Harga Ayam Anjlok, Peternak Rugi Ratusan Juta

Harga Ayam Anjlok, Peternak Rugi Ratusan JutaIlustrasi peternakan ayam - Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone
25 Juni 2019 06:47 WIB Abdul Hamied Razak Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Asosiasi Pengusaha Ayam Yogyakarta (Apayo) DIY melakukan aksi protes terkait anjloknya harga ayam. Wadah organisasi bagi para peternak di wilayah DIY akan membagikan sebanyak 5.000 ekor ayam hidup secara gratis kepada masyarakat pada Rabu (26/6/2019) siang.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ayam Yogyakarta (Apayo) Hari Wibowo mengatakan akti tersebut dilakukan sebagai bentuk protes yang dilakukan oleh peternak. Pasalnya akibat turunnya harga ayam peternak mengalami kerugian tidak sedikit. Akibatnya, banyak peternak saat ini yang sudah menutup usahanya dan beralih usaha. Hal itu juga berdampak pada pemutusan hubungan kerja bagi warga yang bekerja di peternakan.

Dia mengatakan satu peternak mandiri rata-rata memelihara 3.000-5.000 ekor. Jika per ekor peternak mengalami kerugian hingga Rp10.000, maka jika dihitung minimal peternak rugi hingga Rp30 juta. Jika dihitung lebih luas produksi ayam di DIY mencapai 150.000 ekor per hari. Maka kerugian satu peternak bisa mencapai ratusan juta rupiah.

"Katakanlah kebutuhan setiap hari ayam di DIY 150.000 per ekor, dengan selisih harga di tingkat peternak dan pasar Rp10.000, kerugiannya tinggal dihitung. Kalau 150.000 dikalikan satu bulan sudah berapa?" katanya kepada Harianjogja.com, Senin (24/6/2019).

Dia mengatakan, pada hari yang sama Rabu (26/6/2019) aksi juga akan dilakukan oleh para pengusaha ternak ayam baik di wilayah Solo maupun Semarang, Jawa Tengah. Untuk wilayah DIY, Apayo akan membagikan 5.000 ekor ayam kepada masyarakat, gratis.

Menurutnya, pembagian ayam hidup gratis tersebut dilakukan para peternak karena selama 10 bulan terakhir sejak September 2018 lalu, harga ayam selalu berada di bawah HPP.

"Harga HPP Ayam hidup hanya Rp18.700 dan Karkas Rp30.000, sementara di pasaran harga ayam selalu di jual di atas HPP, antara Rp29.000-Rp30.000 Per kg. Padahal pedagang ayam membeli ke peternak hanya Rp7.000-Rp8.000 per kg, bahkan ada minta harga di bawahnya," katanya.

Kerugian tidak hanya dialami peternak ayam potong, tetapi juga peranakan ayam. Hal itu disebabkan salah satunya karena membanjirnya kandang-kandang ayam baru akibat kebijakan impor bibit ayam yang over kapasitas. "Sebagai bentuk protes kami atas kondisi yang sudah terjadi dalam 10 bulan terakhir, kami akan bagikan ayam sebanyak 5.000 ekor kepada masyarakat di Jogja," katanya.

Seharusnya, kata Hari, masyarakat bisa diuntungkan dengan anjloknya harga ayam hidup. Harga daging ayam setidaknya bisa turun atau masyarakat bisa membeli daging ayam jauh lebih murah dari harga yang ada saat ini. Sekadar diketahui, harga daging ayam saat ini dijual antara Rp 29.000 hingga Rp30.000 perkg.

Kondisi tersebut, kata Hari sangat membingungkan dan berdampak negatif bagi para peternak. Para peternak harus menanggung kerugian yang sangat besar. Sementara pihak penjual ayam bisa menjual dengan harga tinggi dengan keuntungan yang fantastis. "Dengan harga ayam yang murah, seharusnya masyarakat bisa membeli dengan murah. Tapi faktanya, di pasaran harga daging ayam masih tinggi," katanya.

Hari mengatakan, awalnya sejumlah peternak mengira kondisi tersebut akan berangsur normal. Sayangnya, perkiraan para peternak meleset. Kondisi harga ayam hidup setiap bulan semakin merosot, bahkan di bawah Rp10.000. "Beberapa hari sebelum lebaran, sempat ada kenaikan harga ayam hidup tetapi hanya sesaat. Setelah itu, harganya anjlok lagi," kata Hari.

Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko mengatakan protes yang dilakukan Apayo lebih tepat ditujukan untuk Disnas yang menangani (Disperindag) atau Kementerian Perdagangan, khususnya Direktorat Dalam Negeri.

Agar para peternak tidak merugi, Sasongko mengusulkan agar peternak menunda dulu penjualan. Terutama yang siap panen. Kemudian, hasil panen ditawarkan kepada perusahaan-perusahaan pengolah daging ayam dengan harga yang wajar.