Jogja Heboh Tingkatkan Okupansi 5%

Jogja Heboh Tingkatkan Okupansi 5%Gubernur DIY Sri Sultan HB X memukul gong tanda resmi dibukanya Jogja Heboh 2019 di kompleks Kepatihan, Jogja, Kamis (31/1) malam./Harian Jogja - Rheisnayu Cyntara
25 Februari 2019 22:31 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJAEvent tahunan yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Indonesia (Kadin) DIY bersama Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Jogja Heboh, disebut berhasil meningkatkan okupansi hotel hingga 5%. Event yang mengusung tagline More Than Just a Great Sale ini diselenggarakan pada 1-28 Februari mendatang.

Ketua PHRI DIY, Istidjab Danunegoro mengakui Jogja Heboh memang ditujukan untuk meramaikan sektor pariwisata yang mengalami low season pada Februari ini. Hingga pekan kedua penyelenggaraan Jogja Heboh, menurut Istidjab sudah mulai terlihat efeknya pada dunia pariwisata khususnya di bidang perhotelan. Hal itu terlihat dengan meningkatnya okupansi hotel hingga 5%. "Seperti yang kita tahu Februari masa low season karena semua sudah liburan di akhir tahun, Januari landai menuju Februari," ujarnya kepada Harian Jogja, Minggu (24/2).

Guna meningkatkan okupansi tersebut, Istidjab menyebut hotel-hotel yang tergabung dengan PHRI bersinergi dengan Asita untuk membuat paket-paket khusus. Dengan begitu, pihaknya berharap banyak masyarakat yang tertarik dan mempertimbangkan untuk berlibur ataupun menyelenggarakan kegiatan yang sifatnya rombongan di Jogja.

Khusus untuk masa low season ini, Istidjab menyatakan segmen yang dibidik adalah para wisatawan lokal. Pasalnya Februari bukan menjadi masa liburan bagi para wisatawan mancanegara yang biasa berlibur saat musim panas (summer season) ataupun musim dingin (winter season) pada periode Juli hingga Desember. Sedangkan wisatawan lokal dipandang masih potensial untuk tertarik datang ke Jogja. "Kami harap Jogja Heboh bisa berkontribusi pada peningkatan okupansi hingga 20% di akhir periode," ujarnya.

Wakil Kadin DIY, Nirwan Syamsudin Syukur mengatakan ada dua hal yang jadi fokus panitia yakni atraksi dan transaksi. Berbagai atraksi akan diadakan seperti Pejazztrian, Sarkem Fest, 1.000 Angkringan, 1.000 Sarong, Kenduri Bakpia, pasar seni kriya, fun bike, colour run dan lain-lain. Beragam atraksi inilah yang diharapkan dapate meningkatkan transaksi bisnis selama Februari 2019. "Sejauh ini transaksi di sektor perdagangan sudah naik 12,5 persen. Ini bagus karena tujuan penyelenggaraan Jogja Heboh ini adalah dapat meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat," tuturnya.

Asisten Sekretariat Daerah DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tri Saktiana mengakui berbicara tentang peningkatan transaksi bisnis tak bisa terlepas dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Selain itu event Jogja Heboh juga untuk memberikan ruang bagi masyarakat, termasuk para pebisnis ataupun seniman untuk memasarkan hasil karyanya. Salah satunya lewat penyelenggaraan Pameran Seni Kriya pada 22-24 Februari di JEC yang merupakan salah satu rangkaian acara Jogja Heboh. "Kami juga menyelengarakan Halal Food Festival karena memang saat ini ekonomi sudah beralih pada ekonomi gaya hidup, sehingga kita semua harus mempertimbangkan betul apa yang kini jadi kesenangan konsumen. Salah satunya terkait tren seni kriya dan makanan halal," katanya.