Jumlah Penumpang Pesawat Turun 3,5 Juta Orang

Jumlah Penumpang Pesawat Turun 3,5 Juta OrangPenumpang turun dari pesawat Citilink dengan kode QG 132 rute HLP-YIA, seusai mendarat pada penerbangan perdana di Bandara Internasional Yogyakarta, Senin (6/5/2019). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
06 Mei 2019 21:07 WIB Rinaldi Mohammad Azka Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - PT Angkasa Pura I (Persero) mengungkapkan penurunan jumlah penumpang sepanjang kuartal I/2019, yakni mencapai 3,5 juta penumpang.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkasa Pura I (Persero) Devy W. Suradji menuturkan pihaknya mengalai penurunan jumlah penumpang sepanjang kuartal I/2019.

"Wah, besar, yang jelas 3 bulan pertama, yaitu triwulan I/2019 angka saya, dari sisi pax, itu yang kami laporkan sekitar 3,5 juta turunnya dari 2018," katanya, Senin (6/5/2019).

Dia menuturkan, sepanjang 2018 jumlah penumpang mencapai 96 juta dan pada kuartal I/2019 sudah ada penurunan 3,5 juta penumpang dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Jumlah tersebut didapatkan dari penurunan di 13 bandara yang dikelola AP I. Sementara itu, kalau dari sisi total penerbangan ada 35.000 slot yang tidak jadi terbang pada triwulan pertama tersebut.

"Antara batal terbang, atau tidak operasi karena batal atau memang slot itu tidak digunakan, tetapi ada peruntukannya," tuturnya.

Menurutnya, bandara yang tidak terdampak signifikan hanya Bandara Ngurah Rai, Bali, karena kebanyakan penerbangan di bandara tersebut merupakan penerbangan internasional. Sementara itu, penurunan jumlah penumpang terjadi pada penerbangan domestik.

Dia menuturkan, penurunan jumlah penumpang tersebut karena berbagai faktor. Setidaknya, Devy menyebutkan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan jumlah penumpang tersebut.

"Satu ada tiketnya mungkin lebih mahal dibandingkan dengan biasanya, kemudian ada pilihan transportasi lain bisa lewat tol yang bagus, terus ketiga, orang mulai mengurangi libur karena banyak bencana alam kemarin," jelasnya.

Dia menilai karena faktor yang beragam tersebut AP I dan bisnis penerbangan pada umumnya, mulai meraba kembali guna mengembalikan angka 2018 pada 2019 karena penurunnya cukup signifikan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia