Sri Ratu Menuju Ajal, Akhir Cerita Pusat Perbelanjaan Legendaris Semarang

Sri Ratu Menuju Ajal, Akhir Cerita Pusat Perbelanjaan Legendaris SemarangPusat perbelanjaan, Pasaraya Sri Ratu, di Jl. Pemuda, Kota Semarang, yang akan tutup 28 Februari nanti, menawarkan diskon hingga 70%. - Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com
20 Februari 2019 12:25 WIB Imam Yuda Saputra Ekbis Share :

Harianjogja.com, SEMARANG — Pusat perbelanjaan legendaris di Semarang, Sri Ratu, menuju ajal. Ini adalah akhir kejayaan salah satu primadona ekonomi di Jawa Tengah. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia Imam Yuda Saputra.

Pelang berukuran besar, berlogo mahkota masih terpasang di atap gedung tujuh lantai di Jalan Pemuda, Kota Semarang. Dua huruf kapital berwarna merah, S dan R, juga masih terpampang tepat di bawah logo mahkota tersebut.

Di depan gedung, terlihat beberapa orang mondar-mandir. Mereka menunggu gedung yang merupakan pusat perbelanjaan Pasaraya Sri Ratu itu dibuka pada pukul 10.00 WIB.

“Iya, ini lagi menunggu tokonya buka. Mau belanja. Soalnya ada diskon besar sampai 70%,” ujar salah seorang pengunjung, Desi Rahmawati, saat berbincang dengan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia di depan Pasaraya Sri Ratu, Selasa (19/2/2019).

Salah seorang pengunjung, Fariz Tri Joko Pamungkas, tengah memilih baju di Pasaraya Sri Ratu, Jl. Pemuda, Kota Semarang, Selasa (19/2/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Pasaraya Sri Ratu memang telah dinyatakan bangkrut. Pusat perbelanjaan yang telah berdiri sejak 1978 itu pun akan tutup atau berhenti beroperasi pada 28 Februari 2019 nanti.

Sebelum ditutup, pihak pengelola pun memberikan diskon besar-besaran untuk segala jenis barang mulai 30%-70%. Diskon ini merupakan cara manajemen untuk menghabiskan stok penjualan sebelum resmi tutup.

Bagi Desi, Sri Ratu memiliki sejarah yang panjang. Ia sempat bekerja di salah satu tenant di mal itu sebelum akhirnya memutuskan berhenti beberapa tahun lalu.

Saat awal bekerja sebagai sales promotion girl (SPG) pada 2006, Sri Ratu masih berada pada masa keemasan. Tak hanya ramai pengunjung, produk yang dijual di mal tersebut pun laris diborong pembeli.

“Bahkan saat awal kerja di sini, transaksi di tenant saya saja bisa mencapai Rp30 juta per bulan. Tapi, pas akhir-akhir sudah mulai sepi. Bisa dapat Rp5 juta  per bulan saja sudah bagus,” ujar perempuan berusia 35 tahun itu.

Aktivitas jual beli di Pasaraya Sri Ratu, Jl. Pemuda, Kota Semarang, yang akan tutup 28 Februari nanti. Foto diambil, Selasa (19/2/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Desi menilai tutupnya Sri Ratu tak terlepas dari persaingan toko retail modern maupun pusat perbelanjaan yang menjamur di Kota Semarang. Padahal saat masa jaya, Sri Ratu menjadi primadona hingga mampu mendirikan 8 cabang di kota lain di Jawa Tengah (Jateng).

“Sebenarnya sedih juga lihat Sri Ratu mau tutup. Enggak tega. Tapi, mau bagaimana lagi? Sebenarnya kalau mau tutup sih sudah terlihat sejak dulu. Sejak ada Paragon Mal di Jl. Pemuda, pembelinya pada pindah ke sana. Di sini jadi sepi dan omzetnya turun drastis,” imbuh perempuan yang kini beralih profesi sebagai instruktur senam itu.

Pelang diskon 70% yang terpampang di depan Sri Ratu Jl. Pemuda, Semarang, Selasa (19/2/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Senada diungkapkan Maria Nur Khasanah. Perempuan yang bekerja di bagian pakaian anak itu mengaku tak tahu akan bekerja di mana setelah Sri Ratu tutup.

Meski demikian, ia mengaku tabah. Apalagi selama ini hak-haknya sebagai pegawai di Pasaraya Sri Ratu selalu terpenuhi.

“Di sini enak. Gajinya sudah sesuai UMR [upah minimum regional]. Enggak pernah telat juga. Setelah dari sini, saya enggak tahu mau kerja di mana lagi? Mungkin di rumah dulu,” ujar perempuan yang bekerja di Sri Ratu sejak 1999 silam itu.

Sumber : JIBI/Solopos