Memilih Investasi Dana Pendidikan, Mana yang Paling Cocok: Emas, Tabungan, Asuransi, atau Reksadana?

Memilih Investasi Dana Pendidikan, Mana yang Paling Cocok: Emas, Tabungan, Asuransi, atau Reksadana?Ilustrasi - Kaskus
11 Agustus 2019 02:37 WIB Dewi Andriani Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Ada beragam jenis investasi yang bisa dipilih untuk dana pendidikan putra-putri Anda.

Dana pendidikan bagi si buah hati bisa dipersiapkan sejak dini mulai dari playgroup hingga ke jenjang perguruan tinggi. Kini banyak cara bagi orang tua yang ingin mewujudkan ketersediaan anggaran pendidikan melalui beragam investasi dan perencanaan keuangan.

Alokasi anggaran khusus untuk dana pendidikan perlu diterapkan maupun didukung dengan pemilihan instrumen simpanan yang tepat.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kenaikan biaya pendidikan bisa mencapai 10% setiap tahunnya sehingga perencanaan dan pemilihan investasi dana pendidikan sebaiknya terus disesuaikan sehingga mampu menutupi kenaikan biaya yang terjadi setiap tahun.

Perencana Keuangan dari Oneshildt Financal Budi Raharjo mengatakan bahwa dana pendidikan sebaiknya direncanakan sejak anak lahir. Hanya saja, tidak semua orang tua mempersiapkan hal tersebut dan mengaplikasikannya dalam pengelolaan keuangan rumah tangga.

Padahal, biaya pendidikan terus meningkat setiap tahun, apalagi di sekolah swasta yang biayanya jauh lebih mahal, sehingga tanpa adanya alokasi khusus untuk dana pendidikan, hal itu justru akan membebani arus anggaran keluarga bulanan.

“Terkadang orang baru memiliki rasa urgensi ketika menjelang anak sekolah. Padahal, jauh-jauh hari sebelumnya atau bahkan sejak anak lahir, persiapan dana pendidikan ini sudah harus dibuat tabungan khusus. Mungkin sekitar Rp300.000 atau Rp500.000 per bulan sehingga ketika anak masuk sekolah, cashflow tidak terganggu,” jelasnya.

Selain menunda, kesalahan lain yang dilakukan orang tua dalam mempersiapkan dana pendidikan adalah menggabungkannya dengan dana darurat, sehingga tidak terukur perkembangannya. Akhirnya, dana yang seharusnya untuk pendidikan justru dipergunakan sebagai dana darurat.

Setelah muncul kesadaran menyiapkan dana pendidikan sedini mungkin, hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemilihan instrumen investasi atau tabungan. Untuk hal ini, perlu mempertimbangkan parameter kondisi keuangan dan profil risiko dari pihak yang akan melakukan investasi.

“Kalau kondisi keuangannya pas-pasan, harus buat rencana pendidikan dengan dana yang cukup juga, jangan terlalu berlebihan. Dari profil risiko, kalau orangnya konservatif maka produk investasinya harus yang konservatif juga, kalau beri instrumen yang agresif, bisa-bisa akan stres lihat fluktuasinya,” jelasnya.

Pertimbangan lainnya adalah jangka waktu pemilihan investasi. Misalnya saja, untuk mempersiapkan pendidikan playgroup, taman kanak-kanak (TK) atau sekolah dasar (SD) yang mungkin hanya butuh 4 atau 5 tahun ke depan, instrumen investasi atau tabungannya akan berbeda dengan dana pendidikan untuk jenjang perguruan tinggi.

“Kalau bicara inflasi, biaya pendidikan di sekolah swasta itu bisa dua sampai tiga kali inflasi, maka perlu instrumen investasi atau tabungan yang tepat agar uang yang ditanamkan atau dipupuk tidak tergerus inflasi. Makin panjang waktu yang dibutuhkan untuk memupuk dana, pilihan instrumennya bisa yang lebih agresif,” ucapnya.

PR Manager di Treasury Anang Samsudin mengatakan, sebelum mulai menyiapkan dana pendidikan untuk anak, sebaiknya ketahui terlebih dahulu langkah dalam merencanakan anggaran.

