Pengusaha Dorong Pemerintah Dukung Ekspor

Pengusaha Dorong Pemerintah Dukung EksporKapal kargo melakukan bongkar muat di terminal petikemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/4/2018). - Bisnis Indonesia
08 Februari 2020 11:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pengusaha di DIY mendorong pemerintah untuk konsen terhadap ekspor yang mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.

Ketua Aliansi Pengusaha Nasional (Apnas) DIY, Mirwan Syamsudin Syukur mengatakan pemerintah terutama Pemerintah Pusat, harus menyikapi penurunan ekspor yang terjadi, disamping juga daya beli masyarakat yang menurun. “Usaha sekarang sangat sulit. UKM kita bisa gulung tikar kalau seperti ini terus. Sekarang harga bahan baku naik, transportasi juga mengalami kenaikan. Ini berat, Pemerintah Pusat harus mengambil sikap,” kata Mirwan, Jumat (7/2).

Ia berharap adanya kemudahan kucuran dana dari perbankan, untuk membantu dunia usaha. Kemudahan dana tersebut akan membantu pengusaha, sehingga tidak akan kalah bersaing dengan produk dari Thailand, Filipina.

“Pemerintah daerah juga mendukung tidak hanya pembinaan, tetapi juga fasilitasi misalnya kredit diperlancar, suku bunga rendah. DIY potensi besar tetapi biaya produksi masih tinggi di Indonesia ini,” katanya.

Mirwan juga mendorong kejelasan terkait omnibus law yang direncanakan pemerintah dapat segera selesai dan jelas. Menurutnya omnibus law ini terlalu lama, membuat dunia usaha sulit untuk melangkah ke depan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Heru Margono mengatakan nilai ekspor DIY Desember 2019 mencapai US$36,9 juta [Rp505,2 miliar] naik 10,81% dibanding bulan sebelumnya. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari-Desember 2019 mencapai US$403,9 juta [Rp5,5 triliun] atau turun 4,90% dibanding periode yang sama 2018. “Selama periode Januari-Desember 2019, Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang menjadi pangsa pasar ekspor terbesar mencapai 57,56 persen,” ujarnya.

Tiga besar komoditas utama ekspor dari DIY Desember 2019 adalah pakaian jadi bukan rajutan mencapai US$15,7 juta [Rp214,19 miliar], disusul perabot, penerangan rumah US$4,6 juta dan barang-barang rajutan  US$3,5 juta [Rp47,9 miliar].