GM PERUM DAMRI: Menikmati Pekerjaan sehingga Tidak Menjadi Beban

GM PERUM DAMRI: Menikmati Pekerjaan sehingga Tidak Menjadi BebanGM Perum DAMRI Cabang Yogyakarta Rahmat Santoso ketika ditemui di ruangannya di Kantor Cabang DAMRI, Senin (17/6)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
18 Juni 2019 07:57 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bergabung dengan DAMRI sejak 1989, membawa konsekuensi bagi Rahmat Santoso untuk dipindah ke beberapa tempat. Pria yang kini menjadi General Manager Perum DAMRI Cabang Yogyakarta ini mengaku selalu menikmati pekerjaan yang dia pikul di manapun ia ditempatkan. Hal ini membuatnya menjalankan pekerjaan dengan baik dan tanpa beban.   

Rahmat Santoso merupakan warga DIY. Ia lulus dari STM Piri I pada 1989. Setelah lulus, ia langsung bergabung dengan Perum DAMRI di Purwokerto, Jawa Tengah, menjadi tenaga teknik. Saat itu statusnya masih wiyata bakti atau magang. Pada 1993, ia dipindah ke Surakarta dan diangkat menjadi calon pegawai (capeg) pada 1995.

Setelah itu, ia dipindah ke Pontianak, Kalimantan Barat untuk menjadi koordinator teknik. Kemudian, ia dipercaya menjad kepala seksi (kasi) atau manajer teknik. "Pada 2007 saya ditugaskan ke Cabang Samarinda, Kalimantan Timur menjadi kasi usaha. Pada 2011, saya kembali dipindah ke Pontianak untuk menjadi kasi usaha," ujar dia kepada Harian Jogja ketika ditemui di Kantor DAMRI Cabang Yogyakarta, Senin (17/6).

Pada 2013, Rahmat ditugaskan di DAMRI Kantor Pusat di bagian pelayanan. Empat bulan kemudian ia kembali ditugaskan ke Pontianak menjadi kasi usaha. Pada 2016, lantaran Provinsi Kalimantan Utara berdiri sendiri dan berpisah dari Kalimantan Timur, Rahmat dipercaya menjadi General Manager Perum DAMRI Cabang Kalimantan Utara. "Kemudian, pada 2019 saya dipercaya jadi GM di DIY. SK saya per 26 Februari 2019," jelas dia.

 

Load Factor

Ia melihat DIY memiliki potensi yang besar jika load factor bisa dikerek naik. Ia pun menargerkan bisa meningkatkan load factor seperti 2015 silam. Munculnya pesaing dan maraknya kendaraan pribadi menjadi tantangan tersendiri pagi DAMRI untuk terus meningkatkan pelayanan sehingga tetap menjadi pilihan masyarakat.

Upaya yang dilakukan lainnya selain meningkatkan pelayanan yakni peremajaan kendaraan serta mengubah penampilan agar lebih meyakinkan. Semua pekerjaan itu ia nikmati dan jalani dengan ikhlas. "Tugas ini enggak berat karena kalau kita kerja enggak boleh mengeluh. Harus ikhlas dan enggak ada istilah berat karena saya menikmatinya," papar dia.

Ia mengatakan inti dari bisnis transportasi adalah sisi pelayanan lantaran penyedia transportasi menjual jasa. Selain itu kepastian waktu dan keberangkatan juga menjadi poin penting. Jika jam keberangkatan tidak jelas, pelanggan akan bingung dan kecewa. Hal ini akan berimbas negatif pada bisnis.

"Harus on time. Kami juga koordinasi dengan bagian teknologi informasi (TI) Pusat karena kami ingin jual tiket bisa lewat aplikasi. Ini tinggal tunggu waktu dan mudah-mudahan terealisasi dalam waktu dekat," papar dia.

Menurutnya, DAMRI harus bisa memberikan layanan yang prima agar bisa bersaing dengan penyedia jasa transportasi lainnya. Adanya taksi, taksi online, dan pemain lainnya, dipandang sebagai tantangan dan pelecut semangat.  "Kami mengutamakan pelayanan. Harga juga terjangkau, tetapi dijamin aman dan nyaman. Kami juga ada nomor pengaduan baik nasional maupun lokal DIY," jelas dia.

Adanya Yogyakarta International Airport (YIA) juga dipandang sebagai peluang tersendiri. Saat ini memang jumlah penerbangan masih terbatas, tetapi DAMRI siap melayani kebutuhan penumpang.