Ekspor Gandum Rusia Ternyata Malah Melonjak di Tengah Perang, Kok Bisa?
Rusia mengekspor sekitar 1,7 juta ton gandum pada Maret 2022.
Ilustrasi generasi milenial./techcrunch.com
Harianjogja.com, JAKARTA—Perusahaan pembiayaan didorong mulai menyalurkan dana tunai agar dapat menopang bisnis pembiayaan kendaraan yang melambat. Situasi ini diperlukan karena gaya hidup lima tahun yang lalu hingga sekarang mengalami perubahan signifikan.
Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan telah terjadi perubahan perilaku konsumen, terutama pada kalangan milenial. Golongan ini telah masuk usia produktif, tetapi tidak lagi menjadikan kendaraan bermotor sebagai kebutuhan utama. Kebanyakan dari mereka lebih suka memanfaatkan sarana transportasi online.
Hal itu, dia temukan dalam konferensi skala internasional antara perusahaan pembiayaan di Bangkok, Thailand beberapa waktu yang lalu. Di Thailand, pembiayaan otomotif turun sebesar 6% secara tahunan, tetapi pembiayaan dana tunai terus menunjukkan pertumbuhan. Sementara itu, di Eropa, pembiayaan otomotif terbesar masih dipegang oleh Jerman 60%, sisanya pembiayaan terbesar justru berasal dari dana tunai.
“Saya harap kita semua sebagai pelaku usaha pembiayaan dapat melihat ini. Kalau kita hanya biasa-biasa saja menghadapi ini, suatu saat portofolio kita bisa hilang apalagi fokus konsentrasi kita hanya di pembiayaan yang tidak kemana-mana yaitu, otomotif dan alat berat,” katanya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), dalam sosialisasi APPI pekan lalu.
Padahal, lanjutnya, POJK yang baru (POJK No.35/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan) telah memperluas kegiatan usaha multifinance, terutama untuk pembiayaan modal kerja berupa fasilitas modal kerja atau fasilitas dana. Hal itu juga sejalan dengan upaya OJK untuk mendorong pembiayaan produktif.
Sebenarnya hampir seluruh perusahaan sudah masuk ke pembiayaan produktif, tetapi tidak mau disiplin dalam melakukan sub klasifikasi. Klasifikasi yang dilakukan sebatas pembiayaan investasi, modal kerja, dan multiguna. “Tolong kita disiplin dalam melakukan subklasifikasi tersebut. Kalau disiplin, kita bisa melakukan penggolongan sektor mana yang bisa dekat dengan industri tersebut, misalnya ekonomi kreatif dan pariwisata,” tuturnya.
Berdasarkan data OJK, piutang pembiayaan untuk barang produktif mencapai Rp123,05 triliun per Juli 2019, tumbuh sebesar 5,84% (year on year). Dalam periode yang sama, piutang pembiayaan barang konsumtif mencapai Rp311,19 triliun, tumbuh 4,74% (yoy). Artinya, kendati penyaluran pembiayaan konsumtif masih lebih besar nilainya, tetapi pembiayaan produktif lebih besar pertumbuhannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
Rusia mengekspor sekitar 1,7 juta ton gandum pada Maret 2022.
Pemkab Bantul memantau harga pangan usai rupiah melemah. Sejumlah komoditas lokal masih aman, warga diminta tidak panic buying.
Banjir Semarang 2026 melanda Tugu dan Ngaliyan. 313 KK terdampak, satu lansia hilang, tanggul Sungai Plumbon jebol.
Lonjakan penumpang KA Daop 6 Yogyakarta naik hingga 91% saat libur panjang. KAI tambah 7 perjalanan kereta.
DPRD DIY soroti dokumen renovasi Mandala Krida yang belum lengkap. MC-0 dan DED 2026 terancam tertunda.
SPMB Sleman 2026 dibuka dengan jalur prestasi, domisili, afirmasi, dan mutasi. Ini syarat dan ketentuan lengkapnya.