Terinspirasi Pedagang Kerupuk Keliling, Adit Jadi Produsen Lampu-Lampu Unik

Terinspirasi Pedagang Kerupuk Keliling, Adit Jadi Produsen Lampu-Lampu UnikContoh lampu kerupuk berisi pop up custom. - ist/Sonja Lamp
07 Juli 2019 04:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Pedagang kerupuk keliling yang saban hari melintas di depan rumah Aditya Hasfar, 27, menjadi titik awal di mana Sonja Lamp berdiri. Kaleng-kaleng kerupuk berwarna warni itu disulapnya menjadi lampu hias. Berkat lampu dari kaleng kerupuk itu, Adit mendapat banyak pasar dan penghargaan ide inovatif dari berbagai marketplace.

Adit selalu menyukai barang-barang antik dari Indonesia maupun negara-negara Barat. Segala pernak-pernik dikoleksi hingga menumpuk di kamarnya. Adit yakin suatu saat nanti barang-barang koleksinya akan memiliki nilai jual. Akan tetapi hatinya malah tertarik pada kumpulan kaleng kerupuk yang dibawa keliling pedagang kerupuk di sekitar rumahnya.

"Saya langsung kepikiran banyak ide dengan melihat kaleng kerupuk kosong itu. Saya akhirnya beli satu Rp15.000, saya juga tanya-tanya produksi kalengnya di mana, saat itu saya sudah kepikiran sebuah miniatur," kata Adit saat ditemui Harian Jogja di Workshop Sonja Lamp, Jalan Kebon Agung, Getas Kalongan, RT 7 RW 14, Kalongan, Tlogodadi, Sleman belum lama ini.

Mulai dari poster berisi kutipan penyemangat, pop up paper (gambar tiga dimensi) hingga lampu LED dirancangnya di dalam kaleng kerupuk tersebut. Adit kemudian mencari supplier bahan baku pembuatan kaleng kerupuk di berbagai kota. Dia merencanakan untuk merangkai bahan baku itu menjadi miniatur kaleng kerupuk dengan tinggi 20 sentimeter. Sebab apabila menggunakan ukuran asli, tidak pas dengan permintaan pasar yang cenderung simpel.

"Saya uji coba produk saya itu saat ulang tahun teman sepermainan. Saya hadiahi dia lampu kaleng kerupuk buatan saya, isinya pop up foto dia dan lampu LED. Pas dia posting di media sosial eh ternyata banyak peminatnya," kata Adit.

Adit mulai berkreasi dari segi warna kaleng. Mulai dari perakitan miniatur kaleng kerupuk hingga proses pengecatan dia lakukan bersama satu orang temannya. Banyak ketidakpercayadirian yang dirasakan Adit saat itu terhadap produknya.

Pasalnya teknik pengecatan dengan pilok yang dilakukannya masih berantakan dan meninggalkan gumpalan cat atau lelehan cat yang membeku di permukaan kaleng.

"Saya juga sempat coba pakai kain motif, eh tapi ternyata enggak rapi, tiap kalengnya dibuka kok kainnya menceng. Ya sudah, saya putuskan pakai stiker motif. Seluruh produk saya upload di Instagram Sonja Lamp," kata Adit.

Ternyata setelah produknya diunggah perdana di media sosial Sonja, produk itu mendapat atensi dari rumah usaha kado terbesar di Jogja. Mereka pun menawari Adit untuk tes pasar dengan memajang produknya di gerai mereka. Penjualan lampu Adit terus meningkat. Mulai dari satu lampu per bulannya hingga 5-10 lampu per bulannya.

"Di saat itu juga basis massa Instagram kami mulai terbentuk. Tapi sayangnya pada 2016 rekan saya terpaksa hengkang karena beda visi misi, dia tidak fokus karena ternyata masih ada niat buat kerja kantoran. Saya putuskan mengerjakan segalanya sendirian," kata Adit.

Ditinggal rekan bisnis membuat Adit semakin semangat untuk membuktikan bahwa dia bisa membuat Sonja Lamp berjaya. Langkahnya dimulai saat suatu marketplace menawarkan satu slot display gratis. Adit pun juga mengikuti pameran yang diadakan marketplace tersebut.

"Saat event ada kompetisi juga dan Sonja Lamp menang penghargaan big start up 100. Keunikan dan orisinalitas ide jadi indikator Sonja memenangkan penghargaan itu. Momen itu sangat berpengaruh ke branding produk saya. Apalagi event itu diadakan marketplace ternama," kata Adit.

Kualitas Produk

Pelanggan pun semakin percaya pada kualitas produk Sonja Lamp. Puluhan pesanan lampu kaleng kerupuk digarap oleh Adit dan tim barunya setiap bulan. Adit pun mulai berinovasi dan memperluas pasar. Tadinya dia hanya membidik segmen perorangan menengah atas, dia kemudian mulai berani membidik pasar kafe dan restoran.

"Masih dengan bahan baku yang sama, saya coba bikin bentuk huruf dari A sampai Z. Di huruf itu saya beri lampu bulat biasa. Saya pamerkan saat event di Ambarrukmo Plaza sebagai tulisan stan Sonja Lamp, tidak dijual. Eh, ternyata, banyak pemilik kafe atau perorangan yang nanyain harganya," kata Adit sambil tertawa kecil.

Saat ditanyai harga, Adit langsung menjawab tanpa tahu untung rugi. Adit tidak mau melewatkan kesempatan akan peluang baru tersebut. Pada akhirnya lampu huruf pun terjual dengan kerugian yang lumayan besar. Akan tetapi Adit menganggap itu sebagai biaya promosi.

Sejak lampu huruf yang akhirnya dihargai jutaan rupiah itu merambah pasar kafe, Adit juga banyak berinovasi. Mulai dari lampu kaleng kerupuk mini berbentuk kotak telepon hingga lampu berisi pop up made by order untuk momen wisuda, pernikahan dan pertunangan.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi mulai dari Rp150.000 hingga Rp190.000 untuk lampu kaleng kerupuk dan Rp1 Juta untuk lampu huruf.

"Semua produk kami kerjakan dengan tangan sendiri di workshop kami, biasanya tiap bulan ada puluhan orderan," kata Adit.