Pasar Bergairah, YIA Siap Terima Banyak Penumpang

Pasar Bergairah, YIA Siap Terima Banyak PenumpangSuasana terminal keberangkatan dan kedatangan di Yogyakarta International Airport, Kecamatan Temon, Jumat (7/6/2019).-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
24 Juli 2019 11:17 WIB Herlambang Jati Kusumo & Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) DIY menilai wacana pemerintah untuk menurunkan harga tiket pesawat low cost carrier (LCC) tidak hanya hari dan jam tertentu akan menggairahkan pariwisata.

“Jika tiket LCC murah, khususnya yang dari luar Jawa akan masuk di Jogja, cukup pengaruh. Paling enggak kembali diharga seperti dulu lagi, sebelum mahal. Dengan patokan jangan sampai airlines bangkrut, atau wisata gulung tikar,” kata Ketua Asita DIY, Udhi Sudiyanto, Selasa (23/7).

Kenaikan harga tiket pesawat dalam beberapa waktu terakhir dinilai memang cukup terasa menurunkan jumlah kunjungan wisatawan. Upaya penurunan tiket terbatas pada hari dan jam tertentu yang telah dilakukan juga belum berdampak banyak.

Selain harga tiket pesawat, komponen lain perlu ditekan, seperti bahan bakar, suku cadang dan berbagai komponen lain yang memengaruhi harga tiket. Termasuk penataan destinasi. “Jangan sampai saat tiket pesawat murah lalu sampai kesini mahal. Harus dipikir bareng, saling bersinergi,” ucapnya.

Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) yang akan menjadi tumpuan ketika telah beroperasi penuh nanti, diharapkannya juga ada transportasi penunjang yang baik. Untuk akses datang atau pergi dari YIA, sehingga tidak terlalu membuang banyak waktu di jalan.

Begitu pula destinasi wisata, dikatakan Udhi perlu dipersiapakan secara baik. Apakah menyasar wisatawan domestik atau mancanegara. Kemudian kapasitas sumber daya manusia (SDM) perlu ditingkatkan.

Terkait dengan tiket murah, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, sekaligus pengamat pariwisata, Ike Janita Dewi mengatakan tiket murah akan sangat berpengaruh pada wisatawan yang sensitif pada harga. “Karena kebanyakan wisatawan sensitif terhadap harga, maka tiket murah akan berpengaruh pada keputusan untuk melakukan perjalanan. Akan tetapi tiket murah ini jangan dijadikan solusi jangka panjang. Banyak faktor lain yang menentukan menarik/tidaknya suatu destinasi bagi wisatawan,” katanya.

Di sisi lain ia melihat maskapai termasuk Garuda yang BUMN adalah sebuah perusahaan yang harus mengikuti logika bisnis. “Jadi, saya khawatir bahwa pemerintah tidak akan bisa mengimbau, mengatur, atau setengah memaksa maskapai untuk menurunkan harga tiket. Akibatnya bisa berdampak pada biaya pemeliharaan pesawat yang dipotong atau pelayanan yang dikurangi. Karena itu, saya melihat bahwa kebijakan tiket murah ini harus dipandang sebagai solusi jangka pendek,” ucapnya.

Selain itu, dia berpandangan YIA membutuhkan mekanisme untuk memastikan fasilitas, sistem dan SDM sudah siap. Mungkin harus ada simulasi berulang-ulang.

 

YIA Siap

Terkait dengan hal tersebut, YIA pun siap menampung jika penumpang membeludak. Saat ini pun YIA bersiap untuk menyambut awal musim dingin dan pengalihan penerbangan. Ketika penerbangan mulai dialihkan ke YIA, tentu saja YIA semakin siap melayani jumlah penumpang yang semakin banyak.

PTS General Manager Bandara Internasional Yogyakarta Agus Pandu Purnama mengungkapkan penerbangan domestik dari Bandara Internasioal Adisutjipto akan secara bertahap dialihkan ke YIA. Pengalihan itu akan dilakukan khususnya untuk penerbangan luar Jawa.

Ia menyebutkan rencana akan ada 458 penerbangan per minggu atau sekitar 66 penerbangan setiap harinya. Otomatis, dengan bertambahnya penerbangan dan penumpang, kapasitas ruang tunggu harus meningkat. Oleh karena itu, AP I juga akan menambah kapasitas ruang tunggu YIA serta menambah jumlah dan frekuensi transportasi darat menuju YIA. "Kami juga akan menambah penerbangan domestik sebanyak empat slot per jam," kata dia, Selasa.

Pandu menyebutkan dengan adanya penambahan jumlah penerbangan, otomatis jam operasional YIA akan bertambah. Ia menjelaskan jam operasional YIA akan bertambah dari semula pukul 06.00-18.00 WIB menjadi pukul 06.00-23.00 WIB. Sebaliknya, jam operasional di Bandara Internasional Adisutjipto juga akan berubah dari pukul 05.00-24.00 WIB menjadi pukul 05.00-21.00 WIB.

Selain itu, ketika YIA sudah beroperasi secara penuh, terminal penumpang akan diperluas menjadi 222.810 meter persegi. Seluruh fasilitas yang dibutuhkan juga telah disiapkan oleh AP I. Fasilitas tersebut yakni security check point, check in area, kursi ruang tunggu penumpang, hingga fasilitas terminal internasional seperti counter imigrasi dan pemeriksaan bea cukai. Layanan lain yang sudah beroperasi di YIA saat ini yakni pelayanan navigasi penerbangan, layanan pengisian bahan bakar pesawat udara, layanan kesehatan pelabuhan, karantina ikan, hewan, dan tumbuhan, tenant, dan layanan transportasi darat.

"Ground handling dari Gapura Angkasa dan Kokapura Avia juga telah beroperasi, yang akan disusul oleh operasional PT CAS [JAS]," kata dia.

Selain itu, YIA didukung fasilitas terminal kargo seluas 3.456 meter persegi untuk kargo domestik dan 2.304 meter persegi untuk kargo internasional.  Adapun gedung Ekspedisi Muatan Pesawat Udara [EMPU] seluas 1.290 meter persegi berisi 11 ruangan dengan berkemampuan melayani 500 ton per hari.

"YIA ditargetkan selesai dan akan beroperasi secara penuh pada akhir 2019. Adapun progres pembangunan YIA telah mencapai 56 persen pada Juli. Fokus penyelesaian adalah bangunan terminal penumpang dan jalan layang," terang dia.