Asita Ragukan Realisasi Penurunan Harga Tiket Pesawat

Asita Ragukan Realisasi Penurunan Harga Tiket PesawatIlustrasi Bandara Adisutjipto, Jogja. - Bisnis Indonesia/Dwi Prasetya
26 Juni 2019 12:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) DIY masih menunggu realisasi rencana pemerintah untuk menurunkan harga tiket pesawat, yang diharapkan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan.

Ketua Asita DIY, Udhi Sudiyanto mengharapkan kabar penurunan harga tiket pesawat itu benar dan menggairahkan pariwisata di DIY.  “Meskipun secara jujur kami masih bertanya-tanyanya dan menunggu dengan khawatir,” ucap Udhi, Selasa (25/6).

Bukan tanpa alasan, sebab pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sudah beberapa kali meminta harga tiket turun. Tetapi nyatanya harga masih bertengger tinggi.

“Kalau kita melihat statement Menhub kadang membuat kami enggak yakin untuk itu. Namun kita lihat saja nanti. Kan kita masih ingat betul beberapa hari yang lalu kalau Menhub sampaikan bahwa kalau tiket pesawat mahal bukan urusan dia. Kalau sekarang tiba-tiba ada keputusan penurunan. Gimana ya kami jadi bingung sendiri mengikutinya,” ujarnya.

Meski begitu, Asita tetap menunggu realisasi penurunan harga tiket pesawat. Dengan begitu dampak lain berupa peningkatan kunjungan wisata mulai terasa meski pun tidak akan dalam waktu dekat.

Harus Seimbang

General Manager Bandara Adisutjipto, Agus Pandu Purnama mengatakan jika pemerintah sudah mengimbau turun dari harga maksimalnya, tentu regulasi  tersebut akan jalan. Sebab aturanlah yang mengatur seluruh airline maupun operator. “Saya setuju sekali, tetapi tentunya kita juga tidak boleh berat sebelah lah. Kita pengin customer pengguna jasa diuntungkan tetapi jangan sampai maskapai tidak diuntungkan,” kata Pandu.

Menurutnya, semua harus seimbang. Karena itu harus ada pertimbangan apakah harga yang ditentukan sudah bisa menghidupi airline. Jangan sampai airline ditekan harga tertentu tetapi margin yang diperoleh zero, tipis atau bahkan tidak bisa menghidupi biaya operasi.

Perlu dilihat betul masalah harga ini, jangan sampai harga diturunkan, tetapi ada yang dikurangi pula dari pelayanan dari maskapai. “Kita menekan [harga sampai] low tetapi ada yang ditinggalkan, servis enggak nyaman, agak kurang aware penerbangan. Saya tidak mau,” ujarnya.

Standar sesuai operasional itu tetap harus terpenuhi berapun biayanya seharusnya masyarakat mengerti bahwa ada standar yang harus dipenuhi oleh maskapai. Namun jika harga dapat turun dan maskapai juga tetap untung, hal tersebut akan lebih baik.

Saat ini, Pandu mengatakan jumlah penumpang di Bandara Adisutjipto sudah kembali normal. Sebelumnya pada Januari-Mei hanya berkisar 12.000 penumpang. Akhir-akhir ini jumlah penumpang sudah dikisaran 20.000-22.000 penumpang.