Harga Jagung Naik, Peternak Berpotensi Afkir Dini, Berapa Harga Ayam?

Harga Jagung Naik, Peternak Berpotensi Afkir Dini, Berapa Harga Ayam?Ilustrasi ternak ayam. - Bisnis/Rachman
14 Januari 2020 10:22 WIB Iim Fathimah Timorria Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–Kalangan peternak ayam petelur menyatakan opsi afkir dini pada ayam produktif berpotensi dilakukan dalam waktu dekat. Upaya ini dilakukan demi menekan biaya produksi di tengah tren kenaikan harga jagung yang berlanjut. 

Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional Musbar Mesdi mengemukakan aksi afkir pada ayam petelur berusia 80 pekan kemungkinan bakal terjadi pada Februari sampai Maret. Dia memperkirakan harga jagung bakal berada di level tertingginya pada periode ini mengingat panen raya yang kemungkinan besar bakal mundur akibat kemarau berkepanjangan pada 2019 lalu.

Musbar mengemukakan harga jagung pipil kering saat ini berkisar di harga Rp4.700–Rp5.200 per kilogram (kg) di berbagai daerah. Dia memperkirakan harga jagung akan kembali normal setidaknya pada April mendatang.

Kenaikan harga disebutnya mulai terasa sejak pekan ketiga Desember 2019. Harga normal jagung sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan No.96/2018 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen, dipatok di angka Rp3.150–Rp4.000 per kg untuk jagung pipil kering dengan kadar air 15%.

"Panen raya kemungkinan baru ada ketika Februari sampai Maret untuk lahan ladang, kadar airnya 27 persen–30 persen. Padahal proses pengeringan dan transportasi sendiri paling tidak membutuhkan waktu tiga minggu sehingga harga jagung akan kembali normal pada April," ujarnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Senin (13/1).

Afkir dini kerap menjadi alternatif peternak layer dalam mengendalikan populasi dan produksi telur. Pada umumnya, peternak akan meremajakan pada ayam layer yang telah memasuki usia 80 pekan.

Kendati demikian, Musbar mengatakan masa pemeliharaan bisa lebih panjang sekitar 12–16 pekan menjadi 96 pekan akibat kondisi genetik yang membaik. Produksi telur pun meningkat dari 280–320 butir per ekor menjadi 380–400 butir telur per ekor.

Kontribusi jagung pada biaya produksi telur pun disebut Musbar amatlah besar, sekitar 65% dari total biaya untuk setiap kg telur yang dihasilkan. Seiring dengan naiknya harga jagung, harga telur di tingkat peternak pun menyentuh level Rp19.000–Rp22.000 per kilogram. Lebih tinggi dari harga acuan yang ditetapkan dalam Permendag No.96/2018 sebesar Rp18.000–20.000 per kilogram.

 

Revisi Harga

Melihat fenomena ini, Musbar pun mendesak pemerintah untuk segera menetapkan surat keputusan revisi atas harga acuan dalam Permendag tersebut. Pada Desember lalu, dia mengatakan asosiasi peternak bersama Kementerian Perdagangan telah sepakat untuk mengevaluasi rentang harga telur, daging ayam, dan jagung.

Dalam revisi tersebut, Musbar mengemukakan harga maksimal jagung yang berada di angka Rp4.000 per kg direvisi menjadi Rp4.500 per kg. Sementara itu, harga telur direvisi menjadi Rp19.000–Rp21.000 per kg demi mengakomodasi kepentingan peternak yang harus mengelurkan biaya produksi lebih besar akibat harga jagung yang terus naik.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suhanto membenarkan telah sepakat untuk merevisi harga acuan pembelian di tingkat petani dan harga acuan penjualan di tingkat konsumen seusai pembahasan Rapat Koordinasi Terbatas bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 18 Desember 2019.

"Rancangan Permendag yang akan merevisi harga daging ayam ras, telur ayam ras, serta jagung dan menambahkan harga acuan bibit ayam [DOC] sebagai komoditas," kata Suhanto dalam pesan tertulis kepada JIBI, Senin.

Suhanto mengemukakan rancangan permendag harga acuan tersebut saat ini telah diajukan ke Kementerian Hukum dan HAM. Dalam tahapan tersebut, sejumlah kementerian dan lembaga terkait bakal diundang untuk proses harmonisasi.

Sumber : Bisnis Indonesia