Perlindungan Risiko Bencana Perlu Dimiliki

Perlindungan Risiko Bencana Perlu DimilikiIlustrasi asuransi. - orixinsurance.com
11 Februari 2019 07:32 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Menilik rawannya wilayah Indonesia dari bencana alam apalagi terkait dengan perubahan iklim, perlindungan terhadap risiko bencana perlu dimiliki. Tak hanya proteksi terhadap jiwa, perlindungan terhadap aset yang dimiliki juga perlu dilakukan.

Direktur Zurich Insurance Indonesia, Wirahadi Suryana mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Peningkatan curah hujan menyebabkan beberapa wilayah mengalami dampak yang ekstrim seperti banjir di Sulawesi Selatan baru-baru ini. Wirahadi juga mengutip laporan khusus tentang Pemanasan Global 1,5 derajat celsius atau Special Report on Global Warming of 1,5 derajat celsius oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang memperingatkan jika pemanasan global melebihi 1,5 derajat celsius akan berdampak buruk pada bencana alam berupa peningkatan permukaan air laut, kemiskinan, ekosistem makhluk hidup, bahkan ketahanan pangan di berbagai belahan dunia. “Sudah waktunya cara pandang kita berubah. Perlindungan yang matang terhadap resiko bencana perlu dilakukan," ucapnya pada Minggu (10/2).

Wirahadi menuturkan rencana perlindungan yang matang juga menjadi keharusan bagi tiap individu. Sebab bencana alam tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya. Selain perlindungan mendasar seperti proteksi jiwa, Zurich Insurace juga menyediakan proteksi terhadap aset. Proteksi ini menurut Wirahadi akan melindungi aset pemegang polis jika terjadi gempa bumi, letusan gunung berapi, kebakaran dan ledakan yang mengikuti terjadinya gempa atau letusan gunung, dan juga tsunami. "Aset dapat berupa bangunan atau isi bangunan atau keduanya. Pemegang polis juga mungkin ingin mengasuransikan harta benda spesifik dalam proteksi, bisa dilakukan dengan menyepakati apa yang hendak dijamin," ucapnya.

Wirahadi menyebut proteksi aset ini menjadi urgen karena dalam bencana alam, aset seperti properti, kendaraan ataupun barang-barang lainnya sangat mungkin rusak. Maka perlindungan terhadap properti maupun isinya bisa sangat berguna untuk mengantisipasi kerugian akibat bencana alam. Tak hanya persiapan berupa proteksi aset, Wirahadi menambahkan setiap individu juga harus berkontribusi dalam mitigasi bencana. Menjaga lingkungan adalah hal mendasar dan terpenting dilakukan. Mulai dari pengurangan limbah dan sampah, memperbanyak tanaman hijau dan area resapan di sekitar rumah, menghindari pemakaian kantong plastik, hingga menghemat penggunaan air bersih untuk mengurangi limbah. “Edukasi terkait dengan manajemen risiko dari bencana alam juga patut digalakkan oleh pihak-pihak terkait, apalagi mengingat bahwa saat ini biaya pemulihan dapat mencapai hampir sembilan kali lebih tinggi daripada biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan," tuturnya.

Minim Kesadaran

Meski potensi bencana yang mengancam Indonesia besar, tetapi masih sangat sedikit masyarakat yang mempunyai asuransi bencana, terutama proteksi aset. Khusus untuk wilayah Jogja, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) DPD DIY, Bodi Hadisuwarno mengakui masih sangat minim individu yang telah sadar untuk memiliki asuransi bencana. Jika dihitung-hitung jumlahnya tak mencapai 5%. Padahal menurutnya potensi bencana di kota ini sangat besar dengan adanya Gunung Merapi di sisi utara dan Pantai Selatan, belum lagi potensi bencana gempa bumi yang bisa mengancam wilayah tengah.

Padahal dana kebencanaan yang disiapkan seringkali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga rekonstruksi pascabencana. Maka menurutnya masyarakat seharusnya tersadar pentingnya asuransi bencana individual sebagai perlindungan aset-aset mereka. Sejauh ini Bodi menyebut baru lembaga atau dinas yang mengasuransikan gedung perkantoran mereka dengan proteksi aset, bukan bersifat individual. "Kami mendukung penuh upaya pemerintah untuk menyusun regulasi terkait asuransi kebencanaan ini. Sebab strategi pembiayaan resiko bencana (disaster risk financing) atau asuransi risiko bencana (disaster risk insurance) yang diterapkan di Jogja belum menyeluruh," ujarnya.