Advertisement
Suka Pakai Uang ELektronik? Ini Dia, Kelemahannya
Ilustrasi pembayaran menggunakan QR Code dengan ponsel pintar - Flickr
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA--Pemerintah Indonesia sedang menggalakkan penggunaan dompet elektronk untuk mengurangi peredaran uang tunai (cashless). Namun transaksi dengan uang elektronik memiliki kelemahan tersendiri.
Makin banyak pengguna dompet elektronik atau e-wallet, makin tinggi pula transaksi keuangan elektronik tersebut. Katakanlah kehadiran OVO, Go-Pay, dan sejenisnya. Hadirnya uang elektronik ini menjadi jawaban bagi masyarakat yang menginginkan kepraktisan, sekaligus juga keamanan bertransaksi.
Advertisement
Menurut perencana keuangan OneShildt Financial Planning Budi Raharjo transaksi nontunai memang memiliki kelebihan dari segi kepraktisan dan keamanan. Selain itu, banyak manfaat yang diberikan dalam bentuk promosi untuk para penggunanya. Inilah yang menyebabkan banyak masyarakat tertarik untuk mencoba dan menggunakannya.
Saking masifnya penggunaan uang elektronik, Budi mengingatkan agar tetap bijaksana dalam menggunakannya. Meskipun memiliki sejumlah manfaat, kata Budi, uang elektronik juga memiliki kelemahan seperti bergantung pada perangkat elektronik yang membutuhkan listrik dan internet.
BACA JUGA
“Kemudian juga memiliki tingkat kerawanan terhadap cyber crime, dan terkadang kita lupa jumlah uang yang disimpan karena banyaknya aplikasi dompet digital,” katanya.
Apalagi saat ini para penyedia uang elektronik memberikan promosi yang menggiurkan sehingga membuat penggunanya konsumtif. Orang banyak tergiur untuk bertransaksi karena melihat promosi sebagai kesempatan membeli.
“Meskipun terkadang barang-barang atau produk yang dibeli kurang prioritas atau kurang dibutuhkan,” ujar Budi.
Menurut Budi, konsumsi uang digital tidak menimbulkan efek psikis mengorbankan uang karena otak tidak merasakan pengeluaran secara digital dibandingkan dengan uang tunai. Itulah sebabnya pasti ada perbedaan antara membeli dengan uang tunai dengan nontunai.
Apa yang perlu dilakukan agar pengguna uang nontunai tidak terjebak pada sikap boros dan konsumtif menggunakan uangnya?
Budi merekomendasikan agar konsumen membatasi jumlah uang yang dialokasikan dalam aplikasi. “Selain itu belanjakan uang tersebut sesuai prioritas dan kebutuhan,” katanya.
Ia juga menyarankan agar konsumen jangan terlalu banyak memiliki aplikasi uang elektronik di ponsel agar tidak mengalami kesulitan untuk memonitor keuangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
- Komisaris Tinjau Kesiapan PLN di Masjid Raya Baiturrahman Semarang
- Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU
Advertisement
Jadwal KRL Solo-Jogja dari Palur 26 Maret 2026, Tarif Rp8.000
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Rencana WFH Seminggu Sekali Dinilai Belum Efektif Hemat BBM
- Update Harga Emas Hari Ini, Antam Naik, UBS dan Galeri24 Turun
- BI DIY: Inflasi Maret Berpotensi Naik Dipicu Permintaan Jelang Lebaran
- Jalur Selat Hormuz Terganggu, Produksi Minyak Kuwait Anjlok Drastis
- MBG Disorot Akademisi UGM, Muncul Usulan Pangkas Jumlah Penerima
- Krisis Energi, Purbaya: APBN Belum Diubah, Masih Aman
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
Advertisement
Advertisement



