Konsumen Optimistis Perekonomian DIY Makin Baik

Konsumen Optimistis Perekonomian DIY Makin BaikKepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hilman Tisnawan ketika ditemui di ruangannya, Jogja, Jumat (9/8)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
23 November 2019 10:27 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Konsumen meyakini kondisi perekonoman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam enam bulan ke depan semakin baik. Survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia DIY pada Oktober 2019 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian DIY tetap terjaga pada level optimis. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Hilman Tisnawan mengunkapkan optimisme itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2019 sebesar 144,1, jauh di atas batas indeks 100. Indeks tersebut terpantau sedikit terkoreksi 0.3 poin dari indeks bulan sebelumnya, namun naik 11,1 poin dari indeks bulan yang sama tahun lalu. "Tetap terjaganya optimisme konsumen ini ditopang oleh optimisme terhadap kondisi ekonomi saat ini dibandingkan enam bulan yang lalu, dan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi dalam enam bulan mendatang," kata dia, Jumat (22/11).

Pada Oktober 2019, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) terjaga pada level optimis, meski sedikit terkoreksi 0,8 poin dari capaian September 2019 menjadi 135,5. Tetap terjaganya optimisme ini diperkuat oleh keyakinan sebagian besar responden kegiatan usaha saat ini relatif membaik dibandingkan enam bulan yang lalu.

Sementara, terkoreksinya IKE dimotori menurunnya keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini, tetapi tetap terjaga dalam level optimis, dengan indeks 134,0. Keyakinan konsumen untuk membeli barang tahan lama (durable goods) dan ketersediaan lapangan pekerjaan, menguat dibandingkan bulan sebelumnya. "Peningkatan pembelian durable goods terutama terjadi pada jenis barang kendaraan berupa sepeda motor/mobil," ujar dia.

Konsumen juga optimistis enam bulan ke depan (April 2019) kondisi ekonomi DIY membaik, yang terindikasi dari naiknya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 0,2 poin menjadi 152,7. Kenaikan IEK dimotori meningkatnya Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Pekerjaan sebesar 4,5 poin ke level 148,5. "Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan/proyek pemerintah/swasta dan membaiknya kondisi ekonomi yang diperikirakan mendorong masuknya aliran dana investasi asing ke Indonesia sehingga jumlah perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri semakin bertambah," papar dia.

Seiring dengan penguatan ekspektasi ketersediaan lapangan pekerjaan, konsumen meyakini adanya kenaikan penghasilan pada enam bulan mendatang. Kondisi ini terkonfirmasi dari Indeks Ekspektasi Penghasilan Konsumen pada Oktober 2019 sebesar 154,0, yang ditengarai didorong oleh adanya kenaikan/tambahan gaji/upah dan kenaikan omzet usaha pada enam bulan ke depan dibandingkan saat ini, meski dengan level indeks yang sedikit terkoreksi sebesar 3,5 poin dibandingkan indeks bulan sebelumnya.

Berdasarkan persepsi konsumen, optimisme terhadap ekspektasi penghasilan juga dipengaruhi oleh keyakinan bahwa kegiatan usaha ena bulan mendatang relatif membaik dibandingkan saat ini, yang terkonfirmasi oleh Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha sebesar 155,5, jauh di atas batas indeks 100. "Kondisi ini diperkirakan didorong oleh pembiayaan perbankan yang relatif mudah, serta subsidi/insentif dari pemerintah dan perbaikan infrastruktur yang relatif meningkat," tutur dia. 

Tekanan Harga

Pada periode tiga bulan yang akan datang (Januari 2020), konsumen memperkirakan adanya kenaikan harga dibandingkan saat ini, yang terutama dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan barang/jasa pada periode tahun baru. Hasil survei mengindikasikan tekanan harga pada Januari 2020 diperkirakan lebih rendah dari Desember 2019 (mtm), seiring dengan telah berlalunya momen hari raya keagamaan (Natal).

Tekanan harga pada Januari 2020 juga diperkirakan lebih rendah dari Januari 2019 (yoy). Kondisi ini tercermin dari Indeks Ekpektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang yang berada pada level 165,0, turun 5,0 poin dari indeks bulan sebelumnya, dan turun 2,3 poin dari indeks bulan yang sama tahun lalu.

 Kenaikan harga dibandingkan saat ini diperkiraan juga terjadi pada enam bulan mendatang (April 2020), yang ditengarai didorong oleh kenaikan tarif dasar listrik sejak awal 2020. Dari hasil survei, tekanan harga pada April 2020 diperkirakan lebih rendah dibandingkan Maret 2020 (month to month/mtm), tetapi lebih tinggi dari April 2019 (year on year/yoy).

Hal ini tercermin dari Indeks Ekpektasi Harga (IEH) enam bulan mendatang yang berada pada level 178,0, turun 3,5 poin dari indeks bulan sebelumnya, dan naik 5,1 poin dari indeks bulan yang sama tahun lalu. Sejalan dengan penurunan persepsi terhadap penghasilan pada Oktober 2019 dibandingkan enam bulan sebelumnya, rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) menurun menjadi 64,0% dari 65,5% pada September 2019.

Sementara proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) meningkat menjadi 18,1% dari 17,5% pada bulan sebelumnya. Survei juga menunjukkan bahwa proporsi pembayaran cicilan pinjaman terhadap pendapatan (debt service to income ratio) meningkat menjadi 18,0% dari 17,0% pada September 2019.