Ini Strategi Pemerintah Optimalkan Penerimaan Pajak

Ini Strategi Pemerintah Optimalkan Penerimaan PajakKaryawan berkomunikasi di kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta, Senin (10/6/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat
24 Juni 2019 06:47 WIB Edi Suwiknyo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Pemerintah menempuh berbagai langkah untuk mengoptimalkan penerimaan pajak. Sejumlah kalangan menganggap, optimalisasi data menjadi salah satu strategi yang paling penting untuk mendorong penerimaan pajak

Berdasarkan catatan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, ada tiga jenis data yang bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan pajak.

Pertama, data hasil pengampunan pajak atau tax amnesty. Dengan partisipasi wajib pajak (WP) yang masih minim, otoritas pajak sebenarnya bisa menyaring WP yang tak mengikuti pengampunan pajak untuk dijadikan sasaran ekstensifikasi maupun optimalisasi penerimaan.

Kedua, data hasil pelaksanaan pertukaran informasi keuangan secara otomatis. OECD mencatat 90 yurisdiksi yang berpartisipasi dalam inisiatif global sejak 2018 kini telah bertukar informasi sebanyak 47 juta akun keuangan di luar negeri, dengan nilai total sekitar 4,9 triliun euro.

Dalam konteks Indonesia, otoritas pajak mengantongi data sebesar Rp1.300 triliun dari hasil pertukaran informasi tersebut. Informasi yang dihimpun Jaringan Informasi Bisnis Indonesia di lingkungan Kementerian Keuangan, mengonfirmasi bahwa data tersebut, meski secara resmi tak pernah dipublikasikan, mulai didistribusikan untuk menguji kepatuhan wajib pajak.

"Sudah didistribusikan tetapi kita senyap,"

Ketiga, optimalisasi data dari pihak ketiga yang telah teridentifikasi. Seperti dikutip dari Laporan Kinerja (Lakin) Ditjen Pajak 2018, sepanjang tahun lalu otoritas pajak telah memiliki 274,4 juta data prioritas yang telah teridentifikasi.

Jumlah data prioritas yang teridentifikasi tersebut melesat dibandingkan tahun 2017, yang hanya mencapai 156,2 juta atau naik sebanyak 75,4%. Identifikasi data tersebut juga lebih banyak dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencapai 94,7 juta.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia