Perajin Dituntut Peka Baca Pasar

Perajin Dituntut Peka Baca PasarIlustrasi mebel - Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu
25 September 2019 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—DPD Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) DIY mendorong para perajin untuk selalu berinovasi dalam menghasilkan karya sehingga selalu menjadi pilihan buyer asing.

Ketua DPD HIMKI DIY Timbul Raharjo mengungkapkan pasar luar negeri memiliki keunikan sendiri. Kebutuhan antara pasar Eropa dan Amerika Serikat juga berlainan. "Perajin harus bisa melihat kebutuhan pasar yang akan mereka sasar itu apa sehingga bisa menghasilkan karya yang pas," kata dia ketika dihubungi Harian Jogja, Selasa (24/9).

Ia mencontohkan pasar Amerika Serikat (AS) lebih unik dan berbeda dengan pasar Eropa. Pasar AS lebih menyukai barang-barang yang secara ekonomi bernilai tinggi. Produk yang memiliki kualitas tinggi dengan desain kombinasi klasik dan modern paling digemari termasuk aksesori yang semi-art.

Ia pun menganjurkan perajin lainnya untuk menyiapkan tren desain produk 2020. Para perajin didorong membuat desain baru kombinasi karena DIY memiliki sumber daya yang tidak dimiliki daerah ataupun negara lain, misalnya kayu jati. Sumber daya tersebut bisa dibuat dengan baik dengan desain yang benar-benar baru.

"Jangan ikuti desain yang sudah jalan. Kami harapkan setiap UKM di DIY punya karya yang benar-benar baru. Enggak cuma itu-itu saja sehingga orang punya pilihan desain baru dan di situ nanti akan ada ketergantungan terhadap produk dari DIY. Buyer akan datang ke kita karena ada produk baru. Itu juga yang saya lakukan. Tiap tahun beda, baik bentuk maupun teknik. Ada inovasi," kata dia. 

Industri Mebel

Timbul mengungkapkan kemajuan industri mebel tidak hanya tanggung jawab perajin saja, tetapi juga perlu campur tangan pemerintah. Menurutnya ada beberapa hal yang harus diperbaiki oleh pemerintah. Misalnya saja adanya lomba-lomba desain yang ada saat ini kurang berhasil menembus pasar internasional. "Enggak bisa diserap ekspor karena kebanyakan juri dari akademisi sehingga tidak bisa melihat pasar ekspor itu seperti apa. Desain bagus belum tentu baik dan bisa masuk pasar. Strateginya bagaimana pengusaha mebel dan orang kreatif ini diajak lihat pameran di dunia. Di sana akan lihat karya yang laku di jual seperti apa. Kalau masih produksi hal yang sama, enggak ada peluang," kata dia.

Selain itu, dari segi produktivitas juga perlu ada pembaruan karena infrastruktur permesinan sangat lemah. Orang kreatif masih kalah dengan pengusaha besar.

Kendala lainnya yakni susahnya mencari sumber daya manusia untuk industri mebel. Sekolah vokasi di Indonesia masih minim. "Ada vokasi juga SMK dan belum bisa jawab kebutuhan industri karena antara praktik dan teori masih banyak teorinya," kata dia.

Kemudian, pasar mebel dalam negeri juga perlu didorong dengan kebijakan pemerintah agar investor diwajibkan 30% menggunakan muatan lokal baik mebel, hiasan, maupun material. Jika tidak, pasar lokal bisa terancam oleh produk dari luar negeri. "Pembiayaan pameran harus tepat sasaran, misalnya yang dibiayai event-nya yang berskala internasional agar tampilan lebih maksimal. Pemerintah juga perlu membeli saham perusahaan multinasional yang sering beli produk mebel dan kerajinan. Itu kan ada outlet di luar negeri, kalau dibeli sebagian sahamnya dan diminta menjual produk kita. Regulasi untuk investasi juga jangan banyak yang menghambat. Rumit regulasinya," tutur dia. 

Perang Dagang

Berbicara soal perang dagang, Timbul mengungkapkan ada peluang yang baik untuk ekspor furnitur dari Indonesia termasuk DIY. Dengan berkurangnya produk dari Tiongkok dan pembatasan sehingga importir di AS mencari hal baru dari luar Tiongkok termasuk dari Indonesia. "DIY hampir sama, ada tamu-tamu AS masih banyak yang datang ke Indonesia utk eksplorasi barang baru. Untuk usaha saya juga paling banyak ke Amerika untuk bulan-bulan ini," kata dia.

Ia mengaku memang ada pengaruh perang dagang terhadap peningkatan ekspor produk di DIY. Timbul meraba-raba ada peningkatan sebesar 10% hingga 15%.