BI Sebut Tekanan Inflasi DIY Mereda

BI Sebut Tekanan Inflasi DIY MeredaIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
06 Februari 2020 08:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bank Indonesia melihat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY semakin solid. Hal itu terlihat dari kondisi inflasi DIY yang mereda. Tekanan inflasi DIY pada Januari 2020 tercatat menurun menjadi 0,27% month to month (mtm) dari sebelumnya 0,46% (mtm). 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hilman Tisnawan mengatakan dengan realisasi tersebut, laju inflasi DIY pada awal 2020 tercatat 2,57% year on year (yoy), lebih rendah dibanding inflasi nasional, yaitu 2,68% (yoy). "Hal tersebut menunjukkan upaya TPID DIY dalam mengendalikan inflasi semakin efektif. Program pengendalian harga yang dilakukan secara bersama-sama, antara lain aktivasi pasar lelang cabai, menunjukkan soliditas antarinstansi yang tergabung dalam TPID DIY," kata dia, Rabu (5/2).

Pada  2020, Bank Indonesia bersama TPID DIY berkomitmen untuk terus memantau perkembangan harga dan kecukupan stok pangan. Bank Indonesia dan TPID juga akan meningkatkan sinergi dan koordinasi antar lembaga sebagai upaya dalam menjaga stabilisasi harga. Dengan demikian diharapkan inflasi DIY pada 2020 dapat tercapai sesuai target sasaran sebesar 3% plus minus 1% (yoy).

Ia menjelaskan inflasi yang terjadi pada Januari 2020 terutama disebabkan peningkatan tekanan inflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau; sementara kelompok transportasi menjadi komponen penahan laju inflasi yang paling dominan. Kelompok makanan, minuman dan tembakau tercatat mengalami inflasi 1,39% (mtm), terutama berasal dari tekanan inflasi pada komoditas aneka cabai, minyak goreng, dan beras.

Lonjakan harga cabai merah (47,11%; mtm) dan cabai rawit (39,11%; mtm) terjadi karena penurunan pasokan akibat siklus pertanian yang masih berada pada masa tanam yang turut diperlemah dengan faktor curah hujan yang tidak menentu. Pada PIHPS terpantau harga cabai merah dan cabai rawit pada Januari 2020 mencapai angka tertinggi hingga masing-masing sebesar Rp67.500 per kilogram (kg) dan Rp61.000 per kg.

Peningkatan harga minyak goreng (5,89% mtm) dipengaruhi kenaikan harga bahan baku, yakni minyak kelapa sawit yang kembali meningkat pada Januari 2020 akibat faktor seasonal dan permintaan untuk produksi biodiesel. Kenaikan harga beras (1,27% mtm), yang terjadi akibat penurunan suplai seiring masuknya masa tanam di awal triwulan I/2020, turut memberikan andil terhadap inflasi subkelompok makanan. Sementara itu, komoditas telur ayam ras mengalami deflasi (2,92%; mtm) seiring dengan menurunnya permintaan pasca perayaan hari besar keagamaan dan tahun baru. Pada PIHPS, harga terpantau berada pada level Rp22.000 per kg.

Di sisi lain, kelompok transportasi mengalami deflasi 1,22% (mtm), disebabkan turunnya harga tarif angkutan udara, bensin, dan tarif kereta api. Penurunan harga tarif angkutan udara (7,56%; mtm), dengan kontribusi deflasi terbesar, dan tarif kereta api (3,80%, mtm) terjadi seiring dengan berakhirnya peak season masa liburan anak sekolah dan liburan Nataru. Selain itu, penurunan harga komoditas bensin (1,48%; mtm) terjadi selaras dengan adanya penyesuaian harga bahan bakar jenis bensin nonsubsidi yang diterapkan sejak 5 Januari 2020.