PHRI DIY Turut Tunda Ekspansi Kamar Hotel

PHRI DIY Turut Tunda Ekspansi Kamar HotelIlustrasi pembangunan hotel - JIBI
03 Maret 2020 07:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY sependapat dengan PHRI pusat, terkait dengan penundaan ekspansi atau menambah kamar hotel tahun ini. Keputusan itu diambil karena terjadinya oversupply kamar hotel yang tidak berbanding lurus dengan okupansi.

“Kami sependapat dengan PHRI pusat, maka di DIY kita berharap ada pemetaan daerah untuk yang masih bisa dan tidak. Termasuk kriteria hotel yang diperlukan. Contoh moratorium di kota dilanjutkan kecuali bintang empat dan lima dan homestay. Namun inipun perlu adanya kajian-kajian yang dalam untuk aspek ekonominya. Serta Kulonprogo, Gunungkidul yang belum mempunyai hotel bintang,” kata ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, Senin (2/3).

Ia mengatakan keputusan itu dengan dasar melihat situasi dan kondisi saat ini. Pihaknya harus melihat kebutuhan dan pasar yang ada di daerah. Selain harus melihat dari sisi dampak ekonominya untuk menjaga persaingan yang sehat. “Kondisi saat ini dengan adanya isu Virus Corona yang mengglobal sangat berat sekali. Selain juga ekonomi dunia saat ini,” ucapnya.

Deddy berharap segera diterapkannya ke daerah untuk nol pajak hotel dan restoran. “Kebijakan Pemerintah Pusat itu dengab regulasi dan juknis [petunjuk teknis] yang jelas, agar hal ini bisa membantu promosi destinasi DIY untuk wisman maupun wisnus. Kita berharap promosi dalam negeri lebih digalakkan lagi baik meeting incentive convention exhibition (MICE) mau wisatanya,” katanya.  

Tindakan Tepat

Pengamat Pariwisata UGM, Prof. Baiquni mengatakan jika melihat kondisi saat ini bisa saja keputusan penundaan ekspansi menjadi hal yang tepat. “Mungkin untuk waktu sekarang bisa lebih fokus untuk perbaikan yang sudah ada dahulu serta konsolidasi dengan unsur pentahelix,” kata Prof. Baiquni.

Dia tidak mengungkapkan secara detail, bagaimana ketercukupan pemenuhan kamar hotel, dan idealnya berapa. Namun, menurutnya saat ini sudah cukup banyak hotel di Jogja. Termasuk cukup banyak homestay yang dikembangkan masyarakat. Khusus homestay, ia memberi catatan beberapa memang perlu ditingkatkan standarnya. “Standarnya harus menjadi perhatian, kualitas pelayanan, aksesbilitas masyarakat,” ucapnya.

Dikatakannya juga peluang untuk mengisi kamar-kamar hotel di DIY cukup besar. Hal itu karena orang yang berkunjung ke DIY tidak hanya orang yang berwisata. Banyaknya perguruan tinggi, menjadi peluang untuk mengisi kamar-kamar tersebut.