NYIA Segera Beroperasi, Segera Tangkap Peluang Ekonomi lewat Sinergi Antarsektor

NYIA Segera Beroperasi, Segera Tangkap Peluang Ekonomi lewat Sinergi AntarsektorPembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo. - Ist/ Dok AP I
10 Maret 2019 22:40 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pembangunan New Yogyakarta International Airport di Kulonprogo membuka peluang usaha di dunia pariwisata semakin terbuka lebar. Momen ini harus ditangkap oleh pelaku usaha dan masyarakat. Agar bisa berjalan bersama-sama, diperlukan sinergi antarsektor sehingga bisa saling mendukung.

Sinergi itu juga perlu dilakukan antara pelaku usaha perhotelan dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM). Ketua Badan Perwakilan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Istidjab M Danunagoro mengatakan sinergi itu dimulai sejak lama yakni pelaku UMKM bisa menitipkan produknya baik makanan, minuman, atau suvenir ke beberapa hotel tertentu. "Kita ada kerja sama yakni ada hotel-hotel yang bisa menyerap hasil atau produk UMKM," kata dia ketika dihubugi Harian Jogja, Minggu (10/3).

Produk UMKM yang bisa masuk hotel juga harus memenuhi kriteria seperti memiliki kualitas yang baik, kuantitas terpenuhi secara kontinyu, dan diusahakan untuk pembayaran ada tempo. Misalkan makanan dan minuman harus lolos dari BPOM.

Ia mengakui barang di hotel terkesan mahal. Menurutnya, biasanya pelaku UMUM menaikkan harga sekitar 20% untuk barang yang dititipkan di hotel sehingga tentu memengaruhi harga barang.

"Padahal sebenarnya kita enggak ambil untung. Kalau nitip barang biasanya UMKM minta dibayar dulu. Itu berat juga. Kami sebenarnya inginnya konsinyasi, kalau laku baru dibayar. Kemudian, di kamar hotel ada minibar. Di situ bisa dikasih cemilan atau suvenir. Tamu yang enggak sempat beli bisa beli di hotel," kata dia.

Pakar Ekonomi di DIY Prof Edy Suandi Hamid mengungkapkan rencana pembangunan bandara dan operasional minimum sudah digaungkan sejak lama. Rencana ini pun seharusnya sudah diantisipasi oleh semua pihak. "Misalnya saja otoritas bandara  dari sekarang sudah harus melihat siapa yang diizinkan di sana dalam tahap pertama. Misalnya dari Malaysia, Jepang, Korea. Kita harus siap menerima mereka," kata dia.

Pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait lainnya harus memiliki gambaran kira-kira ke manakah para wisatawan mancanegara ini akan diarahkan. Sebisa mungkin, para wisatawan itu menghabiskan uangnya di DIY sehingga ekonomi daerah menguat.

"Ketika penerbangan sudah ada, kira-kira mau dibawa ke mana, di mana uang wisatawan akan dihabiskan. Misalnya apakah di restoran, di Beringharjo, suvenir, batik," kata dia.

Menurutnya, masyarakat juga harus disiapkan untuk menerima wisatawan asal mancanegara yang akan semakin banyak dengan pembukaan NYIA. Jangan sampai, pelaku wisata justru aji mumpung dan melakukan eksploitasi terhadap para wisatawan.

"Jangan sampai ada yang merasa dibohongi ketika beli misalnya batik di Jogja, dan justru lebih murah beli di luar negeri. Ini gawat. Atau beli bakpia di tempatnya lebih murah daripada di bandara," kata dia.

Mempersiapkan masyarakat untuk pengembangan pariwisata perlu dilakukan agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Secara makro hal tersebut di mana masyarakat hanya menjadi penonton tidak dikehendaki. Oleh karena itu, perlu adanya stimulus untuk memanfaatkan setiap lini yang mengandung nilai tambah ekonomi.

"Ketika hotel, okelah milik orang luar DIY atau jaringan internasional, di pekerjaan kita bisa masuk baik yang menengah maupun kasar. Selain itu, hotel butuh makanan macam-macam, misalnya di kamar ada bakpia untuk menyambut tamu. Misalnya kalau seluruh hotel ada makanan kecil bakpia, demand akan meningkat," kata dia.

 Namun, Edy menegaskan, pemenuhan permintana itu jangan disuplai oleh bakpia buatan hotel sendiri, tetapi dari industri rumah tangga yang ada di DIY. Jika hal itu dilakukan, tentu akan menghidupkan roda perekonomian pelaku usaha kecil yang berkaitan.

Kemudian, untuk batik juga bisa dipamerkan atau dijual di hotel dengan harga yang kompetitif. "Penyakit kita itu, harga di hotel kesannya mahal, bandara mahal, di stasiun juga mahal. Jangan seperti itu. Kalau bisa, beli di bandara harganya sama. Pasti terstimulus agar masyarakat terlibat semua," kata dia.

Namun, UMKM harus ada yang mengorganisasi. Tujuannya agar UMKM memiliki kapasitas atau tempat untuk menunjukkan potensinya. Tidak menutup kemungkinan UMKM akan berkembang.