Terdampak Corona, OJK Siapkan Insentif bagi Industri keuangan

Terdampak Corona, OJK Siapkan Insentif bagi Industri keuanganKaryawan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beraktivitas di ruang layanan Konsumen, Kantor OJK, Jakarta, Senin (23/10). - Antara/Akbar Nugroho Gumay
26 Februari 2020 08:22 WIB Muhammad Khadafi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Ketua Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso berjanji memberikan insentif kepada industri keuangan. Upaya ini untuk meminimalkan dampak wabah Covid-19. 

Seperti diketahui virus yang telah menginfeksi lebih dari 80.000 orang ini dipastikan akan menggangu laju perekonomian dalam negeri. Namun, Wimboh belum dapat memberikan rincian mengenai stimulus yang dimaksud. Dia hanya memastikan kebijakan dari otoritas akan memberikan ruang bagi sektor riil dan keuangan untuk menyerap dampak Covid-19.

“Ya nanti tunggu. Akan ada stimulus, sehingga tidak terlalu memberikan negatif impact kepada sektor keuangan dan ekonomi secara keseluruhan,” katanya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (25/2).

Wimboh melanjutkan industri keuangan lazimnya akan merasakan imbas secara gradual setelah sektor riil tertekan. Dia mencontohkan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) biasanya akan muncul sekitar tiga bulan setelah sektor rill terganggu.

Saat ini sektor industri telah melaporkan sejumlah gangguan akibat Covid-19. Satu di antaranya adalah terhambatnya arus bahan baku yang diimpor dari China hingga tarif impor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang sempat menyampaikan harga baja impor terkena dampak virus Covid-1. Sementara waktu baja yang dipasok dari China tak lagi dikenakan harga berdasarkan perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement antara China dan negara-negara ASEAN.

Namun secara kuantitas pasokan impor baja dari China belum terkendala. Industri menyesuaikan diri dengan harga yang lebih mahal tersebut.

Sementara itu kesulitan bahan baku terjadi pada industri elektronik. Pasalnya ketergantungan bahan baku Indonesia dari China terkait sektor tersebut terbilang tinggi. Bila dirinci, bahan baku untuk televisi dari China berkisar 60% hingga 80%. Kemudian pendingin udara, kulkas, dan mesin cuci sekitar 50%.

Hal ini pada kondisi terburuk akan memaksa pelaku usaha menaikan harga jual. Lebih parah lagi hal ini bisa berimbas pada pengurangan karyawan.

Sumber : Bisnis Indonesia