240 BPR Berencana Merger

240 BPR Berencana MergerIlustrasi transaksi di BPR - Antara
04 Mei 2019 08:47 WIB Maria Elena Ekbis Share :

Harianjogja.com, BANDUNG–Hingga April 2019, sebanyak 240 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang belum memenuhi modal inti Rp3 miliar dan Rp6 miliar berencana melakukan merger atau konsolodasi.

Direktur Penelitian dan Pengaturan BPR Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ayahandayani K, mengatakan dari 240 BPR tersebut, sudah mulai ada yang mengajukan konsolidasi.

“Sepertiga BPR [dari 722 BPR yang belum memenuhi modal inti Rp6 miliar] sudah mulai angkat tangan, meminta konsolidasi, malah sudah ada yang mengajukan,” kata Ayahandayani saat acara Pelatihan dan Gathering Media Massa di Bandung, Jumat (3/5/2019).

Berdasarkan Peraturan OJK No. 5/POJK.03/2015, BPR diwajibkan untuk memenuhi ketentuan modal inti minimal Rp3 miliar paling lambat pada akhir tahun 2019 dan Rp6 miliar bagi BPR yang modal intinya sudah mencapai Rp3 miliar pada tahap I.

Sementara itu, seluruh BPR sudah harus memenuhi modal inti Rp6 miliar pada tahap II di tahun 2024. Per Januari 2019, OJK mencatatkan ada sebanyak 374 BPR yang memiliki modal inti di bawah Rp3 miliar, sementara ada sebanyak 722 BPR yang memiliki modal inti di bawah Rp6 miliar.

Ayahandayani mengatakan merger merupakan salah satu solusi bagi BPR untuk bisa memenuhi modal inti agar bisa bersaing dengan lembaga keuangan lainnya, termasuk perusahaan teknologi finansial (OJK).

Selain itu, Ayahandayani menyebutkan sebanyak sepertiga dari jumlah 722 BPR sudah mampu memenuhi modal inti dan sudah memiliki rencana kerja.

“Sepertiga sudah tidak kami tidak khawatirkan, mereka bisa penuhi,” ujarAyahandayani.

Menurut dia, sepertiga dari 722 BPR lainnya masih mencoba memenuhi modal inti sendiri dan belum memberikan kepastian apakah dapat memenuhi modal inti tersebut.

“Tapi karena sampai Desember, OJK masih dalam posisi memantau, tidak bisa menyatakan BPR memang tidak memenuhi [modal inti], pemantauan terus dilakukan,” ujar dia

Ayahandayani mengutarakan meskipun pemantauan terus dilakukan, sepertiga BPR ini sudah harus memikirkan untuk memilih opsi antara konsolidasi atau mencari investor baru untuk menambah modal. Di sisi lain, Ayahandayani memaparkan kinerja BPR semakin menunjukkan tren yang positif jika dilihat secara tahunan (year on year/yoy).

Per Januari 2019, Otoritas mencatatkan pertumbuhan aset BPR naik 7,69% secara yoy menjadi Rp135,57 triliun. BPR berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp98,69 triliun, tumbuh 10,19% yoy pada Januari 2019. Kemudian, BRP mencatatkan penghimpunan dana sebesar Rp92,55 triliun atau naik 8,59 triliun per Januari 2019.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia