Torehan Napas Vintage di Aino

Torehan Napas Vintage di AinoBimo Suryojati dan Witri Kusuma ketika menunjukkan produk Aino Vintage dari limbah kayu dan Aino Bags dari kulit di workshop Aino, Jogja, Jumat (13/9)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
14 September 2019 11:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kemajuan era digital membuka kesempatan pelaku usaha khususnya generasi milenial untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Selain itu, dukungan perusahaan jasa pengiriman logistik memudahkan dalam pengiriman barang. Hal itu pula yang dirasakan pemilik produk Aino yang kental dengan sentuhan gaya vintage.   

Perkenalkan pencipta produk Aino, Bimo Suryojati. Hobi dan kegemarannya pada gaya vintage dan kayu kini menjadi jalan penghidupan. Ditemui Harian Jogja di workshop-nya di Suryodiningratan, Mantrijeron, Jogja, Jumat (14/9), Bimo bercerita banyak mengenai awal mengembangkan produk Aino.

Nama Aino sendiri sengaja ia pilih sebagai plesetan kata-kata dalam bahasa Inggris,  I Know dan juga merupakan singkatan dari nama anak, istri, dan nama Bimo. Ada tiga produk utama yang diproduksi Aino yakni tas, dompet kulit dalam naungan merek Aino Bags, aksesori dari limbah kayu Aino Vintage, dan juga buku jurnal vintage TJ's Journal Book by Aino. "Bentuk lambang Aino juga merupakan gabungan dari huruf penyusun Aino. Perpaduan itu membentuk suatu makhluk imajiner yang selalu mendongak ke kanan atas sebagai lambang kepercayaan diri," ujar dia kepada Harian Jogja.

Pada 2015 ia mulai membuat tas unik seperti koper kecil bervolume bergaya vintage. Namun, kala itu kesulitan mencari penyedia print yang membolehkan membawa bahan sendiri. Kalaupun ada, kualitasnya jelek. Memang pada akhirnya ada penyedia jasa print yang menerima bahan dari luar dengan kualitas cetak bagus. Sayangnya, mesin print itu kerap rusak sehingga berpengaruh pada produksi tas.

Tak lama kemudian, muncullah produk impor serupa yang jauh lebih murah karena merupakan produksi massal. Meskipun, produk inovasi itu tidak fungsional karena terbuat dari tripleks, hal itu cukup menyulitkan. Bimo langsung putar otak mencari bahan untuk tas yang lebih orisinil dan digemari pasar luar negeri. Sejak awal memang dia sudah membidik pasar luar negeri. "Akhirnya saya memutuskan untuk memakai kulit karena pasarnya potensial," ujar dia.

Ia benar-benar belajar dari nol. Bermula dengan membeli mesin jahit bekas, kemudian belajar menjahit sampai akhirnya bisa membuat sebuah tas meskipun jahitannya belum rapi. Hal itu sebagai patokan dan pengetahuannya mengenai pola dan cara membuat tas sehingga ketika ia menggandeng penjahit, ia tetap bisa mengawasi apakah produknya dibuat sesuai pesanan. "Saya memang suka yang vintage-vintage dan nyeleneh. Saya suka kulit yang warnanya seperti sudah belel dan bentuknya aneh-aneh. Pernah waktu itu saya polanya memang bentuk jahitannya tidak simetris, tetapi sama penjahitnya dibuat simetris dan saya malah diajari kalau menjahit itu harus lurus," ujar dia sembari tertawa.

Ide uniknya bisa diterima pasar meskipun tetap ada konsumen yang kurang cocok. Bahkan ada yang menyebut produk Aino dari kulit palsu karena warna yang pudar. Namun, hal itu tidak menjadi soal karena ia memang menyasar pasar yang tersegmentasi. "Kalau orang luar negeri memang suka dengan warna belel," kata dia. 

Fokus Online

Setiap bulan rata-rata ia menjual 30-40 produk Aino Bags. Konsumennya tak hanya dari Indonesia, tetapi juga luar negeri seperti Swedia, Turki, Malaysia, Singapura, India, dan beberapa negara lainnya. Ia juga bergabung dengan sebuah marketplace yang hanya menjual produk handmade, autentik, dan unik. Melalui marketplace itu produknya bisa merambah pasar luar negeri.  "Saya memang fokus jualan online saja. Enggak pameran. Karena menurut saya, dengan jualan online, justru saya bisa leluasa menjelaskan value karya yang saya buat. Dan memang penggemarnya mencari produk yang kriterianya ada di produk saya," terang dia.

Bimo menjelaskan selain tas ada juga dompet, tempat kartu, tempat paspor, hingga tempat kacamata dari kulit. Ia tidak membuat ready stock sehingga produknya selalu unik. Namun, konsumen bisa order produk yang suda diproduksi sebelumnya atau meminta desain khusus.

Ide yang melimpah di kepalanya membuat Bimo tak bisa berhenti berkarya. Sembari produksi Aino Bags tetap jalan, ia juga menghasilkan produk lain.

Pada 2017 ia mula memproduksi Aino Vintage. Ia mengakui hal itu bermula pada undangan dari panitia FKY 2017. Kala itu ia ingin menghadirkan barang yang kira-kira diminati pengunjung dan harganya tidak terlalu tinggi. Akhirnya ia memutuskan untuk membuat aksesori magnet dan gantungan kunci dari kayu-kayu bekas. "Saya sangat suka kayu. Saya enggak tega kalau kayu dibuang-buang. Jadi, saya mikir untuk membuat kayu itu menjadi sabuah produk yang kira-kira disukai konsumen," terang dia.

Lantaran sudah memiliki bekal membuat kerajinan dari kayu dan transfer foto ke kayu, ia dengan mudah membuat produk itu. Gambar dan desain ia buat sendiri. Ada pula yang dia torehkan langsung ke kayu. Rupanya produk itu laku keras. Pada FKY waktu itu, produknya terjual hingga 1.000 buah. Produk itu pun terus diproduksi sampai sekarang.

Tak berhenti di situ, pada 2018, ia kembali meramaikan FKY. Namun kali ini dengan barang yang berbeda. Ia membuat jurnal buku bergaya vintage dengan sampul dari koran. Semua proses dilakukan secara manual. Rupanya, produk ini juga diminati masyarakat. 

Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi dan banyaknya jasa pengiriman logistik membuat bisnis Aino semakin mudah terutama untuk pengiriman produk pesanan konsumen. Bimo mengungkapkan ia kerap memakai jasa pengiriman paket terutama JNE untuk menjangkau konsumennya.

"Dari dahulu memang pakai JNE. Sekarang ini kan era digital dan pengiriman barang harus lancar. Kemajuan era digital ini harus dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha dan berkarya," terang dia.

Dalam memproduksi Aino, ia dibantu saudara sepupunya yakni Witri Kusuma. Selain membantu proses produksi, Witri berperan besar dalam promosi dan pemasaran melalui media sosial.

Witri mengatakan untuk pemasaran memang difokuskan melalui sarana online. Promosi dilakukan melalui platform media sosial seperti Instagram yakni @aino.bags untuk produk dari kulit, @ainovintage untuk produk aksesori dari kayu, dan @vintagejournalbook untuk produk buku jurnal vintage (TJ's Journal Book by Aino). "Untuk model desain memang kami sesuaikan juga dengan kegemaran konsumen saat ini. Tetapi, napas vintage tetap ada," kata dia.

Momen majunya bisnis kreatif yang dilakukan para milenial di era digital ini turut ditangkap penyedia jasa pengiriman logistik. Misalnya saja JNE. Pimpinan Cabang JNE Yogyakarta Adi Subagyo mengungkapkan JNE berusaha mengikuti kebutuhan masyarakat termasuk generasi milenial.

"Wujudnya dalam bentuk penyediaan aplikasi yang memudahkan mengakses informasi kiriman, melayani pertanyaan melalui sosial media, dan saat ini JNE melayani transaksi pembayaran melalui Gopay serta OVO," kata dia.

 Selain itu, untuk mendukung kemajuan bisnis pelaku usaha, JNE secara rutin mengadakan workshop digital marketing atau sesuai kebutuhan para usaha kecil dan menengah (UKM). Kebutuhan itu antara lain manajemen keuangan atau teknik fotografi dan video produk sehingga lebih menarik minat konsumen.