Tarif Batas Atas Tiket Pesawat Dipangkas Dinilai Belum Mampu Gairahkan Pariwisata

Tarif Batas Atas Tiket Pesawat Dipangkas Dinilai Belum Mampu Gairahkan PariwisataAktivitas penerbangan pesawat udara di Sultan Hasanuddin International Airport Makassar (SHIAM), Sulawesi Selatan, Senin (18/2/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone
17 Mei 2019 10:27 WIB Yanita Petriella Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Para pelaku usaha sektor pariwisata meminta agar maskapai penerbangan memperbanyak tiket murah pada saat waktu low season atau sepi penumpang. 

Ketua Umum Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) N. Rusmiati mengatakan saat ini yang dibutuhkan untuk kembali menggairahkan industri pariwisata dengan memberikan insentif berupa tiket murah saat low season.

Saat high season, para wisatawan urung berpelesir karena tiket mahal. Untuk menyeimbangkan kondisi itu, maskapai perlu memberikan harga murah saat low season

"Ya meski tarif batas atas sudah diturunkan tetapi belum mampu menggairahkan dunia pariwisata. Perlu ada terobosan lainnya," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (16/5). 

Selain itu, dia juga meminta agar pemerintah menurunkan tarif batas atas tiket pesawat khusus low cost carrier (LCC) sebesar 30%. Pasalnya, para wisatawan kerap kali menggunakan maskapai LCC sehingga dengan memberikan harga yang terjangkau akan mampu meningkatkan pergerakan wisatawan domestik. 

"Saat ini memang wisatawan domestik ini menurun. Mereka ada yang menyetop untuk jalan-jalan dan ada yang juga memilih untuk ke luar negeri karena harga tiket domestik mahal," tutur Rusmiati. 

Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan yang harus dilakukan pemerintah saat ini menurunkan tarif batas atas maskapai LCC. 

"Ya sama seperti yang saya bilang kemarin, tarif batas atas LCC ini harus diturunkan sebesar 40% agar pariwisata ini kembali dikunjungi wisatawan domestik, terutama untuk pariwisata di luar pulau Jawa," ucapnya. 

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani meminta agar pemerintah membuka keran maskapai asing seperti Jetstar, Scoot, Air Asia untuk dapat beroperasi di rute-rute domestik. 

"Saat ini hanya 2 maskapai besar yang menguasai domestik. Ini persaingannya enggak sehat. Harga semau-maunya sehingga pemerintah harus membuka keran maskapai asing masuk di rute domestik kalau tidak bisnis pariwisata semakin terganggu," tuturnya. 

Hariyadi mengatakan tarif batas atas tiket pesawat yang baru saja diturunkan pemerintah sebesar 12% hingga 16% tidak berdampak pada peningkatkan pergerakan wisatawan domestik karena tiket masih dirasa mahal. 

Sumber : Bisnis.com