Pertama, mencari tahu besarnya biaya yang diperlukan untuk bersekolah di lembaga pendidikan yang diinginkan sehingga bisa mulai melakukan penghitungan.

Kedua, lakukan estimasi biaya pendidikan yang dibutuhkan saat anak masuk sekolah. Cara menghitungnya cukup sederhana, misalnya total biaya yang dibutuhkan untuk kuliah saat ini adalah Rp80 juta, maka untuk menghitung estimasi biaya kuliah 10 tahun mendatang, biayanya harus ditambah 10% per tahun dengan penambahan progresif hingga 10 kali.

Metode penghitungan yang sama juga perlu dilakukan untuk jenjang pendidikan TK, SD dan jenjang selanjutnya sehingga dapat diketahui estimasi biaya pendidikan secara menyeluruh sampai perguruan tinggi. Setelah mengetahui besarnya biaya pendidikan, ketiga adalah membuat strategi dalam mempersiapkan dana pendidikan.

INVESTASI

Memilih instrumen keuangan untuk menyimpan dana pendidikan harus cermat. Pilihlah instrumen yang nilainya cenderung naik dalam jangka panjang, salah satu instrumen yang tepat adalah emas.

“Orang tua bisa punya simpanan emas mulai dari Rp20.000 [sebelum pajak] secara rutin untuk mempersiapkan dana pendidikan anak di treasury,” ujarnya.

Pada program Punya Simpenan Emas, maka dalam jangka panjang ditawarkan bisa memberikan imbal hasil optimal. Berdasarkan histori harga emas di Goldprice.org, pada 2009 harga emas pada kisaran Rp300.000 per gram dan saat ini telah melonjak lebih dari dua kali lipat mencapai sekitar Rp700.000 per gram.

Sementara itu, sesuai dengan kaidah perencanaan keuangan, Budi Raharjo menyebutkan bahwa pilihan instrumen investasi atau tabungan yang pertama adalah tabungan pendidikan di bank. Kelebihan dari tabungan pendidikan ini adalah memotong langsung dana dari rekening serta dana yang dialokasikan akan terkunci. Kelemahannya, bunganya tidak terlalu tinggi.

Kedua, instrumen investasi berupa asuransi pendidikan yang memiliki dua jenis tipe yaitu konvensional dan unitlinked. “Kalau unitlinked ini menggabungkan antara proteksi dan investasi. Kelemahannya sebagian dana dipotong biaya asuransi sehingga investasinya kurang maksimal, tapi ini sekaligus menjadi kelebihan juga karena ada proteksinya.”

Dengan adanya proteksi, ketika orang tua mengalami cacat tetap atau meninggal dunia, perusahaan asuransi akan meneruskan tabungan sampai usia tertentu sehingga terjamin ketersediaan dana pendidikan untuk anak.

Ketiga, menggunakan instrumen investasi di pasar modal dalam bentuk reksadana. Kelebihannya adalah memiliki pilihan investasi mulai dari instrumen yang berisiko rendah dengan keuntungan rendah sampai yang berisiko tinggi tetapi memberikan keuntungan besar.

Kelemahannya, tidak ada proses autodebet seperti asuransi sehingga dari sisi kedisiplinan bisa tidak konsisten dalam menabung. Namun, ini bisa disiasati dengan membuat sistem autodebet. “Kalau orang memilih instrumen reksadana, sebaiknya menyediakan asuransi jiwa yang memadai juga untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Menurutnya, saat ini banyak masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan lebih memilih instrumen tabungan pendidikan karena masyarakat masih banyak yang berhubungan dengan perbankan. Jangka waktunya cukup pendek 2—3 tahun tetapi bunganya memang kecil.

Sementara itu, untuk tabungan hingga perguruan tinggi, disarankan jika memilih instrumen investasi unitlinked karena tidak akan tahu yang akan terjadi 18 tahun mendatang.

“Namun, untuk unitlinked dan reksadana, penting untuk memperhatikan pengelolaan investasinya. Maka harus bisa memilih instrumen penempatan yang cocok dan melihat historis imbal hasilnya.”

*) Artikel dimuat di Bisnis Indonesia Weekend edisi 11 Agustus 2019

Sumber : Bisnis.com