Inilah Saran untuk Mendukung Mobil Esemka

Inilah Saran untuk Mendukung Mobil Esemka Pekerja beraktivitas saat pembangunan gedung pabrik mobil Esemka di Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (1/2). - Antara/Aloysius Jarot Nugroho
13 September 2019 10:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dukungan pemerintah perlu maksimal untuk melanggengkan industri otomotif dalam negeri, termasuk Esemka. Jika hanya setengah-setengah produsen akan kesulitan. 

Pendiri PT Mega Andalan Kalasan (MAK) yang pernah bergerak di industri otomotif untuk kendaraan roda dua, Buntoro mengatakan untuk masalah otomotif tidak berhenti pada bisa bikin atau tidak bisa.

Buntoro mengatakan jika melihat pengalaman China dan Korea Selatan pada bidang otomotif, pemerintah masing-masing negara tegas. Artinya mendukung pengembangan produk dalam negeri. “Arti kata pemerintah [Indonesia] apa mau membeli juga? Setidaknya untuk kendaraan dinas atau lainnya. Dukungan jangan hanya peresmian,” ucapnya, Selasa (10/9).

Belajar dari pengalaman menjadi produsen kendaraan bermotor, memang banyak tantangan yang dihadapi. Hingga memaksa saat ini untuk produksi berhenti sementara. Pertama yang dihadapi produsen yaitu kaitannya pemasaran.

Pemasaran ini kaitannya dengan masalah pembiayaan. Apakah ada lembaga pembiayaan atau bank yang mau memberikan kredit kepada konsumen atau tidak. Dikarenakan saat ini sebagian besar pembeli kendaraan bermotor melalui kredit. Sedangkan lembaga keuangan cukup kompleks dalam pembiayaan atau peminjaman kredit. Mulai dari harga jual bekasnya, kalau ditarik, masalah kondisi kendaraan, kemudian masalah jaminan dari produsen apakah mau membeli kembali kalau ditarik bank.

Pada bidang otomotif ini MAK juga menyadari sangat sulit untuk bersaing dengan kompetitor yang sudah ada. Produsen harus memahami betul apa yang diharapkan oleh konsumen dari mobil atau motor yang dihasilkan itu. Itu yang sulit tidak gampang.

Terlebih lagi industri otomotif baik motor maupun mobil sangat kompleks komponennya. Tidak semua komponen dapat mudah didapat di pasar. Ada komponen yang memang harus dibuat sendiri oleh produsen, hal tersebut juga perlu menjadi perhatian produsen.

Kedua, menyinggung kendaraan Esemka sendiri yang sedang gencar diperkenalkan, Buntoro memprediksi juga akan sulit untuk bersaing, dan apakah akan menjadi kendaraan nasional menurutnya itu masih menjadi pertanyaan besar.

Tantangan yang sering dihadapi menurutnya selain pembiayan modal juga teknologi. Belajar dari Proton di Malaysia sendiri, saat ini belum bisa seluruhnya Malaysia yang berperan, tetapi masih ada campur tangan dari negara lain. “Tidak mudah untuk bisa membuat produk otomotif sendiri, perlu waktu lah. Harus ada komitmen tadi, jangan semua di politisasi juga,” katanya.

Selain komitmen pemerintah, komitmen pengusaha sendiri penting menurutnya. Jika sudah mendapat dukungan, sebaiknya pengusaha juga mengembangkan produknya. Tidak hanya mengejar untung.

Saat ini, diakuinya MAK berhenti produksi motor MAK. Namun Buntoro mengatakan juga tengah menyiapkan terobosan baru mengembangkan dengan tidak konvensional. 

Tak kalah saing

Kepala Cabang Astra Daihatsu Yogyakarta, Sigit Suryanto mengatakan adanya mobil baru yang diperkenalkan yaitu Esemka untuk kendaraan niaga bukan menjadi masalah menurutnya. “Mobil baru bukan luar biasa, hal biasa ada merek baru, tipe baru justru bagus untuk kompetisi, tetap optimis punya pasar sendiri. Market tambah bukan saling makan,” ucapnya.

Untuk pasaran mobil niaga yang dimiliki Daihatsu yaitu Gran Max sendiri di Jogja diakuinya sedikit menurun. Namun kondisi penurunan memang terjadi pada seluruh merek. Setidaknya sekitar 30%. Jika market di Jogja dulu kisaran 1.600 unit/bulan dalam waktu-waktu terakhir kisaran 900 unit/bulan. Untuk Gran Max penjualan ada 50 unit/per bulan dari empat cabang yang ada. 

Berbagai Respons

Gojek yang memiliki layanan Gobox dan identik dengan kendaraan niaga, menyambut baik adanya mobil Esemka. “Gojek turut bangga dengan produk karya anak bangsa Esemka. Saat ini kami belum ada wacana untuk kerja sama namun demikian kami terbuka untuk memfasilitasi mitra GoBox  dengan semua pihak termasuk dengan Esemka,” ucap VP Corporate Affairs GO-JEK, Michael Say.

Pelaku usaha peternakan ayam di Jogja, Sigit Sulistyo mengatakan perlu meyakini terlebih dahulu kualitas dari Esemka. “Harus teruji dulu pastinya, tidak cuma murah pastinya pertimbangan. Kalau bagus harga bersaing ya kami mau ganti,” ujarnya.