Bali & Jogja Lokasi Ciamik Buat Co-Living, Ini Dasarnya

Bali & Jogja Lokasi Ciamik Buat Co-Living, Ini DasarnyaIlustrasi hotel - JIBI
24 Januari 2020 10:22 WIB Mutiara Nabila Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–Perkembangan properti co-living semakin pesat dengan terus bertambahnya permintaan, terutama di kota-kota besar. Selain di Jakarta sebagai pusat bisnis, Bali dan Jogja juga menjadi lokasi pilihan untuk mengembangkan bisnis co-living. Kedua daerah ini berpotensi karena menjadi salah satu tujuan daerah wisata. 

Director Research Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan saat ini Bali menjadi salah satu wilayah yang cukup prospektif untuk perkembangan properti co-living. Pasalnya banyak kunjungan wisatawan asing yang berkunjung ke Bali untuk berwisata sambil bekerja. “Justru di Bali itu yang aslinya co-living. Isinya komunitas, banyak bule kerja sambil liburan, atau bahasanya digital nomads. Mereka banyak yang cari penginapan untuk jangka panjang, dan terbiasa hidup komunal bersama orang lain untuk saling bertukar pikiran, membuka wawasan,” ujarnya saat ditemui Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Rabu (22/1).

Selain itu, Jogja juga menjadi lokasi yang cukup potensial untuk perkembangan co-living lantaran sebagai kota pendidikan dan banyak perusahaan rintisan berbasis teknologi yang berkembang di sana. “Dari perusahaan-perusahaan rintisan itu muncul juga banyak permintaan untuk hunian co-living,” imbuhnya.

Anton melanjutkan selain di tiga kota tersebut, pertumbuhan co-living di wilayah lain belum terlalu potensial dan belum bisa berkembang pesat. Namun, suatu kota juga bisa menjadi lokasi pilihan bagi properti co-living selama memiliki potensi pariwisata yang besar. “Memang ada kaitannya dengan industri wisata, karena bisa mengundang wisatawan mancanegara maupun domestik untuk kerja sambil liburan di sana, yang enggak hanya di Bali,” lanjutnya.  

Faktor Pembeda

Guna membedakan dengan kamar indekos biasa, menurut Anton, co-living harus tampil lebih moderen, misalnya dengan mengaplikasikan beragam perangkat teknologi seperti wi-fi atau menerapkan konsep smart house.

Kemudian, penyedia properti co-living juga harus mengelola propertinya secara lebih profesional. Tak hanya menyediakan tempat untuk menginap dan menyewa hunian, tetapi membuat kegiatan dan acara seperti acara networking atau lokakarya.

Menurut Anton, kisaran harga Rp1 juta-Rp3 juta masih cukup terjangkau dan tidak jauh berbeda bagi properti co-working yang membidik pasar asing maupun lokal. Sebab kebanyakan penyewa dari warga negara asing pun umumnya wisatawan backpacker atau dengan bujet minimalis.

Konsumen juga perlu memperhatikan apakah hunian co-living yang akan disewa hanya merupakan gimmick pemasaran atau memang benar-benar hunian co-living. Karena tinggal di co-living harusnya juga memberikan banyak manfaat dari komunitas yang terbentuk bagi penghuninya.  

Masih Panjang

Senior Associate Director Residential Tenant Representation Colliers International Indonesia Lenny Sinaga mengatakan Jakarta masih menjadi pilihan utama bagi pencari co-living, terutama untuk pasar lokal. “Menurut saya co-living akan tetap berkonsentrasi di Jabodetabek karena koneksi dengan kualitas hidup, bisnis, hiburan, komunitas, dan lainnya yang berkaitan dengan gaya hidup generasi milenial, sampai saat ini masih kuat disana,” ungkapnya kepada JIBI, Kamis (23/1).

Konsentrasi perkembangan co-living di Jakarta dan sekitarnya dinilai Lenny akan berlangsung sampai beberapa tahun ke depan. Pasalnya, co-living membanderol dengan harga lebih premium dan baru bisa dijangkau oleh orang-orang yang bekerja di kota besar dan perusahaan besar.

Dengan masih lekatnya pandangan kebanyakan orang pada konsep co-living dengan kamar indekos, penyedia jasa co-living harus melakukan beberapa hal agar bisa membedakan properti co-living dengan kamar indekos. “Yang perlu dilakukan menurut saya properti co-living hrus terlihat lebih simpel dan modern, menawarkan high quality community misalnya karena diisi oleh profesional muda sehingga penghuni bisa saling bertukar pikiran, menyediakan tempat bekerja, fasilitas lengkap dan akses transportasi mudah seperti ke MRT misalnya,” lanjutnya.

Kemudian, dengan harga sewa apartemen di tengah kota yang sudah semakin mahal, Lenny yakin properti co-living akan makin berkembang. Terutama karena generasi milenial umumnya mencari hunian yang pembayarannya lebih hemat dan mudah, bisa mingguan atau bulanan dan bisa berbagi hunian dengan orang lain.

Sumber : Bisnis Indonesia