga 100%. Namun, dalam melakukan penyesuaian tarif, hal itu tetap tergantung kebijakan perusahaan masing-masing.

"Untuk jasa pengiriman ikutt memikirkan, perlu enggak tarif itu naik. Kita sesuaikan pasar. Jangan sampai kita naikkan, tetapi konsumen dirugikan. Harus berhati-hati menyikapi hal ini," ujar dia kepada Harian Jogja, Rabu.

Ia mengatakan, tidak semua tarif terpengaruh. Kenaikan SMU ini terutama berdampak pada pengiriman paket yang menggunakan jasa pesawat terbang. "Itu pun berbeda-beda, tergantung pangsa pasar tujuannya," ungkap dia.