BOB Rangkul Warga Siapkan Wisata Terintegrasi

BOB Rangkul Warga Siapkan Wisata TerintegrasiSalah satu kesenian tradisional yang dipersiapkan menyambut tamu saat peresmian Glamorous Camping (Glamping) De'Loano yang terletak di Loano, Purworejo, Jawa Tengah pada Kamis (14/2)./ Ist. - BOB
20 Juni 2019 06:27 WIB Media Digital Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Otorita Borobudur (BOB) sedang menjalani proses untuk berubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU) agar bisa berfokus pada pendapatan dan belanja. BLU juga akan mempersiapkan warga di sekitar lokasi wisata Borobudur untuk memenuhi standar penyambutan wisatawan.

Direktur Utama BOB Indah Juanita mengatakan selama proses menjadi BLU pihaknya selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Magelang, Purworejo dan Kulonprogo untuk membuat jalur ke lokasi kawasan Badan Otorita Borobudur. Setelah itu akan dibangun entrance atau pintu masuk dari tiga kabupaten itu sebagai ujung tombak pertumbuhan ekonomi di mana di sekitar entrance akan ada potensi sumber pendapatan.

"Ini demi kepentingan pariwisata bersama. Kami juga sembari berproses menjadi BLU mencari terobosan agar bisa mengeksekusi berbagai kegiatan lebih menyeluruh. Sambil menunggu jalur bedah Menoreh terlaksana. Sebab jalur ini benar-benar akan menghidupkan kawasan wisata," kata Indah dalam rilis, belum lama ini.

Indah mengatakan program koordinatif sedang terus dijalankan. Seperti membuat kajian tracking dan offroad dari Borobudur ke Magelang, Purworejo dan Kulonprogo. Karena itu BOB juga sedang mendata penduduk yg berpotensi di luar kawasan Borobudur yang dapat digandeng untuk membentuk simpul aktivitas pariwisata.

"Penduduk yang rumahnya asri, kami beri pelatihan, supaya bisa menyiapkan makanan yang higienis dengan bentuk menarik. Mereka juga kami ajarkan bertutur sapa sebagaimana pelayan pariwisata," kata Indah.

Indah menjelaskan saat menjadi BLU, nantinya BOB akan mengajukan dana perbaikan untuk toilet warga dan memberi peralatan dapur yang memadai. Konsep peralatan dapur untuk menjamu wisatawan pun didesain dengan tradisional agar wisatawan tetap merasakan keasrian dan keaslian perdesaan.

"Tujuannya di jalur tracking wisatawan jalan kaki dari hotel mereka dan mereka akan ketemu penduduk desa yang rumahnya sudah kami siapkan, mereka akan menjamu tamu dengan alami. Bahkan dapur mereka jangan dirombak, biarkan alami, asal higienis," kata Indah.