BRI Incar Porsi Kredit UMKM Menjadi 80% & Rilis BRISpot

BRI Incar Porsi Kredit UMKM Menjadi 80% & Rilis BRISpotIlustrasi batik. - Bisnis Indonesia/Rachman
15 Juli 2019 07:27 WIB Kusnul Isti Qomah & Muhammad Khadafi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk hendak semakin mengukuhkan diri sebagai penyalur kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dalam tiga tahun mendatang perusahaan menargetkan segmen tersebut menyumbang 80% terhadap total portofolio pembiayaan. Selain itu, Bank BRI merilis berbagai strategi, salah satunya mengembangkan teknologi digital, BRISpot sehingga pengajuan kredit oleh masyarakat bisa semakin cepat dan tidak perlu datang ke bank. 

Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan kredit UMKM dapat memberikan efek domino lebih besar terhadap perekonomian nasional. Selain berupaya meningkatkan porsi debitur UMKM, perseroan juga membuat ekosistem yang sehat bagi para pelaku usaha agar dapat naik kelas. “Dua tahun terakhir, aktivitas yang kami lakukan membuat 2,15 juta debitur mikro naik kelas,” katanya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) belum lama ini.

Suprajarto menjelaskan aktivitas yang dimaksud adalah membuat kelompok berdasarkan jenis usaha masing-masing debitur. Di dalam kelompok tersebut, perseroan memberikan banyak bantuan dari segi pengadaan kebutuhan barang modal hingga penyuhuhan cash management.

Selain itu perusahaan juga akan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menyalurkan kredit kepada sektor UMKM. BRI tengah menghimpun data para debitur untuk dijadikan bank data agar dapat dimanfaatkan sebagai indikator penilaian kredit atau credit scoring.

Menurut Supra debitur UMKM BRI saat ini terbilang representatif untuk dijadikan acuan penilaian kredit.  “Ini bisa mengurangi banyak keluhan soal agunan,” katanya.

Porsi kredit UMKM BRI merangkak naik dalam beberapa waktu terakhir. Hingga akhir Maret 2019, perusahaan mencatat penyaluran dana sebesar Rp855,47 triliun atau naik 12,91% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Debitur utama perusahaan, yang bergerak pada segmen UMKM menyumbang 76,92% terhadap portofolio kredit atau Rp657,99 triliun. Segmen mikro pada tiga bulan pertama 2019 tumbuh 13,17% yoy menjadi Rp284,11 triliun. Hal ini tidak lepas dari implementasi teknologi melalui BRISpot.

Perusahaan mengklaim digitalisasi kredit mikro membuat proses penyaluran kredit menjadi lebih cepat. Sebagai gambaran, sebelum ada BRISpot pengajuan hingga persetujuan pembiayaan mikro mencapai rata-rata dua pekan. Saat ini seluruh proses itu rampung, secara rata-rata, rampung dalam waktu dua hari.

Pertumbuhan kredit mikro pada kuartal pertama tahun ini pun telah mendorong komposisinya terhadap total pembiayaan menjadi 33,21%, naik tipis dari kuartal I/2018 33,13%. Perusahaan menargetkan kredit wong cilik ini setidaknya dapat berkontribusi hingga 50%. Sementara itu per akhir 2018, komposisi kredit UMKM BRI sebesar 76,5%, naik dari tahun sebelumnya, 75,6%. Pada tahun lalu penyaluran dana ke segmen tersebut naik 15,5% yoy

Atasi Rentenir

Keberadaan rentenir masih membayangi masyarakat. Cepatnya proses peminjaman uang kepada rentenir disinyalir menjadi daya tarik bagi masyarakat. Guna memerangi hal tersebut Bank BRI merilis berbagai strategi, salah satunya mengembangkan teknologi digital, BRISPOT sehingga pengajuan kredit oleh masyarakat bisa semakin cepat dan tidak perlu datang ke bank.

Pemimpin Wilayah Bank BRI Yogyakarta Dedi Juhaeni mengungkapkan tidak dipungkiri rentenir masih sering dimanfaatkan masyarakat. Lantaran hal itu terkeras peran perbankan kurang bisa menembus ke lapisan paling bawah. "Kenapa rentenir masih banyak? Karena mudah sekali prosesnya dan cepat. Di mana kehadiran bank? Apakah BRI sudah bisa seperti itu? Jawabannya sudah," kata dia di Jogja, pekan lalu.

Ia mengatakan BRI telah memiliki sistem digital bernama BRISPOT. Aplikasi ini merupakan terobosan digital yang dilakukan Bank BRI untuk membuat proses kredit mikro lebih cepat, efisien, paperless dan digital base.

Saat ini seluruh tenaga pemasar mikro BRI telah menggunakan BRISPOT dalam melakukan proses kredit, dan hal tersebut terbukti efektif karena proses kredit mikro di BRI menjadi lebih sangat cepat. Kemudahan ini diyakini bisa mendorong permintaan kredit menjadi lebih tinggi.

"BRISPOT ini sudah dimulai sekitar 1,5 tahun lalu. Tenaga pemasar mikro BRI datang ke nasabah yang ingin mengajukan kredit. Nanti difoto NIK-nya dan syarat-syarat lainnya, dan ada BI checking-nya kemudian data itu dikirimkan ke kantor," kata dia.

Ketika semua data sudah klir, akan dikirimka ke kantor untuk dilihat oleh petugas pemutus. Pemutus akan mengecek setiap dua jam apakah ada pengajuan kredit baru atau tidak. Setelah dinyatakan klir maka kredit sudah disetujui dan nasabah bisa mengambil uang ke bank. "Di DIY juga sudah diberlakukan. Era digital sampai ke mikro sudah jalan. Kelemahan perbankan secara umum, masyarakat butuh uang hari ini tetapi baru seminggu kemudian cair," kata dia.

Ia mengungkapkan dengan BRISPOT proses menjadi lebih cepat. Bahkan dalam waktu satu hari, kredit sudah bisa cair. Pengajuan kredit untuk mikro sudah bisa sampai Rp250 juta.

Menurutnya, pemanfaatan BRISPOT untuk pengajuan kredit suda 40% hingga 50% dari total pengajuan yang ada. Ke depan, pengajuan kredit baru dipastikan sudah memakai sistem tersebut sehingga lebih cepat pemrosesannya.

Guna menjangkau masyarakat di pelosok negeri, BRI memanfaatkan jaringan agen BRILink yang tersebar di setiap daerah. Di area Kanwil BRI DIY terdapat sekitar 18.000 agen BRILink yang bisa menjadi refferal ketika ada warga yang membutuhkan kredit sehingga petugas BRI akan mendatangi warga tersebut.

"Selain itu kami juga jemput bola. Ketika petugas kami di lapangan, dan kebetulan ada yang butuh kredit, maka akan kami layani," kata dia.