Zero Waste Indonesia Kembali Gencarkan Kampanye Peduli Lingkungan

Zero Waste Indonesia Kembali Gencarkan Kampanye Peduli LingkunganBantuan bibit pohon pewarna alami dari Lions Club Puspita Mataram saat didistribusikan ke masyarakat di Bangsal Sewokoprojo, Senin (11/2/2019). - Harian Jogja/David Kurniawan
22 Juli 2019 07:57 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Zero Waste Indonesia kembali mengadakan #TukarBaju yang kedua sebagai wujud kepedulian lingkungan, di Antologi Collaboractive Space, Minggu (21/7).

Kegiatan kali ini melibatkan pegiat bisnis mode, Kain Indonesia dan Semilir yang menggunakan pewarna pakaian berbahan dasar alami. Perwakilan dari kedua ruang usaha itu berbagi cerita tentang bagaimana upaya mereka dalam berbisnis tanpa mencemari lingkungan di sesi Lesehan Santai pada rangkaian aktitas #TukarBaju ini.

Pendiri Komunitas Zero Waste Indonesia, Maurilla Imron mengatakan #TukarBaju kali ini dibuat lebih dalam lagi edukasinya, jika yang pertama hanya ada sharing session.

“Kali ini kami undang khalayak ramai untuk terjun langsung dalam proses workshop Ecoprint, sebuah metode untuk mewarnai pakaian secara alami, yang tidak membahayakan alam. Agar masyarakat mendapatkan informasi yang lebih lengkap akan berbagai teknik pewarnaan kain dan berupaya mengedepankan pilihan yang lebih bersahabat dengan lingkungan,” kata Maurilla, Minggu (21/7).

PR & Project Manager Zero Waste Indonesia, Amanda Zahra Marsono mengatakan secara global hingga 50.000 ton pewarna kain kimia dibuang ke sungai tanpa pengolahan. “Data secara nasional belum diketahui secara pasti, semoga dengan adanya kampanye ini, tidak hanya aktitas #TukaBaju yang menyenangkan untuk diikuti kegiatannya namun pesan besar kami agar dapat membuka mata banyak pihak untuk peduli dan mengambil aksi lebih untuk berkontribusi menanggulangi jenis sampah lain yang kita tidak sadar hasilkan setiap harinya, melekat pada tubuh kita, yakni pakaian,” katanya.

Pada praktiknya proses pembuatan bahan baku tekstil dan pewarnaan yang menggunakan unsur kimia seperti pestida yang berbahaya bagi lingkungan, air yang tercemar, lalu upah yang rendah karena diproduksi massal oleh buruh pekerja di negara dunia ke tiga. “Hal-hal seperti ini memaparkan secara jelas bahwa sesungguhnya industri fesyen harus lebih beretika dan berkesadaran, karena pada hakikatnya harus memakmurkan dan tidak merugikan semua pihak yang terlibat didalamnya, baik manusia ataupun lingkungan,” ucapnya.

Amanda mengatakan bertukar baju bisa dijadikan pilihan gaya hidup untuk berbusana dan mendapatkan penampilan baru tanpa mengharuskan setiap individu untuk membeli pakaian baru. “Impian Zero Waste Indonesia adalah menjadi wirausaha sosial dan memiliki toko sik permanen #TukarBaju yang tidak hanya mengakomodasi kebutuhan ini namun juga mempunyai dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” katanya.