Advertisement
BI Rate Tetap 4,75 Persen, Pengamat Nilai Tepat Jaga Rupiah
Resesi ekonomi / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Desember 2025. Kebijakan ini dinilai tepat untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta, Y. Sri Susilo, menilai keputusan BI untuk menahan suku bunga sudah sangat tepat. Menurutnya, tingkat suku bunga 4,75% terbukti efektif mendukung pengendalian inflasi dan menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap stabil selama sebulan terakhir.
Advertisement
Meskipun bank sentral Amerika Serikat, The Fed, telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,5%–3,75%, Susilo mengapresiasi langkah BI yang tidak serta-merta mengekor kebijakan tersebut.
"The Fed menurunkan suku bunga biasanya direspons oleh bank sentral negara lain. Namun, saya kira keputusan Indonesia untuk tidak mengikuti langkah tersebut sudah tepat untuk menjaga daya tarik investasi domestik," ujar Susilo, Kamis (18/12/2025).
BACA JUGA
Susilo memproyeksikan bahwa BI masih akan mempertahankan suku bunga 4,75% hingga Januari 2026 mendatang. Memasuki triwulan I-2026, ia memperkirakan jika ada perubahan, angkanya tidak akan signifikan, kemungkinan berada di kisaran 4,5% atau kembali ke 5%.
Ia menjelaskan bahwa keputusan BI didasarkan pada pertimbangan variabel internal dan eksternal. Di sisi internal, kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dinilai cukup berhasil dalam meredam gejolak harga.
"Meskipun ada lonjakan harga beberapa bahan pokok seperti telur karena tingginya permintaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta kenaikan harga cabai akibat faktor musiman, secara umum inflasi masih terkendali," lanjutnya.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 16–17 Desember 2025 memutuskan mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%. Selain itu, suku bunga Deposit Facility dipatok 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.
Perry menegaskan bahwa keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Ke depan, BI akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga BI Rate dengan memperhatikan prakiraan inflasi 2026 yang berada dalam sasaran 2,5% -1%.
"Kebijakan makroprudensial diperkuat dengan meningkatkan efektivitas pemberian likuiditas kepada perbankan. Tujuannya adalah mempercepat penurunan suku bunga kredit dan meningkatkan pembiayaan ke sektor riil, khususnya sektor prioritas pemerintah," jelas Perry.
Selain itu, BI juga terus mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif melalui perluasan akseptasi pembayaran digital dan penguatan infrastruktur sistem pembayaran nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 2 Februari 2026, Tarif Rp8.000
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- RUPST Himbara 2026 Segera Digelar, Ini Penjelasan Danantara
- Harga Emas Pegadaian Anjlok, Galeri24 dan UBS Turun Rp190.000 per Gram
- Ini Daftar 95 Pinjaman Online Berizin OJK per Februari 2026
- Gejolak Pasar Modal, Presiden Prabowo Turun Tangan
- BPKN Minta Praktik Goreng Saham Ditindak Tegas
- Meski Harga Emas Terkoreksi, EMAS Tetap Menarik Secara Fundamental
- Kadin DIY Tegaskan Dukungan RPJMD dan Penguatan UMKM
Advertisement
Advertisement



